Patahan Pipa di Teluk Balikpapan, Diduga Akibat Gerusan Jangkar

Editor: Koko Triarko

363

BALIKPAPAN — Setelah melakukan investigasi terhadap kasus tumpahan minyak yang terjadi pada Sabtu (31/3) Maret di perairan Teluk Balikpapan, Pusat Hidrogafi dan Oseanografi  TNI Angkatan Laut menemukan penyebab patahnya pipa minyak mentah.

Diduga terdapat jangkar kapal yang melintasi di daerah yang berada di kawasan tersebut.

Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Kapushidrosal), Laksamana Muda TNI, Dr. Ir. Harjo Susmoro, menerangkan setelah adanya kasus tumpahan minyak tim bergerak melakukan survei setelah menerima informasi masuk atau sejak Kamis, 5 April lalu.

“Esok harinya, dua kapal modern TNI AL ikut diterjunkan, berikut delapan unit tim survei mobile, dibantu dua unit tim survei darurat,” sebutnya, saat konferensi pers di Kantor Lanal Balikpapan, Selasa (17/4/2018).

Dia menjelaskan, sebelum pada waktu malam kejadian terdapat kapal pengangkut batubara yang melintasi perairan Teluk Balikpapan. Dari pengecekan marine traffic, berhasil terekam kapal yang melintasi di Teluk Balikpapan pada 30 Maret  2018 yang diduga kapal milik MV Ever Judger.

“Ini sesuai data yang didapat. Karena tupoksi Pushidrosal ialah pemetaan laut. Kapasitas saya tidak bisa men-judge itu dari jangkar, karena bukan bidang saya,” katanya.

Berdasarkan tampilan Base Surface, diketahui terdapat lima lajur pipa (empat pipa terdeteksi dan satu terpendam), terdapat parit sepanjang 494,82 meter, dan posisi pipa yang patah bergeser ke arah tenggara sejauh 117,34 meter.

“Pipa yang patah adalah paling utara mengalami pergeseran sejauh 117,34 meter,” tandasnya.

Menurutnya, sesuai aturan, proses lego jangkar sudah dilakukan dari dua mil di titik yang diinginkan. Dan, itu pun juga harus diumumkan oleh nahkoda kepada crew setelah mendapatkan perizinan dan KSOP.

“Menurunkan jangkar tentu tidak sembarangan dan jangkar itu hanya satu meter di atas permukaan, saat awal diturunkan. Nah, kapal juga harus menurunkan kecepatan. Bila sudah pada titiknya, baru diturunkan. Bila tidak sesuai seperti itu, pasti ada salah pemahaman,” terangnya.

Kapal yang mengangkut muatan besar tentu memiliki alat larangan otomatis dan punya peta elektronik melihat kedalaman laut. Artinya, ketika memasuki daerah warning, pasti alarm akan berbunyi.

“Kalau peta elektronik pasti hidup kalau memasuki daerah warning. Beda kalau peta kertas,” ujarnya.

Dari temuan investigasi, pihaknya menegaskan ditemukan satu pipa ilegal yang tidak terdaftar pada peta laut 2015 yang dilakukan Pusat Hidrografi dan Oseanografi di Teluk Balikpapan.

“Peta laut yang kami miliki selalui update. Yang empat pipanya timbul. Kemudian pipa kelima ini ditanam terlihat melalui magnetometer dan belum terdaftar,” tambahnya.

Selanjutnya, pihaknya mempercayai penanganan hukum ke pihak Polda Kaltim. Usai jumpa pers, Laksamana langsung bertolak ke Mapolda Kaltim bertemu dengan Kapolda Irjen Priyo, dilanjutkan ke kantor Refinery Unit V Pertamina Balikpapan.

Baca Juga
Lihat juga...