Menkeu Meminta Momentum Perbaikan Ekspor Dijaga

274
Menkeu Sri Mulyani - Foto: Dokumentasi CDN

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta momentum perbaikan kinerja ekspor yang menjadi penyebab terjadinya surplus neraca perdagangan harus terus dijaga. Hal itu dibutuhkan untuk mengatasi kondisi kerentanan adanya gejolak harga dan perdagangan.

Sri Mulyani mengatakan, saat ini sedang terjadi penguatan ekspor migas maupun non migas. Hal itu seiring dengan kenaikan harga komoditas di pasar internasional serta meningkatnya permintaan di tingkat global. “Kita tidak boleh lengah karena kemungkinan ‘shock’ itu tidak pakai pendahuluan,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Senin (16/4/2018).

Penguatan tersebut tercermin dari membaiknya realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai. Terutama bea keluar karena tingginya ekspor minerba. Namun, pemerintah tetap waspada dalam melihat kondisi perekonomian global saat ini yang berpotensi mengganggu kinerja perdagangan internasional.

Risiko tersebut salah satunya berasal dari kemungkinan terjadinya perang dagang AS dengan China setelah keduanya saling menerapkan tarif impor untuk masing-masing produk unggulan ekspor. “Kita akan tetap jaga, kecuali dinamika antara AS dan China mengenai tarif itu memengaruhi atau benar-benar dieksekusi, maka pengaruhnya akan dilihat di semester dua,” tandasnya.

Sebelumnya, BPS mencatat, kinerja ekspor pada Maret 2018 mencapai 15,58 miliar dolar Amerika Serikat atau naik 10,24 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya bernilai 14,13 miliar dolar AS.

Beberapa sektor tercatat mengalami kenaikan kinerja ekspor, seperti sektor pertanian naik sebesar 20,01 persen, industri pengolahan naik 9,17 persen serta pertambangan dan lainnya naik 22,66 persen. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas terjadi pada bahan bakar mineral sebesar 358,9 juta dolar AS, diikuti besi dan baja sebanyak 209,7 juta dolar AS, dan bijih, kerak, dan abu logam sebesar 133,3 juta dolar AS.

Kondisi ini yang merupakan pemicu terjadinya surplus neraca perdagangan Indonesia senilai 1,09 miliar dolar Amerika Serikat (AS), setelah pada periode Januari dan Februari 2018 mengalami defisit. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...