MUI Bentuk Ikatan Dai Serumpun, Sebarkan Islam Wasattiyah

Editor: Koko Triarko

297
Ketua Komisi Dakwah MUI, Cholil Nafis - Foto: Dok. CDN

JAKARTA – Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan melakukan mauhibah ke negara-negara Asia Tenggara. Hal ini disampaikan pada Rapat Pimpinan (Rapim) MUI di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis, mengatakan, ada beberapa misi di Indonesia yang perlu disebarkan, minimal yang terdekat dari negara kita adalah negara serumpun.

Pada Musyawarah Nasional MUI, sebut dia, menghasilkan sebuah gagasan tentang Islam wasattiyah dan moderat yang bersifat dinamis mengakomodasi terhadap perkembangan.

“Itu kelebihan kita, sehingga di Indonesia yang terjadi selalu membangun harmonisasi, dinamis, dan hidup rukun antarsesama. Islam wasattiyah ini perlu disebarkan,” kata Cholil, ditemui usai Rapim di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Menurut Cholil, saat menyosialisasikan Islam wasatiyyah dipastikan tidak akan ada penolakan. Karena, Islam wasatiyyah adalah benteng dari terorisme, ekstremisme dan liberalisme.

Saat ini, kata dia, masyarakat sedang dihadapkan pada ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Sehingga yang harus ditampilkan adalah ajaran agama yang membawa kedamaian.

Tujuan lain dari mauhibah ini, lanjut Cholil, adalah MUI ingin mempromosikan ukhuwah insaniyah atau kemanusiaan dan wathaniyah. Jadi, ukhuwah keislaman akan MUI kembangkan minimal di negara serumpun dulu.

Lalu, kenapa negara serumpun?

Karena menurut Cholil, Indonesia  sudah ada kesepakatan tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MAE) dan pertemuan dengan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Dan, agama yang mendorong dinamika sosial di serumpun.

“Dengan landasan itu, kita ingin mengenalkan tentang Islam wasattiyah dan moderat, yang ending-nya kita ingin membuat Ikatan Dai Serumpun,” ungkap Cholil.

Dan terkait MEA, kata dia, MUI mempunyai gagasan yang sama tentang ekonomi syariah. Meskipun isu utamanya adalah dakwah para dai mewakili MUI.

Ada pun tujuan dibentuknya Ikatan Dai Serumpun, menurutnya, karena membutuhkan forum di mana para dai itu bisa bersatu dan membangun proses pemahaman keagamaan yang rahmatanlilalamin.

Karena, menurut Cholil, baik tidaknya atau gaduh tidak gaduhnya dan bagaimana prospek dari sebuah keislaman itu berbaur pada budaya. Dan, itu tergantung pada dakwahnya.

Kalau dakwahnya baik, maka akan menjadi baik. Sebaliknya, kalau dakwahnya tidak baik, akan berdampak pada paham keagamaannya. Ini  karena hanya komunikasi personal atau individu.

“Kita ingin jadi organisasi yang berada di bawah organisasi resmi keislaman di ASEAN,” ujar Cholil.

Menyampaikan visi misi tentang pentingnya pemahaman agama yang rahmatanlillalamin bersama membangun ukhuwah, menurutnya, tidak bisa lepas tanpa diikat dengan organisasi. Karena kalau hanya dengan pertemuan tidak akan mampu melakukan kesepakatan, bersama-sama untuk menjaga keamanan dan paham.

“Kan tidak lepas juga. Malaysia juga ketakutan dengan terorisme. Mungkin yang agak aman Brunai, karena kerajaan dan kecil wilayahnya. Tapi, tidak mustahil juga nanti Brunai bergejolak,” ujarnya.

Menurutnya, negara Thailand, Vietnam dan Filipina perlu dibangun paham keagamaan yang lurus. Yakni, ukhuwah islamiyah, ukhuwah insaniyah dan ukhuwah wathaniyah.

Disampaikan Cholil, gagasan membentuk Ikatan Dai Serumpun ada kaitannya dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Komisi Dakwah MUI ingin kesepakatan para ulama di Ikatan Dai Serumpun dipenetrasi ke masjid-masjid yang ada.

Karena, menurutnya,  penguatan masyarakat tetap harus berangkat dari masjid-masjid melalui para khatib. Sehingga nantinya bisa juga dibuat Ikatan Dewan Masjid Serumpun di Kawasan Asia Tenggara.

Cholil menegaskan, melalui Ikatan Dai Serumpun, ingin mempromosikan kerangka keislaman yang ada di Indonesia, yaitu Islam wasattiyah dan moderat. Yakni, Islam yang menjadi garis acuan keagamaan di Asia Tenggara.

“Ikatan Dai Serumpun yang akan kita bentuk ini akan coba konkretkan dalam konsep-konsep. Insha Allah akhir tahun ini kita akan mengundang mereka ke Indonesia untuk membentuk Ikatan Dai Serumpun, resmi di bawah negara,” tegasnya.

Contohnya, jelas Cholil, MUI di Indonesia, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) di Malaysia dan organisasi keagamaan resmi lainnya di negara-negara Asia Tenggara.

Terkait dengan gagasan tersebut, Komisi Dakwah MUI telah menginformasikan dengan datang ke kedutaan negara-negara Asia Tenggara. Komisi Dakwah MUI juga sudah koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI).

MUI juga sudah melakukan komunikasi dengan perwakilan Indonesia di negara-negara yang ada di kawasan Asia Tenggara.

Namun, jelas dia lagi, untuk mauhibah yang sifatnya pertemuan dengan negara-negara Asia Tenggara akan mulai dilakukan kunjungan pada 7 Mei-15 Mei 2018. Dengan mengutus delapan orang ulama dari Komisi Dakwah MUI.

“Insha Allah kita berangkat tanggal 7 Mei hingga 15 Mei 2018 berkunjung ke lima negara dulu. Yaitu, Malaysia, Singapura, Thailand, Bangkok, dan Vietnam,” kata Cholil.

Setelah Ramadhan, menurutnya, Komisi Dakwah MUI akan berangkat lagi ke lima negara Asia Tenggara berikutnya.

Baca Juga
Lihat juga...