banner lebaran

Memajukan Kaum Perempuan ala Pak Harto

Editor: Mahadeva WS

593

JAKARTA — Perhatian besar Presiden RI kedua Soeharto terhadap harkat dan martabat kaum perempuan Indonesia sangat dirasakan dan diakui oleh tiga perempuan hebat. Kenangan bersama Pak Harto, baik sebelum maupun saat menjadi presiden begitu mengesankan.

Adalah Mien Sugandhi, perempuan kelahiran 1934 yang menyebut Pak Harto benar-benar serius dan mendukung perkembangan dan pergerakan wanita. Pak Harto senang melihat wanita beraktivitas dengan ikhlas, mantap, dan jujur.

Suatu ketika, kata istri mantan ajudan Bung Karno tersebut, Pak Harto meminta Dirinya membentuk organisasi wanita tani seluruh Indonesia. Waktu itu ada Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), tetapi belum ada organisasi wanitanya. “Pak Harto bertanya, Kamu bisa tidak sekarang membentuk organisasi wanita tani seluruh Indonesia?’ Jelas tidak mungkin saya mengatakan tidak bisa,” kata Mien dalam buku Pak Harto The Untold Stories (2011).

Dalam seminggu atau dua minggu, Mien harus bisa mengumpulkan wanita tani seluruh Indonesia untuk memenuhi permintaan tesebut. Setelah memutar otak, akhirnya Mien sukses memenuhi tugas tersebut. “Alhamdulillah saya berhasil mengerahkan MKGR di seluruh Indonesia untuk membentuk organisasi wanita tani hingga ke pelosok negeri seperti di Timor Timur (kini menjadi sebuah negara, Timor Leste) pada waktu itu,” ujar Mien penuh syukur.

Seluruh perwakilan daerah kemudian diundang ke Jakarta. Yang diundang sebanyak tiga ratus orang tetapi yang datang hingga delapan ratus orang. “Di masa itu wanita yang datang dari kawasan tertinggal ada yang belum bisa pakai sepatu, bahkan ada yang tak biasa pakai baju dalam. Jadi kami harus lebih dulu membina mereka,” tutur Mien.

Menurut Mien, Pak Harto sebenarnya ingin agar ada pembinaan terhadap wanita-wanita tersebut. Hal itu dilakukan agar mereka tidak merasa minder (rendah diri), dan siap mengambil peran yang lebih besar memajukan lingkungannya.

Di antara program yang diluncurkan untuk membina para perempuan tersebut, Pak Harto menyerahkan kelinci-kelinci berukuran super yang disebut kelinci dumbo yang merupakan jenis kelinci hasil budidaya di Peternakan Tapos, Bogor. “Ini coba diberikan kepada para wanita tani agar diternakkan untuk menambah gizi dan kesejahteraan keluarganya,” pesan Pak Harto.

Mien pun membagikan kelinci-kelinci yang sebagian besar pejantan itu ke daerah-daerah. Kembali ke Jakarta, Mien dan tim melaporkan pengalamannya kepada Pak Harto. “Pesan Bapak sudah kami sampaikan dan sebagian program sudah berjalan. Hanya saja itu Pak, kelinci betina yang lokal sering lari-lari ketakutan melihat kelinci jantan yang dumbo,” lapornya.

Mendengar itu, Pak Harto langsung tertawa, kemudian berkata, “Kamu ini ada-ada saja,” dan baru kali ini Mien melihat Pak Harto tertawa lepas. Padahal ketika itu dirinya melaporkan dengan serius.

Begitulah kesaksian Mien, yang menjadi Ketua Umum Musyarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) pada 1991, menggantikan mendiang suaminya yang meninggal dunia. Mien Sugandhi sempat menjadi anggota MPR dan DPR periode 1977-1993.  Setelah itu, Presiden Soeharto mengangkatnya menjadi Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (1993-1998). Setelah Orde Baru berlalu, Mien mendirikan Partai MKGR.

Ibu Tien Soeharto saat menerima eks laskar wanita Indonesia di Istana Negara. Eks laskar wanita Indonesia ini mengadakan reuni di Jakarta. -Foto: soeharto.co/Makmun Hidayat

Tanda adanya perhatian besar Pak Harto terhadap kaum perempuan juga diakui oleh Tati Sumiyati Darsoyo. Menurut perempuan kelahiran Semarang yang pernah menjadi Sekretaris Mendikbud pada masa Orde Lama itu, Pak Harto tidak memandang rendah kemampuan wanita. “Beliu tidak memandang sebelah mata pada kami, perempuan-perempuan yang istri tentara ini, sehingga kami semangat untuk bekerja,” ujar Tati dalam buku yang sama.

Dia menyebut, sejak awal merasakan Pak Harto memilik jiwa pengayom (pelindung), sehingga membuat para stafnya merasa nyaman. Pak Harto itu adalah seorang fasilitator yang sangat baik. Pak Harto dan Ibu Tien disebutnya sebagai sosok yang sangat egaliter.

Duta Besar RI di Swiss pada 1997-2002 itu menceritakan, di 1960 Dirinya adalah Sekretaris Persatuan Istri Tentara (Persit) di lingkungan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Sementara suaminya , Daryoso, adalah Komandan Bataliyon Kostrad Zeni Tempur VII yang bermarkas di Lenteng Agung. Ketika itu Pangkostradnya adalah Mayor Jenderal TNI Soeharto.

Sehari setelah meletusnya peristiwa G30S/PKI, Dipanggil ke kediaman Pak Harto di Jalan Agus Salim. Pak Harto berpesan agar dirinya tidak keluar rumah dan menyiapkan pakaian secukupnya. Apabila keadaan menjadi genting, Tati telah siap dijemput untuk mengungsi. “Tetapi kalau sampai lewat jam 12 malam tidak terjadi apa-apa, berarti keadaan berhasil dikuasai,” pesan Pak Harto yang sangat diingat Tati.

Disebutkan Tati, pada saat itu suaminya tengah bertugas di Medan, Sumatera Utara. “Pak Harto memang pengayom yang luar biasa. Perhatian beliau membuat saya merasa tenang,” imbuh Tati yang paviliun tempat tinggalnya berdekatan dengan kantor Serikat Buruh dan Tani (Sarbutri) yang berafiliasi dengan PKI.

Karena tinggal berdekatan, Tati melihat setiap hari puluhan orang berada di markas Sarbutri.  Aktivitas di markas itu tidak berhenti setelah tujuh perwira Angkatan Darat dibantai PKI. Rupanya kegiatan di markas tersebut tidak diketahui aparat tentara.

Setelah markas Sabutri digerebek, di dalamnya ditemukan sekitar empat puluh anggota Pemuda Rakyat dengan berbagai jenis senjata tajam dan senjata api. Di markas tersebut juga ditemukan lubang lebih dari 25 meter persegi. “Saya ingat suatu hari pengurus Sabutri pernah minta izin memperbaiki saluran air yang rusak, boleh jadi lubang itu akan digunakan untuk menimbun lawan-lawan politik mereka,” ujarnya.

Bukan hanya Tati Sumiyati Darsoyo dan Mien Sugandhi, Mien Rachman Uno yang dikenal sebagai tokoh nasional dalam pengembangan kepribadian juga melihat Presiden Soeharto sebagai pemimpin yang mendorong kualitas wanita Indonesia lebih meningkat.

“Kemajuan wanita di Indonesia selalu menjadi cita-cita dan gerak jiwa istri saya. Saya turut bangga karena Ibu Mien bersedia seiring sejalan dengan pemikiran Ibu Tien. Saya berharap semoga melalui buku ini dan juga gerak langkah Ibu Mien, kualitas wanita Indonesia bisa selalu lebih ditingkatkan dan moral serta kepribadiannya bisa dijaga,” ucap Pak Harto ditirukan Mien dalam buku Pak Harto The Untold Stories (2011).

Saat itu, Mien Uno bertemu Pak Harto didampingi Mbak Titiek dan Mbak Mamiek menjelang peluncuran buku Cermin Diri yang didedikasikan untuk almarhumah Ibu Tien yang baru saja wafat, di 1996. Menurut perempuan yang sempat menjadi anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional 1998-2003 itu, Pak Harto dan Ibu Tien memang pasangan yang hebat, begitu saling memahami, saling mendukung dan tidak berhenti saling mencintai.

Salah satu cerita Ibu Tien yang berkesan adalah, ketika Pak Harto yang waktu itu berpangkat kolonel, mengatakan lebih baik beliau bekerja sebagai supir saja daripada harus melakukan hal-hal yang melanggar prinsip. Tampak benar bahwa Pak Harto adalah seorang yang berkepribadian solid dan teguh memegang prinsip.

Begitulah tiga perempuan hebat mengungkapkan kesan mendalamnya terhadap Pak Harto. Ada juga ungkapan Pak Harto yang cukup menarik pada peringatan Satu Abad Ibu Kartini-Setengah Abad Hari Ibu, pada 22 Desember 1978 yang lalu.

Dalam amanatnya, Presiden Soeharto mengatakan bahwa dalam zaman pembangunan lahir batin dan pembangunan segala bidang, terbukalah kesempatan yang sangat luas bagi kaum wanita umumnya dan kaum ibu khususnya. “Hal ini karena, pembangunan ini memang dari kita, oleh kita dan untuk kita semuanya,” imbuh Presiden Soeharto, dikutip dari buku Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983, hal 97 (2003), dalam soeharto.co.

Oleh sebab itu, Kepala Negara meminta agar kaum wanita menyiapkan diri untuk berperan lebih besar dalam tahap-tahap pembangunan yang akan datang. “Kalau kita ingin meningkatkan peranan kaum wanita dalam pembangunan, maka salah satu sasaran yang utama adalah peningkatan kemampuan kaum wanita di daerah pedesaan. Karena di pedesaan itulah sebagian besar penduduk tinggal,” pesan Presiden Soeharto.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.