banner lebaran

Menteri Susi: Agen Penyalur 20 ABK Bersedia Cairkan Gaji

Editor: Irvan Syafari

387

JAKARTA — Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti menyebutkan, 20 ABK berkebangsaan Indonesia yang didapati pada kapal buronan Interpol STS-50 dan berhasil ditangkap di perairan tenggara Pulau Weh, Sabang, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam pada Jumat (6/4/2018), segera mendapat gaji yang ditahan dari agen penyalur PT GJS.

“Sore ini (gajinya) akan dibayarkan. (Agen penyalur) sore ini akan datang ke kantor. Jadi kalian (AKB) besok bisa pulang, untuk sore ini katanya mau dibayar,” kata Susi saat gelar konferensi pers, Rabu (18/4/2018) di Auditorium Gedung Mina Bahari IV, kantor KKP, Jakarta Pusat.

Hal tersebut sebagai tindak lanjut atas temuan sejumlah fakta setelah tim gabungan yang terdiri dari TNI AL, KKP, dan penyidik Polri di bawah koordinasi Satgas 115 yang diketuai Menteri Susi.

Tim melakukan wawancara dengan ABK Indonesia, di antaranya para ABK dijanjikan gaji sekitar 350-380 dolar AS per bulan, yang ditentukan berdasarkan pengalaman ABK.

“Namun, gaji para ABK selama dua bulan pertama ditahan sebagai jaminan penyelesaian kontrak. Jumlah rupiah yang diterima oleh keluarga ABK juga lebih kecil dari seharusnya, yaitu sekitar Rp4,1 – 4,5 juta per bulan,” imbuhnya.

Para ABK juga dikenakan biaya administrasi sebesar Rp2,5 juta yang dibayarkan selama lima bulan atau potongan sebesar Rp500 ribu per bulan. Apabila para ABK tidak bekerja di atas kapal, mereka diancam pemotongan gaji hingga 20-25 dolar.

Karena ke-20 ABK ini tidak diberikan upah sebagaimana mestinya selama bekerja, Menteri Susi meminta agen penyalur, yakni PT GSJ untuk memenuhi tanggung jawabnya. Tak hanya itu, buku pelaut mereka juga akan dikembalikan.

Kapal STS-50 sebelumnya pernah ditahan dan diperiksa pemerintah Tiongkok di Dalian Port pada 22 Oktober 2017 sebelum melarikan diri pada hari yang sama. Berdasarkan keterangan dari ABK, dokumen para awak kapal seperti paspor dan buku pelaut serta dokumen kapal diambil oleh petugas pemeriksa di Tiongkok.

Dan, kapal STS-50 melarikan diri tanpa membawa dokumen apa pun. Kapal sempat bersandar di Tiongkok pada 12 Desember 2017 untuk mengambil 6 ABK Indonesia (kelompok ketiga), dokumen kapal, dan perjalanan para awak kapal.

Setelah mendapatkan dokumen baru, kapal STS-50 kembali melanjutkan operasinya. Dokumen-dokumen tersebut diduga merupakan dokumen palsu. Kapal ini pada 18 Februari 2018 juga ditahan dan diperiksa oleh pemerintah Mozambik di Maputo Port sebelum kembali melarikan diri di hari yang sama.

Saat pemeriksaan, dokumen seperti paspor dan buku pelaut yang dimiliki ABK diambil oleh petugas. Kapal STS-50 kembali melarikan diri tanpa membawa dokumen perjalanan apa pun.

Dokumen-dokumen terkait itu oleh pihak agen penyalur ke-20 ABK disebutkan juga akan dikembalikan bersamaan dengan pencairan gaji. “Ini katanya tadi buku kalian juga akan dikembalikan sore ini,” kata Susi didengar langsung para ABK.

Menteri Susi menjelaskan, sebelumnya ke-20 ABK itu diberangkatkan oleh agen penyalur, PT GSJ dalam tiga kelompok. Kelompok pertama dikirim ke Vietnam pada 25 Mei 2017 sebanyak 4 orang.

Disusul kelompok kedua pada 10 Agustus 2017, memberangkatkan 10 orang, juga ke Vietnam. Terakhir, kelompok ketiga yang berjumlah 6 orang diberangkatkan ke Tiongkok pada 12 Desember 2017.

“Jadi kelompok pertama dan kedua mereka naiknya dari Vietnam. Sedangkan kelompok ketiga dari Tiongkok. Jadi para ABK ini naik kapalnya di dua tempat berbeda,” imbuhnya.

Rupanya keberangkatan para ABK itu dalam perjalanannya kemudian menghadapi sejumlah rintangan di Tiongkok dan Mozambik, hingga saat berada di perairan tenggara Pulau Weh, Sabang, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam pada Jumat (6/4/2018), akhiri pelayaran karena ditangkap.

Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksdya Ahmad Taufiq Rahman menjelaskan, saat kapal STS-50 ditangkap, tengah melaksanakan lintas damai.

“Pas kita tangkap kapal STS-50, sedang melaksanakan lintas damai. Artinya tidak ada kesalahan yang terkait langsung dengan kita,” tandasnya.

Hanya saja, lanjut Taufiq, karena kapal STS-50 merupakan buronan target Interpol dan TNI AL kerjasama jadi ditangkap. Kapal STS-50 ditangkap di perairan tenggara Pulau Weh, Sabang.

Sementara terkait asal-usul kapal STS-50, pihaknya mengaku sedang mendalami. “Dari sejarahnya yang lalu kapal ini dari Jepang, kemudian berganti tangan. Seperti dalam kasus Tiongkok, dia pergi tanpa bawa surat-surat, terus dapat surat lagi di Mozambik juga diambil lagi, sehingga tak punya surat. Ini sedang kita dalami,” ujarnya seraya menegaskan siapa sebetulnya pemilik terakhir kapal STS-50 masih terus ditelusuri.

Menurut Taufiq, sama dengan operasi sebelumnya, di laut punya tantangan yang sama. Pihaknya menyadari tidak bisa menjalankan sendirian, maka dibentuk Satgas yang elemennya mayoritas AL.

“AL tidak bisa bekerja sendiri. Contoh, kita akan tidak pernah mengungkapkan kasus ini kalau tidak ada informasi dari sumber lain. Dari Interpol, KKP negara lain. Di sini TNI AL lebih pada operasi dan Satgas lebih pada penindakan,” jelasnya.

Ada pun penangkapan kapal STS-50 itu, berawal dari permintaan resmi Interpol melalui NCB kepada Pemerintah Indonesia untuk memeriksa Kapal STS-50 yang bergerak menuju perairan Indonesia. Dari laporan Interpol, kapal milik TNI AL, Semeulue, kemudian menggelar operasi henrikhan alias “hentikan, periksa, dan tahan” kapal.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.