Melihat Lebih Dekat Pembuatan Minyak Kelapa Tradisional Kulonprogo

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

220

YOGYAKARTA — Bertempat di sebuah ruang produksi yang sedikit gelap dan lembab, Sukirno (35) pagi itu nampak bermandi peluh. Dadanya yang bidang dan berotot, terlihat mengkilap penuh keringat.

Mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada, ia nampak tak henti menginjak-injak parutan kelapa yang ditempatkan di sebuah wadah dari anyaman bambu.

Sesekali Sukirno nampak memasukkan air ke dalam wadah tersebut. Hingga santan kelapa berwarna putih memancur keluar ke sebuah tampungan dari semen yang dicor ke tanah.

Sementara Sukirno sibuk memeras kelapa dengan kedua kakinya, sang ibu nampak memindahkan santan tersebut ke sebuah loyang besar yang dimasak di atas tungku kayu.

Secara rutin ia memeriksa kondisi api agar tetap menyala, meski asap dan hawa panasnya membuat Sukirno yang hanya berjarak satu meter semakin berkeringat.

Itulah kegiatan yang setiap hari dikerjakan Sukirno, seorang pembuat minyak kelapa tradisional asal dusun Kaligayam, Kulur, Temon, Kulonprogo bersama ibunya.

Kegiatan memproses kelapa mentah menjadi minyak kelapa itu oleh masyarakat sekitar biasa disebut Mbotok.

Desa Kaligayam memang dikenal sebagai desa sentra pembuatan minyak kelapa tradisional. Di kawasan ini terdapat beberapa yang masih bertahan. Salah satunya adalah Sukirno dan orangtuanya.

“Usaha ini turun-temurun dari si mbah. Karena memang disini dulu banyak yang membuat Bothok kelapa. Saya hanya meneruskan saja,” katanya.

Sukirno mengaku membuat minyak kelapa setiap hari untuk disetor ke pabrik di kawasan Purworejo. Dalam sehari ia biasanya memproses sekitar 650 butir kelapa. Dimulai sejak selepas subuh hingga selesai pada malam hari selepas Isya.

“Dari 650 butir kelapa itu, bisa didapat sekitar tiga kaleng minyak kelapa berisi 18 liter setiap kalengnya. Satu liter minyak kelapa dihargai Rp11,500,” katanya.

minyak kelapa
Sukirno tengah memeras santan kelapa untuk dibuat menjadi minyak dengan alat tradisional. Foto : Jatmika H Kusmargana

Meski telah banyak alat modern yang bisa dimanfaatkan, Sukirno mengaku tetap memilih alat tradisional karena dinilai lebih murah dan cepat. Meski harus menggunakan banyak tenaga manusia.

“Semua alat masih tinggalan si mbah. Seperti alat pres dari kayu, dan tampungan santan ini. Yang ganti hanya alat parutan kelapa, sekarang sudah pakai mesin disel,” katanya.

Meski masih bertahan, namun sejumlah usaha kecil pembuatan minyak kelapa ini semakin sulit ditemukan. Pasalnya banyak pembuat minyak kelapa yang meninggalkan usaha ini dan berganti ke usaha lainnya.

“Terakhir saja sudah ada tiga tempat Mbotok disini yang mati. Maklum, pekerjaannya berat karena butuh banyak tenaga, tapi hasilnya tidak seberapa,” katanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.