banner lebaran

Menyimak Pesan Presiden Soeharto dalam Peringatan Isra Mi’raj

Editor: Satmoko

1.134

JAKARTA – Umat Islam di Indonesia dan di seluruh dunia memperingati peristiwa Isra Mi’raj pada Sabtu, 14 April 2018 atau 28 Radjab 1439 Hijriah. Sebuah peristiwa lebih dari 14 abad lalu ketika Allah SWT mengutus Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dan dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha.

Pak Harto sebagai Presiden pada zaman Orde Baru selalu memberikan sambutan pada peringatan Isra Mi’raj, sebagaimana dilansir dalam http://soeharto.co mengutip buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, yang diterbitkan Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2008.

Banyak Pelajaran

Pada peringatan Isra Mi’raj tahun 1988, Presiden Soeharto menilai kisah Isra Mi’raj yang diperingati setiap tahun memberikan banyak pelajaran kepada bangsa Indonesia yang berjuang untuk melewati tahap demi tahap pembangunan.

“Isra Mi’raj kita rasakan sebagai pelajaran bahwa setiap perjuangan untuk mencapai cita-cita besar harus bermula dari kebersihan. Niat yang bersih itu adalah bahwa kita berjuang untuk keluhuran, untuk kepentingan dan kemajuan kita bersama,” ujar Kepala Negara dalam sambutannya pada peringatan Isra Mi’raj di Masjid Istiqlal Jakarta, Selasa (17/3/1988) malam.

Menurut Pak Harto, niat saja tidak cukup. “Kita memerlukan manusia-manusia yang berkualitas yang mempunyai keyakinan teguh, pengetahuan yang cukup dan kebijaksanaan yang penuh kearifan,” ujarnya.

Di depan ribuan umat Islam Ibukota Jakarta termasuk Wakil Presiden beserta Ibu dan sejumlah Korps Diplomatik negara-negara sahabat di Jakarta, para pejabat tinggi/tertinggi negara, Presiden menekankan pentingnya peningkatan kualitas sebagai umat dan sebagai bangsa.

“Sebab pembangunan bangsa kita memang harus berarti peningkatan kualitas manusia dan kualitas masyarakat,“ tegas Kepala Negara. Diingatkan, dari segi jumlah, umat dan bangsa kita sangat besar.

Jumlah penduduk saja bukan unsur yang menentukan nilai keberhasilan kita sebagai umat dan bangsa. Justru AI Qur’an sendiri mengingatkan bahwa tidak sedikit kelompok kecil yang mampu mengungguli kelompok yang lebih besar. Ini berarti kualitas lebih menentukan daripada kuantitas, mutu lebih menentukan daripada jumlah.

Bagi Pak Harto, peningkatan kualitas itu memerlukan pendidikan yang sebaik-baiknya dengan berusaha meningkatkan kecerdasan, keterampilan serta kepribadian.

“Tantangan dan tuntutan yang dihadapi jauh lebih besar, sebab masyarakat kita sedang mengalami berbagai perubahan yang bergerak cepat dan berskala luas,“ tandasnya.

Kemanfaatan bagi Orang Lain

Sedangkan pada peringatan Isra Mi’raj tahun 1987, Presiden Soeharto memberikan sambutan di masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (28/3/1987) malam.

“Bagi kita Pancasila bukan sekedar cita-cita. Pancasila juga menyangkut etika dan moral,” katanya.

Kepala Negara selanjutnya mengatakan, melalui agama kita berusaha menghayati hidup yang bermakna, hidup yang bernilai dan hidup yang baik. Salah satu ukuran, apakah hidup kita ini bernilai atau tidak bernilai adalah kemanfaatan kita bagi orang lain.

Kepala Negara mengatakan, Nabi Muhammad SAW telah berkata, “Sebaik­-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesama manusia”. Prinsip tadi, katanya, mutlak dihayati dalam kehidupan bersama sebagai bangsa.

Semua pengikut Nabi Muhammad SAW hendaknya bertekad dalam hati, masing-masing untuk membuat hidup bermanfaat bagi sesama manusia, bagi sesama bangsa kita.

Salah satu bentuk usaha untuk itu adalah melibatkan diri dalam kegiatan pembangunan bangsa dalam arti yang luas. “Hal itu perlu kita sadari kembali sedalam-dalamnya justru ketika saat ini bangsa kita sedang bersiap-siap melaksanakan tugas nasional bersama yang besar, ialah melaksanakan: pemilihan umum bulan depan,” kata Presiden Soeharto.

Disebutkan, pemilihan umum adalah salah satu bagian penting dalam usaha membangun kehidupan politik bangsa. Melalui pemilihan umum, kita semua tanpa kecuali, ikut ambil bagian yang aktif menentukan arah kehidupan bangsa di masa datang.

Masing-masing dari kita memiliki kebebasan yang sama untuk memilih siapa yang dianggap paling tepat untuk mewakili seluruh rakyat Indonesia.

Disebutkan pula, peristiwa Isra Mi’raj yang diperingati justru harus banyak digunakan untuk merenung tentang pentingnya moral dalam kehidupan di dunia. Nabi Muhammad SAW selalu menggambarkan betapa buruknya akibat yang akan dirasakan oleh manusia yang tidak mengindahkan nilai-nilai etika dan moral.

Kemerosotan moral merupakan salah satu penyebab utama kehancuran sebuah masyarakat. Adalah kewajiban kita semua untuk memperkuat sendi-sendi moralitas bangsa kita. Oleh karena itu, dalam kita mewujudkan cita-cita yang luhur masyarakat Pancasila, kita tidak boleh melakukan hal-hal yang justru akan memperlemah sendi-sendi masyarakat yang ingin kita bangun.

Menyadari Keterbatasan

Ada pun pada peringatan Isra Mi’raj tahun 1984, Presiden Soeharto memperingatkan agar bangsa Indonesia tidak terjerumus dalam sikap mendewa-dewakan akal dan penalaran semata-mata. Kepala Negara mengemukakan hal tersebut pada acara Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqlal, (23/6/1984) malam.

“Ada batas-batas manusiawi yang membuat kita harus tahu diri, menyadari keterbatasan kita,” katanya.

Presiden selanjutnya menegaskan, kita harus memberikan tempat pada segi-segi keagamaan dan ketaqwaan, dan alhamdulillah hal ini sudah disadari sepenuhnya.

Kesadaran ini telah dinyatakan secara jelas ketika para pemimpin, pendahulu kita merumuskan nilai-nilai dasar bagi kehidupan bangsa dan negara.

“Oleh karena itulah,” kata Kepala Negara selanjutnya,” Mengapa dalam usaha mengejar berbagai keterbelakangan, dalam usaha meningkatkan taraf hidup rakyat baik dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan tidak dilupakan segi-segi kerohanian”.

Bukan Sekedar Slogan

Dikatakannya, negara kita dan pemerintah kita seperti yang dilakukan selama Indonesia merdeka ini, tidak hanya sekedar menghormati, akan tetapi juga memberikan dorongan dan bantuan bagi kesemarakan kehidupan agama di tanah air.

Sebab kita menyadari bahwa rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam falsafah negara kita, Pancasila, dan dalam Undang-Undang Dasar 1945, tidaklah kita maksudkan hanya sekedar slogan. Ketuhanan Yang Maha Esa haruslah benar-benar kita hayati dalam percaya dan taqwa kepada-Nya.

Dengan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berarti, kita berusaha menuruti kehendak-Nya, mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bagi bangsa Indonesia pembinaan sikap percaya dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa itu merupakan pelaksanaan dari penghayatan dan pengamalan Pancasila.

Karena masalah penghayatan dan pengamalan Pancasila itu lebih banyak menyangkut masalah pendidikan, dengan sendirinya masalah pendidikan agama, terutama untuk anak-anak kita yang masih duduk di bangku sekolah, benar-benar mempunyai peranan yang sangat penting.

Lebih-lebih karena Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai Lembaga Tertinggi Negara juga telah menetapkan bahwa ketaqwaan merupakan salah satu aspek dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yang berfalsafahkan Pancasila.

Pak Harto mengajak seluruh masyarakat untuk menyadari, bahwa tanggung jawab pertama dan utamanya pendidikan agama adalah justru di dalam keluarga, di tangan orang tua sendiri.

“lni penting kita sadari, sebab apabila pendidikan keagamaan, pendidikan moral dan budi pekerti sepertinya akan kita serahkan pada sekolah, maka saya khawatir akan kehilangan salah satu fungsi yang sangat penting,” pungkasnya.

Pesan-pesan yang disampaikan Pak Harto dalam setiap peringatan Isra Mi’raj tetap relevan sampai sekarang. Seperti di antaranya, mengenai niat yang bersih dalam rangka membangun bangsa, pendidikan yang sebaik-baiknya dengan berusaha meningkatkan kecerdasan, ketrampilan serta kepribadian.

Juga anjuran pada kita untuk berusaha menghayati hidup yang bermakna, hidup yang bernilai dan hidup yang baik. Salah satu ukuran, apakah hidup kita ini bernilai atau tidak bernilai adalah kemanfaatan kita bagi orang lain.

Satu hal lagi, Presiden Soeharto memperingatkan agar bangsa Indonesia tidak terjerumus dalam sikap mendewa-dewakan akal dan penalaran semata-mata. Ada batas-batas manusiawi yang membuat kita harus tahu diri, menyadari keterbatasan kita.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.