banner lebaran

Melihat Kiprah Para Kartini Sektor Pertanian dan Kehutanan

Editor: Satmoko

275

LAMPUNG – Peranan kaum perempuan di zaman modern terus terlihat dengan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dengan pekerjaan yang sejajar.

Salah satu peran perempuan dalam pekerjaan sektor pertanian dijalani oleh Sumini (40) dan Jeminah (42) yang secara mandiri melakukan pekerjaan memanen padi dengan sistem ceblok.

Sebagai perempuan ia menyebut selalu bisa mandiri dan mampu berdiri di kaki sendiri mulai dari menanam hingga panen padi meski di lahan milik orang lain.

Peranan perempuan dalam bidang pertanian diakui Sumini sangat diperlukan dengan bekerja dalam proses menanam hingga panen padi. Di lahan sawah desa Banjarmasin kecamatan Penengahan, Sumini bahkan telah bekerja sejak puluhan tahun silam membantu suami.

Ia menyebut meski suami bekerja namun tidak selalu tergantung pada suami terutama dalam membantu ekonomi keluarga melalui sektor usaha pertanian.

“Saya tetap bisa mengasuh anak dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sebagian waktu saya gunakan untuk bekerja di sektor pertanian mulai dari buruh tanam, pembersihan gulma hingga masa panen,” papar Sumini, salah satu perempuan yang bekerja sebagai buruh panen padi di desa Banjarmasin kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Sabtu (21/4/2018).

Peran yang sama antara wanita dan laki laki dalam proses pemanenan padi di lahan pertanian yang ada di wilayah Lampung [Foto: Henk Widi]
Sumini menyebut, emansipasi wanita dengan pria telah menyadarkannya untuk bisa menjadi Kartini masa kini yang bisa sejajar dengan laki-laki. Ia bahkan bisa membantu suami dalam pekerjaan sektor pertanian sehingga pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik.

Selain membantu tugas suami, dari pekerjaan sebagai buruh tanam hingga panen Sumini menyebut, bisa menghasilkan uang untuk keluarga.

Kiprah kaum perempuan dalam sektor pertanian disebut Sumini saat ini bahkan telah terlihat dengan adanya Kelompok Wanita Tani (KWT). Selain para suami yang memiliki Kelompok Tani (Poktan) para wanita tani disebut Sumini secara mandiri melakukan pengolahan produk pertanian.

Selain menjadi buruh tanam, panen, saat waktu luang ia bersama kaum perempuan di desanya juga memiliki kesibukan membuat produk olahan keripik pisang.

“Kami memiliki kelompok wanita tani sehingga bisa mandiri dalam penyediaan pangan keluarga dan memiliki sumber penghasilan,” beber Sumini.

Peranan perempuan selain Sumini juga dialami oleh Dwi Utari (30) selaku Penyuluh Lapangan Unit Pelaksana Teknis Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (PPL UPTD TPHBun) Lampung Selatan wilayah Ketapang.

Dwi Utari yang menjadi penyuluh pertanian perempuan mengaku kerap bertemu dengan ratusan perempuan di beberapa kelompok tani di wilayah Ketapang. Selama ini ia menyebut dominasi PPL laki-laki kerap membuat PPL perempuan masih dipandang sebelah mata.

Ia bahkan menyebut, saat soasialisasi atau mengunjungi para petani kerap pengalaman dan kodrat sebagai perempun dipandang tak berpengalaman dibanding laki laki.

Kasanatun (ujung kanan) dan sejumlah perempuan pekerja di Persemaian Permanen BPBDAS WSS KLHK Lampung [Foto: Henk Widi]
Meski demikian dengan karya nyata membagi ilmu tentang pertanian kepada kelompok tani hingga sukses, membuat PPL perempuan tetap diperhitungkan. Kepiawaian dalam berkoordonasi dengan sesama perempuan pada para petani membuat tugas PPL bisa dijalankan dengan baik.

“Saya selalu memberi semangat bahwa dalam berbagai pekerjaan termasuk dalam sektor pertanian juga bisa dilakuan perempuan tidak melulu didominasi laki-laki,” tegasnya.

Saat ini ia bahkan mengaku telah menjadi Kartini masa kini yang memiliki pekerjaan cukup penting sebagai penyuluih lapangan dan pertanian. Di seluruh kabupaten Lamsel ia bahkan menyebut masih terbilang sedikit tenaga penyuluh pertanian. Berbekal keilmuan sebagai sarjana pertanian, Dwi Utari juga menyebut memiliki tugas meningkatkan derajat kaum perempuan dalam sektor pertanian.

Mendorong perempuan mandiri serta bisa menghasilkan nafkah dan lapangan kerja di sektor pertanian terus dikerjakan. Sebanyak tiga kelompok tani di antaranya di desa Lebung Nala, Pematangpasir, Karangsari kecamatan Ketapang bahkan dijalaninya. Kesejahteraan kaum perempuan di sektor pertanian membuat dirinya terus mantap bekerja sebagai PPL meski harus terjun ke sawah dan kebun sayuran.

Selain bidang pertanian di bidang kehutanan dari sekitar 40 pekerja, 30 pekerja Persemaian Permanen didominasi perempuan.

Kasanatun (40) mengaku telah bekerja di Persemaian Permanen Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS WSS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK] sejak lima tahun silam. Bersama puluhan perempuan ia ikut membantu penyediaan sebanyak 2,5juta bibit setiap tahun.

Pekerjaan para perempuan di persemaian permanen diakui Kasanatun di antaranya menyiapkan media tanam, merawat hingga memindahkan bibit sebelum ditanam. Ketelatenan dan kesabaran kaum perempuan tersebut bahkan telah memberi dampak tertanamnya ratusan hektar bibit kayu dan tanaman buah.

Hasilnya memberi sumber penghasilan bagi kaum perempuan yang menanam pohon di antaranya pinang, kemiri dan jengkol.

Dwi Utari (ujung kanan) penyuluh pertanian UPT Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan kecamatan Ketapang [Foto: Henk Widi]
“Peranan perempuan memang penting pada rantai distribusi bibit, menjaga lingkungan dimulai dari persemaian permanen ini,” papar Kasanatun.

Puluhan perempuan di Persemaian Permanen diakuinya menjadi Kartini masa kini yang berperan dalam bidang kehutanan. Berkat kecekatan para perempuan, sejumlah lahan gersang di Register I Way Pisang bahkan bisa ditanami.

Kaum perempuan diakui Kasanatun dan rekan-rekannya juga memiliki kesejajaran dengan laki-laki yang bisa ikut menjaga kelestarian hutan di wilayah Lampung. Pada tahun anggaran 2018 bersama puluhan perempuan ia ikut menyiapkan 29 jenis tanaman kayu sebanyak 2,5 juta bibit untuk penghijauan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.