Pekerja Persemaian Permanen di Lampung Didominasi Perempuan

Editor: Koko Triarko

212

LAMPUNG — Peranan perempuan pada sektor kehutanan sangat penting, yang dapat dimulai dari proses pembibitan serta pemeliharaan pohon yang ada di perkebunan masyarakat.

Eka Fitriana selaku petugas administrasi bibit di Persemaian Permanen Karangsari, di bawah pengelolaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyebut pekerja di persemaian permanen tersebut didominasi kaum perempuan. Dari total 40 pekerja di persemaian permanen, 12 di antaranya laki laki dan  25 pekerja perempuan.

Eka Fitriana selaku bagian administrasi bibit Persemaian Permanen Lampung milik Kementerian Lingkugan Hidup dan Kehutanan [Foto: Henk Widi]
Menurut Eka, pemilihan pekerja perempuan untuk mendukung penyediaan bibit dimulai dari penyediaan media tanam. Sebagian perempuan bertugas mengisi polybag dengan media tanam tanah, cocopeat dan serbuk gergaji. Sebagian bertugas memindahkan bibit dari persemaian ke polybag yang diletakkan dalam lokasi khusus dilengkapi dengan jaring khusus.

“Ketelatenan serta kesabaran kaum perempuan dalam bekerja menjadi pilihan untuk penyediaan bibit, dan hampir semua pekerjaan yang dilakukan ringan sementara untuk pekerjaan berat tetap melibatkan laki-laki,” terang Eka Fitriani, Rabu (4/4/2018)

Setelah bibit dipindahkan dalam media semai, sejumlah pekerja perempuan tersebut juga memiliki tugas merawat tanaman. Tanaman yang sudah memasuki usia siap dipindah ke lahan perkebunan dan kehutanan akan dirawat setiap hari dengan penyiraman otomatis menggunakan sprinkle.

Bekerja sejak pagi hingga sore, kata Eka, sebagian perempuan merupakan warga yang tinggal di dekat lokasi persemaian permanen. Pemberdayaan kaum perempuan untuk mendukung sektor kehutanan diakui Eka Fitriana juga untuk memberi tambahan penghasilan. Sebagian kaum perempuan yang bersama suami memiliki lahan untuk bisa ditanami berbagai jenis tanaman kayu bahkan mendorong para suami untuk menanam pohon.

“Sebagian perempuan selain bekerja di persemaian permanen memiliki peranan menularkan semangat menanam pohon di masyarakat dan sudah dilaksanakan,” terang Eka Fitriana.

Pada tahun anggaran 2018, menurut Eka, persediaan jumlah bibit yang disediakan masih berkisar Rp2,5 juta bibit. Jumlah tersebut terdiri dari 29 jenis bibit, 15 di antaranya merupakan jenis bibit kayu kayuan dan 14 lainnya merupakan jenis tanaman multy purpose tree species (MPTS).

Jumlah tersebut lebih menurun dari tahun sebelumnya dengan sebanyak 39 jenis bibit. Sebagian bibit hasil produksi 2017 masih tersisa dan dimasukkan dalam anggaran tahun 2018.

Sejumlah bibit pohon yang disediakan kembali, karena permintaan yang meningkat, di antaranya petai, jambu jamaica, kecapi, rambutan, jering, pucuk merah. Pada tahun anggaran 2017 tanaman tersebut tidak disediakan dan baru disediakan pada tahun ini, bersama jenis bibit tanaman lain.

Bibit yang disediakan tahun ini meliputi petai sebanyak 40.000 bibit, jambu jamaica sebanyak 10.000 bibit, kecapi sebanyak 5.000 bibit, rambutan sebanyak 30.000, jering 20.000 bibit, pucuk merah sebanyak 5.000.

“Kami menyediakan bibit pohon juga, karena faktor minat masyarakat yang tinggi akan bibit tertentu dominan merupakan tanaman produktif untuk dipanen dalam bentuk kayu,” terang Eka Fitriana.

Jenis bibit tersebut diakui Eka Fitriana pada tahun 2017 rata-rata berjumlah di bawah satu juta bibit, dan tahun ini mengalami peningkatan dan sebagian mengalami penurunan.

Pada 2017, bibit sengon disediakan sebanyak 925.000 bibit dan tahun ini menjadi 1.280.000, sementara pada 2017 jumlah bibit acasia mangium yang semula 270.000 bibit menjadi 200.000 bibit, cempaka dengan jumlah bibit sebanyak 210.000 pada tahun ini sebanyak 170.000 bibit.

“Pekerja perempuan selalu diberi pengarahan penanganan bibit yang berbeda sesuai jenisnya sehingga setiap bibit bisa tumbuh dengan maksimal,” terang Eka Fitriana.

Rohma (40), salah satu pekerja perempuan mengaku sudah hampir tiga tahun bekerja di persemaian permanen Karangsari. Ia memiliki tugas menyiapkan media semai, merawat tanaman dan membantu proses persiapan distribusi bibit.

Sebagai pekerja tetap di persemaian permanen, ia mengaku mendapatkan penghasilan dengan bekerja bersama puluhan perempuan lain. Total dari sebanyak lima desa para pekerja perempuan tersebut berasal.

Selain bekerja dalam penyediaan bibit, Rohma juga ikut melakukan investasi dalam bidang penanaman jenis pohon sengon yang bisa dipanen setiap enam tahun sekali. Ia ikut membantu sang suami merawat pohon sengon yang ditanam di kebun sekaligus sebagai investasi bagi keluarganya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.