Mengenang Amaroso Katamsi Menggali Sosok Pak Harto

Editor: Koko Triarko

222

JAKARTA — Amaroso Katamsi, dokter tentara kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1938 yang terkenal sebagai pemeran Mayor Jenderal Soeharto dalam film Pengkhiatan G30S/PKI, suatu ketika menghadap Pak Harto. Dalam pertemuan tersebut, Amaroso menanyakan soal pembicaraan Bung Karno dan Pak Harto dalam bahasa Jawa.

“Pernah saya menyakan satu hal sehubungan dengan dialog sesuai peran saya dalam film Trikora,” kata Amoroso, dalam buku Pak Harto The Untold Stories (2011), yang kali itu menghadap Pak Harto dalam rangka penulisan skenario film Trikora.

Amaroso bertanya kepada Pak Harto terkait ucapan Bung Karno,”Aku iki arep mbok apakke (Saya ini akan kamu apakan)?”, yang lantas dijawab Pak Harto terselip istilah dalam bahasa Jawa.

Saya ini orang Jawa. Saya menganggap Bapak (Soekarno) adalah Bapak saya, sehingga prinsipnya adalah mikul dhuwur mendhem jero (mengangkat semua kebaikan setinggi-tingginya, menimbun semua keburukan sedalam-dalamnya).”

Perwira TNI-AL dengan pangkat terakhir Laksamana TNI Pertama dan pernah menjabat Direktur Utama Perusahaan Film Negara, mencoba mengorek keterangan lebih jauh istilah bahasa Jawa tersebut.

“Lalu bagaimana cara Bapak mikul dhuwur mendhem jero Bung Karno?” tanya Amoroso kepada Pak Harto.

Dijawab oleh Pak Harto, situasi politik pada waktu itu tidak memungkinkan dirinya berbuat banyak kepada Bung Karno, karena itu akan bertentangan dengan kehendak rakyat. Setelah semuanya reda, Pak Harto lantas memerintahkan untuk mengabadikan nama Bung Karno di pintu gerbang Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta.

Kemudian saat ada usulan menjadikan Bung Karno sebagai pahlawan, Pak Harto pun berpikir, gelar pahlawan apa yang paling tepat untuk Bung Karno karena ketika itu ada pertentangan atau perdebatan masalah gelar pahlawan untuk Bung Karno.

Dan, akhirnya Pak Harto memberikan nama Pahlawan Proklamasi dan itu tidak ada yang bisa melawan, karena memang kenyataannya Bung Karno adalah sang proklamator.

“Jadi, saya angkat Bung Karno menjadi Pahlawan Proklamator,” kata Pak Harto kepada Amaroso.

Bagi Pak Harto, Bung Karno adalah orang yang sangat menghargai ibunya. Ketika Bung Karno meninggal, kata Pak Harto, ketika itu terdapat berbagai masukan dari keluarga Bung Karno terkait tempat pemakaman bagi Bung Karno.

“Bung Karno orang yang sangat menghargai ibunya. Jadi, saya putuskan beliu dimakamkan dekat dengan ibunya di Blitar,” tutur Pak Harto.

Dari ketiga hal yang dijelaskan Pak Harto tersebut, Amaroso pun semakin memahami jalan pemikiran Pak Harto. Amaroso juga terkesan dengan daya ingat Pak Harto yang luar biasa terhadap peristiwa-peristiwa yang tertulis di dalam naskah skenario film Trikora.

“Pak Harto menuturkan berbagai peristiwa pada saat beliau menjadi Panglima Komando Mandala,” kata Amoroso, yang sempat aktif di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan mengajar di Institut Kesenia Jakarta (IKJ).

Kini, aktor kawakan tersebut telah berpulang ke Rahmatullah. Amoroso Katamsi meninggal karena sakit pada usia 79 tahun, Selasa (17/4/2018) dini hari sekira pukul 01.40 WIB.

Amoroso sempat dirawat di RS TNI Angkatan Laut Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Pemeran Soeharto dalam Film G30S/PKI itu, kali pertama terjun ke dunia seni peran pada 1976 dalam film Cinta Abadi. Selain film, ayah dari Ratna Katamsi, Aning Katamsi dan Dody Katamsi ini, juga pernah tampil membintangi beberapa sinetron, seperti Di Atas Sajadah Cinta dan Tuhan Beri Kami Cinta.

Selamat jalan Amaroso Katamsi….

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.