Pedagang-Konsumen di Lamsel Mulai Keluhkan Naiknya Harga Pangan

Editor: Koko Triarko

166

LAMPUNG – Sejumlah pedagang di pasar tradisional di Lampung Selatan, mengeluhkan terus naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok. Suminah (50), pedagang sayuran menyebut, kenaikan harga sudah terjadi sejak sepekan terakhir.

Menurutnya, komoditas sayuran yang mulai naik antara lain tomat, seledri, daun bawang, dan kentang. Selain sayuran, Suminah yang berjualan gula merah, telur dan kebutuhan dapur lainnya menyebut, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah barang kebutuhan pokok lainnya.

Joni, pedagang ayam pedaging menunggu pembeli di pasar tradisional Pasuruan [Foto: Henk Widi]
Suminah menyebut, harga tomat jenis rampai yang semula Rp7.000 menjadi Rp10.000 per kilogram. Jenis tomat tersebut sukar diperoleh, meski permintaan cukup tinggi dari para pedagang kuliner pecel lele. Sementara jenis tomat keriting yang semula seharga Rp5.000 menjadi Rp7.000 per kilogram.

Jenis sayuran lain, di antaranya selederi, semula Rp15.000 dijual Rp20.000 per kilogram, daun bawang semula Rp4.000 menjadi Rp5.000 per kilogram, kentang semula Rp10.000 menjadi Rp12.000 per kilogram.

“Kenaikan sudah terjadi di tingkat petani dan distributor, sehingga sebagai pedagang pengecer, saya ikut menaikkan harga agar bisa balik modal, karena sebagian sayuran merupakan barang cepat busuk,” papar Suminah, Kamis (19/4/2018).

Meski sejumlah komoditas yang dijual di pasar naik, anggota Persatuan Pedagang Pasar Kalangan (P3K) tersebut mengaku jenis komoditas lain masih stabil, dan sebagian cenderung turun. Beberapa komoditas jenis cabai merah dari semula Rp35.000 menjadi Rp30.000 per kilogram. Cabai rawit semula Rp23.000 menjadi Rp20.000 per kilogram, bawang merah dan bawang putih masih bertahan pada harga Rp28.000 per kilogram.

Pedagang lain bernama Joni, yang berjualan daging ayam pedaging, menyebut harga mengalami kenaikan berkisar Rp5.000 per ekor. Ayam pedaging yang sudah dipotong dan dibersihkan, pada pekan sebelumnya seharga Rp35.000 menjadi Rp40.000. Banyaknya warga yang melakukan hajatan untuk resepsi pernikahan, khitanan disebutnya ikut mempengaruhi kenaikan harga.

“Harga masih berpotensi naik menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Namun, tetap menyesuaikan tingkat permintaan masyarakat,” papar Joni.

Joni yang mengambil stok ayam pedaging di peternakan ayam di Desa Sidomulyo, mengaku sejumlah peternak masih menahan untuk menjual dalam jumlah banyak. Semula, pasokan per hari bisa mencapai 100 ekor ayam pedaging, saat ini hanya diberi jatah sekitar 50 ekor.

Selain belum banyak yang siap potong, sebagian peternak sengaja memelihara ayam pedaging untuk stok bulan Ramadha,n saat kebutuhan daging tinggi.

Pedagang lain di pasar tradisional Sripendowo, Kecamatan Ketapang, Idawati (40), juga mengaku kenaikan harga gula, telur dan tepung tapioka mulai terlihat. Pemilik toko tersebut mengatakan, gula merah semula dijual Rp13.000 kini menjadi Rp15.000 per kilogram, telur dari semula Rp20.000 menjadi Rp23.000 per kilogram dan gula putih semula Rp10.000 menjadi Rp12.000.

Jenis komoditas beras medium disebutnya justru stabil seiring dengan musim panen pada kisaran Rp12.500 per kilogram.

“Sebagai pengecer kita mengikuti kenaikan harga distributor, meski kita harap harga stabil menyesuaikan daya beli dan tingkat permintaan masyarakat,” paparnya.

Idawati juga menyebut, terkait harga kebutuhan pokok sebelum bulan Ramadhan, kerap ada inspeksi mendadak dari instansi terkait. Sidak dilakukan untuk memantau harga sembilan bahan pokok komoditas untuk stabilisasi harga, di antaranya beras, jagung, kedelai, gula, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, daging beku, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Idawati mengaku belum berani menaikkan harga, jika harga di tingkat distributor belum naik.

Sementara itu, Anita (38), ibu rumah tangga (IRT), menyebut kenaikan harga erasa pada harga telur ayam ras dan tepung tapioka. Harga telur yang semula sempat dibelinya seharga Rp20.000 di sejumlah toko sudah dijual Rp24.000 per kilogram.

Selain itu, harga tepung tapioka atau aci semula Rp8.000 naik menjadi Rp10.000 per kilogram. Kebutuhan untuk membuat kue dan kuliner lain disebutnya ikut mempengaruhi harga telur dan tepung tapioka.

“Bulan Ramadhan belum tiba, namun sejumlah komoditas mulai naik, karena kebutuhan juga meningkat,” papar Anita.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.