Pakar: Eksploitasi Sumber Daya Tanah di Indonesia Berlebihan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

213

SOLO — Sektor pertanian masih menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Namun sistem yang digalakkan saat ini masih sebatas mengedepankan kuantitas produksi, tanpa mementingkan sistem pertanian yang bekelanjutan.

Pakar Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Prog Supriyadi menyatakan, pengelolaan tanah yang didasari pemahaman nilai-nilai keamanan dan kualitas tanah merupakan kunci pertanian keberlanjutan.

“Hal ini mengingat, kebijakan pembangunan pertanian di Indonsia hingga saat ini masih mengedepankan kuantitas produksi yang menyebabkan tekanan dan eksploitasi sumber daya tanah secara berlebihan,” ujar Prof Supriyadi dalam jumpa pers kepada awak media, Senin (2/4/2018).

Menurutnya, penggunaan lahan secara intensif untuk memacu produksi biomassa, mengakibatkan terjadinya degradasi lahan. Bahkan berdampak terhadap kualitas lingkungan global.

“Indikator kualitas tanah itu tercermin pada sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta prosesnya. Karakteristik kualitas juga dapat diukur untuk memantau berbagai perubahan dalam tanah,” jelasnya.

Diterangkan, penggunaan bahan agrokimia yakni pupuk anorganik dan pestisida yang melebihi ambang bata dapat berakibat degradasi kesuburan dan ketidakseimbangan unsur hara dalam tanah.

“Sebagai contoh pada lahan sawah yang dikelola secara intensif di daerah pantai utara Jawa sudah menunjukkan pelandaian produktivitas,” ungkapnya.

Lahan pertanian yang dipupuk menggunakan jenis N-P-K secara berlebihan memacu proses dekomposisi bahan organik tanah. Akibatnya sebagian besar lahan sawah intensif kandungan bahan organiknya kurang dari 2 persen. Selain itu pemupukan yang mengandung Fosfor (P) yang berlebihan juga menyebabkan tanaman mengalami defisiensi unsur hara mikro Zn.

Penurunan kualitas dan kesehatan tanah menjadi makin lengkap dengan makin intensifnya sistem pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

“Apalagi sistem pertanian yang digunakan adalah mekanis dan agrokimia untuk memacu produksi pertanian. Penggunaan bahan-bahan ini akan mengusik proses-proses biologi tanah yang semula berjalan secara alamiah,” katanya sembari menambahkan terusiknya proses-proses biologi tanah akan menurunkan atau bahkan menghilangkan keanekaragaman hayati dalam tanah.

Hal inilah yang ditemukan saat penelitian terhadap keamanan dan kualitas tanah, yang dilakukan sejak 2014-2017 lalu. Penelitian dilakukan di kawasan sub-DAS Bengawan Solo Hulu pada 2014, menunjukkan bahwa indek kualitas tanah lebih tinggi dibanding dengan indek kualitas tanah hutan sekunder.

Hasil penelitian Supriyadi menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi lahan pertanian di DAS Bengawan Solo Hulu Sub DAS Keduang menurunkan kualitas tanah.

“Selain itu penelitian tentang kualitas tanah telah dilakukan di Kabupaten Demak, Kabupaten Sragen dan Pati. Pada 2017 -2017 saya juga melakukan penelitian kualitas tanah di Merauke Papua serta di Susukan Semarang,” urainya.

Hasil penelitian tersebut, Supriyadi merekomendasikan, bioindikator merupakan salah satu alternatif yang mudah, murah dan relatif cepat untuk menilai keamanan dan kualitas tanah.

Biota tanah memiliki peran terhadap kesuburan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman, serta sifat-sifatnya yang peka terhadap perubahan lingkungan (misalnya kadar bahan organik tanah).

Interaksi antar biota tanah dan peran ekologisnya harus dipertimbangkan karena kisaran ukuran biota tanah yang sangat lebar (dari mikroba sampai cacing tanah). Keanekaragaman biota tanah dapat ditingkatkan dengan praktek ekofarming berbasis konservasi dengan pengolahan tanah minimum, pengurangan dosis pupuk anorganik, pergiliran tanaman, pemupukan pupuk hayati.

“Sebab, penambahan bahan organik terbukti dapat meningkatkan atau memulihkan keanekaragaman biota tanah,” tekan Pakar Pertanian UNS ini.

Ditambahkan dia, perlu dilakukan penataan materi pendidikan dan penelitian bidang ilmu tanah untuk menyikapi paradigma baru tentang ilmu tanah. Yakni pengelolaan sumber daya tanah yang berlandaskan konsep kualitas, kesehatan dan keamanan tanah.

Hal inilah yang akan menjadi inti dari materi pidato Prof. Dr. Ir. Supriyadi, MP. dalam Pengukuhan Guru Besar Bidang Kualitas Tanah, pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), besok tanggal 3 April 2018 di Auditorium UNS. Dirinya akan dikukuhkan menjadi guru besar ke 27 Fakultas Pertanian dan guru besar ke 189 UNS.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.