banner lebaran

Menuju Wisata Dunia, Pemkab Mentawai Diminta Persiapkan UMKM

Editor: Irvan Syafari

192
Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit-Foto: M Noli Hendra.

PADANG — Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dengan luas satu hamparan mencapai 2.600 hektare, ditujukan untuk menjadi wisata dunia.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit mengatakan, apabila nanti KEK Mentawai selesai dengan nilai investasi mencapai Rp11 triliun itu, maka perlu dipersiapkan tenaga kerja yang andal dan keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menangah (UMKM) di Mentawai.

Ia menyebutkan, saat ini Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai tengah mempersiapkan sejumlah tenaga kerja yang merupakan penduduk asli Mentawai untuk nantinya bekerja. Begitu juga untuk UMKM, juga telah mendapatkan pelatihan dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Barat.

“Saat ini memang UMKM di Mentawai belum ada yang begitu menonjol. Padahal banyak komoditas pertanian di sana untuk dikembangkan menjadi UMKM, mulai dari pisang, singkong, talas. Sebenarnya hal ini perlu dipersiapkan juga oleh Pemkab Mentawai, kira-kira apa yang bagus,” katanya, Selasa (17/4/2018).

Menurutnya, Keberadaan UMKM oleh-oleh wisatawan dan sajian kuliner khas dari Mentawai. Hal tersebut, juga akan mampu menarik wisatawan ke Mentawai, selain menghadirkan indahnya pantai Mentawai.

Apabila Mentawai merasa sulit untuk mempersiapkan UMKM yang khas di daerah tersebut, maka ada kemungkin produk UMKM yang ada luar dari Mentawai, seperti dari Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Bukittingi dan sejumlah daerah yang memiliki UMKM, bisa disuplai ke Mentawai.

“Bisa jadi produk UMKM luar dari Mentawai kita suplai ke sana. Karena Mentawai merupakan bagian dari Sumatera Barat. Jadi untuk masakan rendang juga bisa kita suplai ke Mentawai,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet mengaku sampai saat ini masih rendah nilai tambah ekonomi dan daya saing daerah dalam pengembangan ekonomi dan usaha masyarakat di Mentawai, seperti  produk industri kecil dan industri rumah tangga.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam penguasaan teknologi, inovasi, diversifikasi produk. Kondisi yang demikian, diperparah belum adanya jejaring kerja sama pemasaran produk industri yang dihasilkan oleh masyarakat.

“Usaha yang banyak di sana seperti, laundry, menjual sayur, gorengan, dan UMKM lainnya,” katanya.

Sedangkan terkait dana desa yang diperuntukan untuk desa-desa yang ada di Indonesia ini, khusus di Mentawai pada umumnya dimanfatkan untuk pembangunan infrastruktur, dan belum dimanfaatkan untuk pembangunan ekonomi masyarakat desa (belum ada BUMDes).

Pesoalan lainnya, belum berjalannya peranan koperasi dan belum optimal dalam pengembangan teknologi tepat guna, untuk mendorong tumbuhnya industri rumah tangga dan UMKM. Hal ini juga disebabkan, keterbatasan akses pelaku usaha untuk meningkatkan permodalan melalui pemanfaat kredit.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.