Kesetaraan Gender Kunci Tercapainya Pembangunan Berkelanjutan

Editor: Satmoko

231

MAUMERE – Kesetaraan gender merupakan kunci tercapainya pembangunan berkelanjutan. Di dalam kesepakatan global yang ditandatangani para kepala negara terdapat poin kelima yang berbicara tentang kesetaraan gender serta terdapat pada poin lainnya yang menyangkut kesejahteraan manusia.

“Terkait perempuan dan anak di tataran dunia, pada tahun 2016, para kepala negara telah menyepakati ‘Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan tujuan dari program pembangunan dunia untuk peningkatan kesejahteraan dan pembangunan yang berkelanjutan,” sebut Siti Eka Rahayu, Sabtu (21/4/2018).

Kepala Biro Pernecanaan Data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan (PP PA) Anak RI ini menyebutkan, di dalam 17 goal yang telah disepakati, goal kelima yakni tentang Kesetaraan Gender mencakup penghapusan diskriminasi terhadap perempuan.

“Selain itu, goal kelima juga berbicara tentang penurunan tingkat kekerasan, penghapusan praktik yang membahayakan pada perempuan, pengakuan atas pekerjaan yang tidak dibayar, perempuan dalam politik dan pengambilan keputusan,” ungkapnya.

Goal kelima, tambah Siti, juga berbicara tentang akses pada pelayanan kesehatan reproduksi, akses pada sumber daya ekonomi, peningkatan kemampuan dalam kemajuan teknologi, dan penguatan kebijakan untuk kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan.

“Selain tercantum secara mandiri pada goal kelima, aspek kesetaraan gender juga tercantum pada lima belas goal yang lain, yang menyangkut kesejahteraan manusia,” terangnya.

Dengan demikian, sebut Siti, dapat dikatakan bahwa, kesetaraan gender merupakan salah satu kunci tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ini. Selanjutnya, target SDGs Tahun 2015-2030 menuju gender equality melalui program  Planet 50:50 pada tahun 2030 nanti.

Demo yang dilakukan TRuK-F mempersoalkan kekerasan terhadap perempuan dan anak di kabupaten Sikka yang terus meningkat. Foto : Ebed de Rosary

“Sebagai bentuk komitmen atas kesepakatan global serta pelaksanaan agenda prioritas Kabinet Kerja, pada tahun 2016 Kementerian PP-PA telah mencanangkan “Three Ends (Tiga Akhir) dengan tujuan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak,” jelasnya.

Selain itu, mengakhiri perdagangan orang, sambung Siti, khususnya perempuan dan anak, serta mengakhiri ketidakadilan akses ekonomi bagi perempuan.

“Semula Three Ends hanyalah sebuah kemasan program yang biasa-biasa saja, yang terjadi kemudian lahirnya semangat dan antusiasme dari berbagai pihak yang mendukung dan ini sangat luar biasa,” sebutnya.

Ini sebuah tanggapan yang luar biasa, kata Siti, dimana semua pihak termasuk Dinas PP-PA merasa terbantu mencapai visi mereka melalui Three Ends. Kata akhiri pada poin ketiga, lebih dimaknai sebagai upaya mempersempit peluang terjadinya kekerasan, termasuk perdagangan orang dan ketidakadilan akses ekonomi bagi perempuan.

“Three Ends adalah kata kerja dari semangat Nawa Cita dan menjadi salah satu jawaban untuk menghadirkan negara di tengah masyarakat serta menjadi strategi untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi perempuan dan anak,” ungkapnya.

Three Ends, beber Siti, menjadi sebuah medan jangkauan sangat besar dan luas, karena meliputi 125,5 juta perempuan dan 82,9 juta anak di seluruh pelosok Nusantara.

Koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (Truk-F) Suster Eustochia, SSpS mengungkapkan, di kabupaten Sikka sepanjang tahun 2013-2015 terdapat 124 perempuan dan 199 anak-anak yang menjadi korban kekerasan.

Pada tahun 2013, sebut Suster Euctochia, 42 perempuan dan 55 anak menjadi korban kekerasan. Jumlah korban dari kategori anak meningkat dibandingkan dengan tahun 2014 menjadi 77 anak, sementara korban perempuan turun menjadi 37 orang.

“Untuk tahun 2015, jumlah korban tidak mengalami perubahan signifikan yakni 45 perempuan dan 67 anak. Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tersebut meliputi kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan penelantaran rumah tangga,” jelasnya.

Khusus untuk pemerkosaan, lanjut Suster Eustochia, selama tiga tahun tersebut Truk-F mencatat terdapat 42 orang perempuan yang menjadi korban. Kasus pemerkosaan juga menimpa anak-anak dimana terdapat 43 anak yang turut menjadi korban pemerkosaan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.