KSU As Sa’adah di Sumbar, Berdiri dari Modal Awal Rp3 Juta

Editor: Koko Triarko

422

AGAM — Koperasi Serba Usaha (KSU) As Sa’adah merupakan salah satu koperasi yang tergolong baik di Provinsi Sumatera Barat. Menguasai satu jorong (kawasan di pedesaan), sisa hasil usaha (SHU) mencapai lebih dari Rp60 juta.

Koperasi yang berada di Jorong Surau Lauik, Kenagarian Panampuang, Kecamatan Ampek Angkek Canduang, Kabupaten Agam itu, memiliki rentetan cerita yang cukup panjang.

Bahkan, nama KSU As Sa’adah diambil dari nama Masjid As Sa’adah yang merupakan tempat awal adanya koperasi di Surau Lauik. Tidak ingin melupakan sejarah, di titik awal berdiri, sampai saat ini nama KSU masih memakai nama masjid yang tidak jauh dari Kantor KSU As Sa’adah saat ini.

Setidaknya, dua kali pindah kantoran KSU As Sa’adah berpindah tempat. Dari Masjid As Sa’adah dan menumpang di Kantor Jorong Surau Lauik. Selanjutnya, dengan adanya kerelaan hati anggota koperasi yang menjual tanah dengan harga cukup rendah, KSU As Sa’adah mampu mendirikan kantor sendiri.

Ketua KSU As Sa’adah Nina Ramadhani tengah berbincang bersama Kasubag Tata Usaha Dinas Koperasi dan UMKM Sumatera Barat, Yusran Ance di Kantor KSU As Sa’adah Kabupaten Agam/Foto: M. Noli Hendra

Ketua KSU As Sa’adah, Nina Ramadhani, menceritakan adanya KSU As Sa’adah, tidak lepas dari keinginan masyarakat di Surau Lauik, yang berharap adanya sebuah tempat menopang harapan dalam menjalani roda ekonomi kehidupan.

Di Jorong Surau Lauik yang terdiri dari 585 KK atau hampir sekira dua ribu jiwa, kebanyakan menjalankan roda ekonomi keluarga dengan bertani, perajin sulam tradisional, pedagang kaki lima, oleh-oleh, dan usaha rumahan.

Membuka usaha menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan, guna mengatasi kesulitan ekonomi.

Nina mengatakan, pada awalnya KSU As Sa’adah pada 2001 lalu benar-benar merupakan ‘pekerja sosial’ yang tidak mengedepankan soal materi. Memiliki permodalan hanya Rp3 juta ketika itu, dikelola sebaik mungkin, agar masyarakat yang mengajukan pinjaman benar-benar memiliki kesempatan untuk dibantu.

Pada 2001 itu, anggota koperasi As’adah baru 60 orang, termasuk  pendirinya sebanyak 16 orang. Namun, seiring waktu berjalan, KSU As Sa’adah yang sah berbadan hukum pada 29 Desember 2003. Koperasi kebanggaan masyarakat Surau Lauik ini, mendapatkan sejumlah sumber dana yang bersifat hibah, seperti dari Dinas Koperasi di provinsi, yang diperuntukkan untuk penambahan modal.

“Pada 2004, kita di KSU mendapatkan dana bergilir sebanyak Rp40 juta. Dari sana kita terus berupaya menjangkau masyarakat lebih banyak lagi di Jorong Surau Lauik,” ucapnya, Jumat (20/4/2018).

Saat ini, anggota KSU As Sa’adah telah mencapai 271 orang dengan berbagai jenis usaha yang dijalani. Berkembang dan majunya KSU As Sa’adah ini, dinilai tidak lepas pula dari manajemen Ketua KSU As Sa’adah, Nani Ramadhani, yang luar biasa.

Baginya, untuk memajukan koperasi perlu menekan kepada seluruh anggota, bahwa perlunya rasa memiliki di setiap hati anggota. Bila itu ada, maka secara bersama koperasi yang dijalankan akan berkembang bersama masyarakat.

“Saya bukanlah orang yang memiliki gelar sarjana dalam menjalankan koperasi ini. Saya hanya tamatan pendidikan SMK 1 Kota Bukittinggi jurusan keuangan tahun 1997. Tapi, alhamdulillah berkat kerja sama pengurus, KSU As Sa’adah tumbuh dengan baik,” ungkapnya.

Peran Nina dalam memimpin koperasi ini, terlihat pada sistem penerapan jumlah dan bunga pinjaman. Dengan memiliki sejumlah sumber dana, seperti dana sendiri yang berasal dari anggota, dana pedagang kaki lima, dana P3KUM (Program Pembiayaan Produktif Koperasi dan Usaha Mikro), serta ada juga ada dari dana Perkassa (Program Perempuan Keluarga Sehat Sejahtera), bisa menambah permodalan koperasi.

Dari sumber dana tersebut, bagi masyarakat yang mengajukan pinjaman, akan diarahkan kepada sumber dana yang telah ada. Mau dana pedagang kaki lima, Perkassa, atau P3KUM.

“Kebanyakan yang mendapatkan pinjaman itu adalah usaha yang telah berjalan. Masyarakat yang memulai usaha dari nol, hanya sedikit. Kita tentu tidak membatasi membantu yang belum punya usaha atau belum, tapi masyarakatlah yang mengukur kemampuannya, sebelum mengajukan pinjaman,” jelasnya.

Ia mencontohkan, bagi yang ingin mengajukan pinjaman dari dana pedagang kaki lima, jumlah awal yang bisa dipinjamkan sebanyak Rp500.000. Nanti, kepada yang telah meminjam, pembayarannya dilakukan setiap bulan sebesar Rp44.2.00.

Artinya, dari uang yang dipinjamkan Rp500.000 itu, akan kembali ke koperasi menjadi Rp530.400. Hal ini karena pinjaman bunganya sebesar 0,5 persen. Jumlah pinjaman bisa ditingkatkan hingga Rp10 juta, bila sepanjang proses pembayaran kredit dinilai lancar.

Kiprah KSU As Sa’adah ini pun telah meraih sejumlah prestasi, seperti pada 2006, prestasi diperoleh dari Bupati Agam dan 2008 dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Lalu, pada 2016 dari Kabupaten Agam, dan meraih prestasi kembali di tingkat provinsi.

“Prestasi itu untuk bersama. Sebab, yang saya lakukan itu, koperasi ini seperti koperasi syariah. Karena awalnya dari masjid, jadi nilai-nilai agama diterapkan dalam kepengurusan dan keanggotaan koperasi,” tegasnya.

Ke depan, Nani berencana akan mengubah sistem koperasi dari konvensional menjadi koperasi syariah. Rencana ini berawal dari pelatihan yang diterimanya dari Pemerintah Kabupaten Agam beberapa waktu yang lalu.

“Untuk koperasi syariah, secara perlahan akan kita coba, sampai nanti soal akad dan yang lainnya disepakati oleh anggota bersama pengurus koperasi,” ucapnya.

Sementara itu, Kasubag Tata Usaha Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Barat, Yusran Ance, mengaku di Sumbar memang cukup banyak koperasi yang dinilai bagus pengelolaannya, salah satunya KSU As Sa’adah.

Apalagi nanti, bila KSU As Sa’adah beralih menjadi koperasi syariah, maka koperasi ini benar-benar akan menjadi harapan baru bagi masyarakat setempat.

“Dalam koperasi yang menjalankan sistem syariah, tidak ada istilah denda, dan soal bunga pinjamannya harus ada akadnya, berapa yang harus disepakati,” jelasnya.

Menurutnya, sistem syariah akan membuat pengurus dan anggota mendapatkan keadilan. Sebab, tidak ada pihak yang dirugikan. Tapi, jika nanti KSU As Sa’adah beralih menjadi koperasi syariah, maka dalam kurun waktu awal berjalan, akan terjadi penurunan SHU. Karena tidak ada lagi uang yang masuk, yang sebelumnya ada uang denda, dengan sistem syariah tentu ditiadakan lagi.

Baca Juga
Lihat juga...