Pemda Morowali Diharapkan Bangun Pusat Perbelanjaan

279
Ilustrasi - Suasana di pusat perbelanjaan. Dok CDN

PALU  – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Miyono menantang pemerintah daerah khususnya di Kabupaten Morowali, untuk membangun pusat perbalanjaan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di daerah pertambangan nikel tersebut.

“Perlulah di Morowali dibangun pusat perbalanjaan, meskipun tidak besar, sehingga masyarakat Bungku tidak berbelanja ke Kendari, Sulawesi Tenggara,” kata Miyono di Palu, Minggu.

Miyono menyatakan bahwa ini merupakan fakta karena banyaknya uang yang disalurkan dari BI ke Morowali sangat cepat terserap oleh masyarakat.

“Minggu depan ini, kami harus ke Morowali lagi, bermiliar-miliar uang ke sana, ke mana duit itu? Informasi dari masyarakat, mereka berbelanja ke Kendari, karena itu kota paling dekat dari Bungku,” ujarnya.

Artinya, kata Miyono, BI Sulteng yang mengeluarkan duit, tetapi BI Kendari yang menerima dan mengelola duit.

Kalau uang-uang tersebut dibelanjakan di Kendari, maka yang berkembang adalah daerah tersebut, bukan Bungku sebagai ibu kota Kabupaten Morowali.

Sementara itu, Senior Vice Presiden PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Slamet Victor Panggabean mengatakan Kabupaten Morowali saat ini terus berkembang seiring dengan investasi yang terus bergerak naik.

Terkait dengan pembangunan pusat perbelanjaan, Slamet menyatakan keyakinannya bahwa itu dapat dilakukan oleh beberapa perusahaan lokal, dan tidak hanya IMIP.

“Saya yakin banyak perusahaan di Morowali bisa membangun pusat perbelanjaan, apalagi masih banyak ruang untuk itu,” ujarnya.

Menurut Slamet, khusus tenaga kerja lokal di IMIP, saat ini telah mencapai 21 ribu orang. Sementara target hingga tahun 2020 dapat mencapai 25 ribu orang.

“Kalau sebagian besar dari mereka berbelanja di pusat perbelanjaan nantinya, pasti akan menambah perputaran ekonomi dan meningkatan pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.

Akhir tahun 2017, BI Sulteng telah membuka kas titipan BI di Bungku, ibu kota Morowali. Kas titipan itu adalah yang ke-114 secara nasional serta yang ke-5 untuk Sulteng.

Menurut Miyono, kas titipan itu diberikan limit yang besar karena kebutuhan uang yang juga luar biasa.

Pihaknya menggandeng Bank Sulteng sebagai bank yang dimiliki oleh pemerintah daerah sehingga bank-bank di sana, tidak lagi mengambil duit ke Palu, tetapi ke Bank Sulteng. (Ant)

Baca Juga
Sejumlah Cara untuk Menjaga Kestabilan Rupiah JAYARAPURA  - Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengajak masyarakat untuk aktif dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah d...
Pengembangan Jasa Keuangan Syariah Percepat Pemban... JAMBI  - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi, Fachrori Umar, mengatakan, pemerintah daerah itu berkomitmen mendukung pengembangan sektor jasa keuanga...
Stabilkan Harga Penjualan, Pertamina Gelar Operasi... PARIGI  - Operasi pasar elpiji bersubsidi yang sedang digelar PT Pertamina (Persero) di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dimaksudkan untuk m...
Petani Keluhkan Harga Kopra di Palu Merosot PALU --- Petani kelapa di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mengeluhkan harga kopra, komoditi ekspor unggulan di daerah, yang terus meros...
Harga Daging Ayam Potong di Parigi, Melonjak PARIGI --- Harga daging ayam potong di Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, melonjak menjelang Lebaran Haji atau Idul Adha 1439 Hijriah/...
Ekonomi Membaik, Sewa dan Beli Properti, Meningkat DENPASAR - Hasil Survei Perkembangan Properti Komersial yang dilaksanakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali pada triwulan II-201...
BI: Tekanan Global Masih Pengaruhi Kondisi Rupiah JAKARTA --- Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, menilai tekanan global masih mempengaruhi pergerakan mata uang terhadap dolar AS...