Kisah Pilu Warga Perbatasan Soal Akses Kesehatan

232
Ilustrasi. Dokumentasi CDN

KUPANG – Pagi itu suasana di Desa Netemnanu Utara, Kecamatan Amfoang Timur Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur berbeda dari biasanya.

Puluhan pasukan TNI baik dari TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Laut berkumpul di desa yang berbatasan langsung dengan wilayah kawasan konflik lahan antara Warga Indonesia di desa itu dengan warga dari Timor Leste.

Di tengah keramaiannya itu duduk seorang wanita separuh baya bernama Elisabeth Bois Lilis (48), mengenakan baju motif berwarna merah muda. Di bahu kirinya ada sepotong selendang yang digunakan melingkar dari mulai bahu hingga bagian bawah perutnya.

“Kalau ada anak saya yang ketiga pasti dia akan senang sekali melihat TNI-TNI ini,” kata Elisabeth dengan suara agak melirih dan muka muram.

Ia mengaku anak ketikanya itu meninggal saat berusia tiga tahun karena minimnya perawatan di puskesmas yang ada di desa tersebut.

Anaknya bernama Ansel itu meninggal karena terserang demam berdarah setahun yang lalu, ketika hendak dirujuk ke rumah sakit umum WZ Johanes Kupang.

Sambil menarik nafasnya saat pertama kali terkenal sakit, ia dan suaminya berpikir bahwa hanya sakit biasa saja. Namun saat selang empat hari panas badanya makin tinggi sehingga pihak Puskesmas setempat menganjurkan untuk dirujuk ke Kota Kupang karena fasilitas kesehatan di sana lengkap.

Elisabeth dan suaminya pun sepakat untuk secepatnya membawa ke Kupang. Jarak tempuh dari desa Netemnanu Utara menuju Kota kupang, diperkirakan mencapai 190 kilometer.

“Saat itu masih musim hujan. Anak saya meninggal saat kami hendak menyeberang sungai besar, karena memang tak ada jembatan di daerah ini. Kami terpaksa bermalam di tengah hutan sambil menunggu air sungai surut, namun anak saya daya tahan tubuhnya tidak kuat sehingga tak tertolongkan,” ceritanya sambil meneteskan air mata.

Daerah Amfoang, Kabupaten Kupang jalur transportasi daratnya memang sangat memprihatinkan.

Bagaimana tidak, perjalanan darat dari Kota Kupang menuju Amfoang yang seharusnya ditempuh dalam waktu tiga sampai empat jam malah harus sampai 12 jam perjalanan.

Pasalnya kondisi jalan di daerah itu sudah sangat memprihatikannya, bahkan bisa dikatakan bukan lagi sebuah jalan.

Elisabeth kembali menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengelus-ngelus rambut anak perempuannya ia mengaku merasa bahwa pemerintah sepertinya tak mempedulikan kondisi jalan di daerah itu.

Ia mengatakan seandainya kondisinya bagus sudah tentu anak ketiganya tak akan meninggal hanya karena masalah infranstruktur yang tak memadai.

“Kalau pemerintah sudah bangun jalan yang bagus pasti hal ini tidak akan terjadi,” ujarnya sambil mengusap air matanya.

Kisah tragis ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh Elisbeth. Ny Martha (50) juga mengaku bahwa pernah mengalami hal yang menyedihkan pada 2016.

Pada saat itu saat anak perempuannya melahirkan cucu pertamanya, pihak dokter di puskesmas setempat kesulitan mengeluarkan ari-ari dari dalam rahim anaknya.

Padahal saat itu sang bayi sudah berhasil keluar sementara ari-ari bayi itu masih berada di dakam rahim.

“Waktu itu lahirnya sore, setelah kejadian itu pukul 15.00 WITA saya bersama keluara langsung mengantarnya ke Rumah Sakit di Kefa, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kami hanya melewati tiga sungai namun jalan sangat memprihatinkan sehingga kami harus beristirahat di tengah jalan,” katanya.

Saat hendak berangkat pada keesokan harinya, Sungai yang menjadi satu-satunya jalur transportasi tak bisa dilewati karena banjir akibat hujan yang deras.

Hal ini membuat mereka hanya menunggu, agar banjir reda sehingga bisa kembali dilalui.

“Bayangkan saja, kami harus tidur tiga malam di tengah hutan karena jalur transportasi yang sangat memperihatikan,” ujarnya.

Pada saat itu ia mengaku hanya berserah kepada Tuhan tentang hidup dan matinya dari anaknya.

Sampai pada haru ketiga perjalanan di lanjutkan. Sesampainya di Kefa, dokter yang bertugas merawat anaknya marah karena hal tersebut.

“Kami bersyukur karena cepat. Karena kalau tidak terlambat satu hari saja, nyawa anak saya sudah tidak tertolong,” ujarnya.

Mahal Tidak hanya masalah fasilitas kesehatan, masalah kebutuhan pokok juga menjadi keluhan masyarakat di kawasan perbatasan itu.

Jalan dan minimnya transportasi di daerah itu mengakibatkan kebutuhan pokok menjadi mahal di daerah itu. Contohnya untuk beras premium harga sekilonya mencapai Rp15 ribu.

Belum lagi jika pada saat musim penghujan, stok yang ada harganya bisa naik karena pasokan tak masuk akibat cuaca buruk dan sejumlah akses transportasi terhenti.

“Kalau tidak ada minyak tanah atau beras terpaksa kami gunakan tunggu sampai pasokannya datang,” ujar Elisabeth.

Dia mengaku sulit untuk bisa ke Kota apalagi kendaraan yang menuju ke desa tersebut sehari hanya satu kendaraan yang berani datang.

Oleh karena itu, baik Elisabeth dan Martha berharap agar pemerintah pusat melihat langsung kondisi jalur transportasi di desa tersebut, sehingga cerita yang dialami oleh keduanya tidak dialami oleh warga lain di desa tersebut.

Anggaran Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) segera mengalokasikan anggaran sebesar Rp180 miliar untuk pembangunan jalan di kabupaten Kupang yang berbatasan dengan Oecuse, Timor Leste.

“Panjang ruas jalan tersebut kurang lebih mencapai 60 kilometer,” Kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kupang Machlon Nomseo.

Ia mengatakan pembangunan jalan lingkar luar menghubungkan wilayah Kecamatan Amfoang Timur di Oepoli, Kabupaten Kupang hingga ke wilayah Napan, Kabupaten Timor Tengah Utara, sehingga pembangunan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan semakin cepat berkembang.

“Pembangunan jalan lingkar luar itu untuk mendorong percepatan pembangunan kawasan perbatasan di wilayah perbatasan Kabupaten Kupang sehingga menjadi lebih berkembang,” katanya.

Dengan pembangunan jalan lingkar itu lebih memudahkan akses transportasi bagi masyarakat Amfoang Timur ke TTU akan semakin dekat karena didukung infrastruktur jalan perbatasan yang memadai. (Ant)

Lihat juga...

Isi komentar yuk