Kisah MUI Serahkan Sumbangan untuk Rakyat Palestina

Editor: Irvan Syafari

343
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi-Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) memenuhi undangan dari Presiden Palestina, Mahmud Abbas untuk menghadiri konferensi kesembilan pembebasan Alqudus di Ramallah, Palestina pada 11-13 April 2018 lalu.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi mewakili MUI menghadiri undangan tersebut. Pada Rapat Pimpinan (Rapim) MUI, Muhyiddin pun melaporkan hasil kunjungannya tersebut.

“Sangat disayangkan semua peserta dari mancanegara tidak diperbolehkan masuk ke Ramallah, Palestina, oleh Israel,” kata Muhyiddin ditemui usai Rapim di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Dia menjelaskan, secara politis keamanan di Palestina dipegang oleh Israel, sehingga peserta dari Indonesia terpaksa tinggal di Wisma Indonesia di Amman, Yordania.

“Selama  berada di Amman, saya terpaksa tinggal di Wisma Indonesia bersama Dubes,” ujarnya.

Kemudian lanjut dia, dirinya meminta Mufti Palestina, Muhammad Ahmad Alhusaeni untuk mengirim utusan sekaligus menerima sumbangan dari MUI sekitar 120 ribu USD, yang apabila dirupiahkan senilai Rp1,5 miliar.

“Beliau (Mufti Palestina) datang ke Amman, dan kami pun serahkan sumbangan itu. Sayangnya uang itu tidak bisa disimpan ke rekening mereka karena Bank Yordan dan Mesir menolak, takut,” jelas Muhyiddin.

Kemudian beliau membawa uang tersebut dan diserahkan kembali ke MUI. Demi keamanan uang itu disimpan di KBRI.

“Begitulah kondisi muslim bangsa Palestina di negaranya sendiri. Mereka mengundang kami untuk konferensi, tapi mereka tidak punya hak untuk mengizinkan kami masuk ke dalam. Ini sangat menyedihkan dan sulit,” ungkap Muhyiddin.

Menurutnya, ada tiga negara yang masih sangat kuat mendukung Palestina, yaitu Indonesia, Turki, dan Yordania. Sedangkan dukungan dari negara Arab lainnya dinilai melemah apalagi dengan politik global saat ini.

Dalam pertemuan dengan Mufti Palestina, mereka menyarankan agar Indonesia selain membangun rumah sakit di Gaza di tepi barat. Karena di tepi barat itu masih ada sekitar 2000-3000 meter persegi lahan kosong, mengingat umat Muslim sangat membutuhkan.

“Sekitar 3 juta US dolar direalisasikan untuk membangun rumah sakit Islam di sana,” ujarnya.

Karena kata dia, kalau para pejuang Palestina itu tertembak dibawa ke rumah sakit umum itu pasti ditangkap dan ditahan minimal tiga bulan. Tapi kalau ke rumah sakit Islam tak akan ditangkap.

Rakyat Indonesia, kata Muhyiddin akan tetap merespon karena masih ada dana sekitar Rp1,5 miliar lagi yang akan diserahkan ke MUI.

MUI akan wujudkan niat dan harapan mereka memiliki rumah sakit. “Kita akan melakukan pengumpulan dana sekitar Rp 50 miliar. Mudah-mudah bisa didengar oleh saudara-saudara Muslim Indonesia yang ingin membantu,” ujar Muhyiddin.

Segala upaya tersebut, menurut dia, adalah untuk mewujudkan harapan rakyat Palestina meraih kemerdekaan dari penjajahan Israel.

Baca Juga
Lihat juga...