Pak Harto pun Jago Bermain Seruling

Oleh: Mahpudi, MT

503

Catatan Redaksi:

Dalam catatan berseri ini, Redaksi Cendana News selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto pada 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK, terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan).

Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013), dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan DIam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013), namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak.

Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Bagian 10 Catatan Ekspedisi Incognito Pak Harto

Usai bersilaturahmi dengan Kyai Haji Irfan Hielmi di Pesantren Darussalam, Cidewa, Ciamis, 8 April 1970, Pak Harto melanjutkan perjalanan Incognito ke arah barat. Dari sumber informasi yang ikut rombongan Pak Harto, kami mendapatkan cerita, sesekali, rombongan berhenti untuk sekadar beristirahat meluruskan kaki dan punggung.

Terkadang pula, Pak Harto menyambangi rumah penduduk yang berada di tepi jalan. Bangunan rumah terlalu “sederhana” yang dijumpai Pak Harto, tetap tak menyurutkan langkahnya untuk masuk dan berbincang dengan warga desa.

Mengacu kepada foto dokumentasi yang dibawa tim ekspedisi Napak Tilas (Mei 2012), kota berikutnya yang disinggahi Pak Harto adalah Tasikmalaya.

Dalam perjalanan melintasi kota Tasikmalaya tersebut, Pak Harto menyempatkan singgah untuk membeli oleh-oleh bagi keluarga di rumah di toko Kandaga-Art Shop. Tentu saja, kehadiran Presiden kedua RI sangat menarik perhatian warga.

Presiden Soeharto saat melihat kerajinan di Toko Kandaga, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 8 April 1970. -Foto: Dok. Museum Purna Bhakti Pertiwi

Seperti yang diperlihatkan dalam foto dokumentasi, Pak Harto bersama rombongan tengah dikerubuti warga. Tampak Pak Harto mengenakan sebuah topi putih kerajinan khas dari daerah setempat. Dengan senyuman khasnya, Pak Harto menyambut ramah kepada rakyat yang berebut mendekat, entah apa yang mereka katakan kepada presidennya.

Solihin GP, yang akrab disapa Mang Ihin, mengingat kembali kenangannya saat ia menjadi Gubernur Jawa Barat mendampingi Pak Harto di toko Kandaga. Pak Harto dan dirinya mengambil seruling yang dipajang di toko tersebut. Aha…..tanpa dinyana, terdengar alunan bunyi seruling yang ditiup Pak Harto.

Mendengar alunan indah seruling yang ditiup oleh seorang Presiden, warga yang mengerubuti pun riuh menyambut aksi kedua pemimpin mereka. Ternyata, Pak Harto pandai memainkan seruling. Sayangnya, Mang Ihin tidak ingat nada-nada lagu apa yang dialunkan Pak Harto dengan seruling itu.

Sebagai sebuah kota yang terkenal, memang, Tasikmalaya bukan hanya sebagai salah satu pusat pengajaran Islam–mengingat cukup banyak pesantren tumbuh berkembang di sini–, melainkan dikenal pula sebagai kota dengan penduduk yang terampil membuat aneka barang kerajinan. Istilah Zaman Now, Tasikmalaya adalah pusat pegiat industri kreatif.

Bagaimana pun, Tasikmalaya sangat lekat sebagai penghasil payung kertas yang terkenal, kelom (sandal kayu) hias, dan sebagainya. Beberapa contoh kerajinan tersebut merupakan sedikit saja produk kreatif orang Tasik yang hingga kini masih digemari sebagai cenderamata.

Belum lagi, aneka barang kerajinan lainnya, antara lain topi anyam, peralatan rumah tangga dari bambu, hingga alat-alat musik berbahan bambu. Ada juga industri batik khas Tasikmalaya yang pada 1970-an, merupakan salah satu pusat industri batik nasional yang tak kalah populer dibanding Batik dari Solo, Cirebon, serta Pekalongan.

Harus diakui, sebagaimana diperlihatkan sepanjang masa pemerintahannya, Pak Harto begitu peduli dengan industri kerajinan rakyat. Pak Harto secara konsisten menggunakan–sekaligus mempromosikan–batik khas buatan rakyatnya dari berbagai penjuru negeri.

Sebagai Presiden, saat itu, Pak Harto juga terkenal dengan kebijakannya yang memprioritaskan penggunaan produk-produk dalam negeri dalam berbagai aktivitas pembangunan. Sepenggal kalimat Pak Harto tentang hal ini, termuat dalam buku otobiografinya;

Adalah kewajiban kita untuk memakai produksi kita sendiri. Sekali pun belum sempurna, adalah kewajiban kita untuk membelinya. Apalagi kalau sudah sempurna. Mengapa kita harus membeli yang lain?” (Soeharto – Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, 1989).

Pada bagian lain, Pak Harto juga gigih mempromosikan kerajinan maupun produk-produk Indonesia dalam berbagai pameran di seluruh dunia. Tak kecuali ketika mendukung Ibu Negara mewujudkan Taman Mini Indonesia Indah, berbagai hasil karya kerajinan rakyat dari seluruh pelosok negeri, mendapat tempat tersendiri di Taman Mini Indonesia Indah. Sebuah taman miniatur peradaban Indonesia yang asri dan harmoni, serta seindah alunan nada tiupan seruling Pak Harto.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.