Kuda Lumping, Satukan Pecinta Seni Tradisional

Editor: Satmoko

358

LAMPUNG – Kesamaan visi dan misi untuk melestarikan kesenian tradisional mendorong Krisbiantoro (29) dan Trisno (60) dua generasi berbeda usia melestarikan kesenian tradisional kuda lumping.

Menurut Trisno, kesenian kuda lumping sering dikenal dengan jaranan, kuda kepang memiliki beragam gerakan dan corak permainan sesuai dengan sanggar dan asal kesenian tersebut.

Kuda lumping Sanggar Budoyo menjadi salah satu kesenian yang dibentuk hampir empat tahun silam di Dusun Sumbersari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan.

Keberadaan grup musik tersebut diakui oleh Trisno memberi wadah bagi sekitar 30 orang di Desa Pasuruan untuk menyalurkan hobi kesenian. Anggota sanggar Sari Budoyo merupakan para pemain musik di antaranya saron, gong, kendang, kenong, terompet serta kicrik dan alat musik pelengkap lainnya.

Selain generasi muda, Trisno (kiri) generasi usia tua juga ikut melatih musik kuda lumping [Foto: Henk Widi]
Selain pemain musik pendukung paling utama adalah penari atau dikenal dengan wayang untuk memainkan kuda lumping saat pertunjukan.

“Anggota sanggar terdiri dari beragam usia dengan kesamaan visi melestarikan kesenian tradisional warisan leluhur yang hingga kini masih kami teruskan,” terang Trisno saat ditemui Cendana News dalam sesi latihan sebelum pertunjukan kuda lumping Sari Budoyo, baru-baru ini.

Keanggotaan sanggar Sari Budoyo diakui Trisno terdiri dari struktur organisasi dari penasehat, ketua, sekretaris, bendahara dan susunan anggota dengan berbagai peran.

Struktur organisasi tersebut sekaligus menjadi salah satu faktor kesenian kuda lumping Sari Budoyo tetap eksis ditempa dengan pilihan hiburan lain. Anggota sari Budoyo dari usia belasan tahun hingga puluhan tahun merupakan warga desa setempat yang memiliki keinginan untuk memiliki grup kesenian tradisional.

Trisno menyebut, sebelum tampil dalam satu pertunjukan dalam satu pekan seluruh pemain musik dan wayang rutin berlatih. Latihan tersebut diakuinya untuk menyamakan alunan musik para pemain dan gerakan yang dilakukan para wayang atau penunggang kuda lumping. Sepekan latihan dilakukan pada malam hari di sanggar Sari Budoyo.

Krisbiantoro (kanan), salah satu pemuda Dusun Sumbersari pelestari kesenian kuda lumping [Foto: Henk Widi]
“Latihan kami lakukan malam hari karena sebagian besar anggota memiliki profesi yang beragam dan waktu luang hanya saat malam,” beber Trisno.

Selain melatih musik, gerakan, alunan lagu kuda lumping pada perkembangan zaman modern disebut Trisno kerap diiringi dengan musik keyboard. Lagu iringan didominasi lagu Jawa di antaranya Caping Gunung, Bojo Loro, serta lagu-lagu lain di antaranya lagu Sunda dan lagu Lampung. Selain itu kini lagu-lagu dangdut dan lagu nasional mulai dilagukan untuk mengiringi gerakan setiap pemain wayang.

Perkembangan kesenian kuda lumping diakui Trisno bahkan mulai disukai oleh berbagai usia baik pemain hingga penonton. Sejak tahun 2000 Trisno mengaku semula pemain kuda lumping dan pemain musik didominasi kaum tua namun kini generasi muda mulai terlibat. Kondisi tersebut menjadi sebuah upaya untuk melestarikan kesenian tradisional tersebut.

“Hiburan ini sekaligus kerap menjadi pertunjukan wisata karena kerap ada festival kuda lumping setiap HUT RI selain untuk ditanggap hajatan,” papar Trisno.

Krisbiantoro, salah satu generasi muda bersama rekan lainnya Karyono mengaku sejak kecil menyukai kuda lumping. Sebagai sebuah kesenian tradisional kuda lumping menjadi hiburan berbagai kalangan.

Saat latihan ia menyebut generasi muda dan tua berbaur untuk menularkan ilmu dalam permainan kuda lumping. Gerakan-gerakan baru sesuai dengan semangat muda bahkan menjadi salah satu daya tarik untuk dipertontonkan.

Latihan musik kuda lumping sanggar Sari Budoyo Sumbersari Kecamatan Penengaham Lampung Selatan dilakukan malam hari [Foto: Henk Widi]
Krisbiantoro bahkan menyebut seni kuda lumping selain memiliki pakem tetap pada setiap gerakan juga ada improvisasi. Improvisasi berupa lagu-lagu pengiring dari lagu kekinian diiringi keyboard, pemain barong yang memiliki atraksi menarik dan warna-warna kostum menyesuaikan dengan zaman.

Keberadaan kaum muda diakui Krisbiantoro mewakili keinginan anak muda yang menginginkan hiburan menarik dan positif murah meriah.

“Kami anak muda tak harus mengeluarkan biaya untuk menonton kesenian kuda lumping dan bagi yang hobi bisa ikut terlibat di sanggar,” beber Krisbiantoro.

Keberadaan lintas generasi pada Sanggar Sari Budoyo diakui Krisbiantoro sekaligus untuk merenegerasi anggota. Ke depan ia menyebut, kesenian kuda lumping harus bersaing dengan kesenian modern lain seperti organ dan hiburan lain.

Ia beruntung seni kuda lumping Sari Budoyo masih kerap ditanggap oleh pemilik hajatan. Ditanggap dengan biaya sekitar Rp2 juta disebutnya dipergunakan untuk kas sanggar dan pemeliharaan alat.

Sebagai salah satu kesenian tradisional kuda lumping, diakui Krisbiantoro, menjadi tontonan yang dinantikan masyarakat. Hiburan tersebut bahkan kerap menyedot ratusan orang tua dan muda tanpa merasa gengsi untuk menonton.

Pemain dari generasi muda pria dan wanita juga dilibatkan. Semangat melestarikan seni tradisional kuda lumping menjadi tanda ada kesamaan misi dan visi dalam pelestarian kesenian tradisional.

Dukungan dari pemerintah daerah diakui cukup baik dengan adanya festival kesenian kuda lumping tahunan. Meski sebagian diselenggarakan di tingkat kecamatan menjadi penyemangat para pelestari kesenian kuda lumping.

Sebagai agenda wisata tahunan daya tarik seni kuda lumping masih mampu menyedot perhatian masyarakat. Dukungan desa juga diberikan dalam bentuk dana untuk pembelian perlengkapan alat musik sehingga kuda lumping tetap lestari.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.