Peneliti: Fosfat Alam Dongkrak Produktivitas Jagung

274
Jagung, ilustrasi -Dok: CDN

JAKARTA – Batuan fosfat alam dengan bantuan pupuk kompos, terbukti mampu secara signifikan mendongkrak produksi jagung hingga lima kali lipat.

Peneliti kesuburan tanah Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Wahida Annisa, mengatakan idealnya jagung tumbuh baik pada kondisi kemasaman tanah mendekati netral dengan kandungan hara N, P, K, Ca, dan Mg yang cukup.

“Secara alamiah, tanah sulfat masam justru kurang disukai bagi jagung, karena tanahnya masam, kadar bahan organik rendah dan miskin hara P,” kata Wahidah, di Jakarta, Senin (16/4/2018).

Karena itu, ia mengatakan, pemberian fosfat alam dan pupuk kompos dapat memanipulasi tanah sulfat masam menjadi menyenangkan bagi pertumbuhan jagung. “Hasilnya jadi berlimpah,” kata Wahida.

Tanah di lahan rawa sulfat masam memerlukan P takaran tinggi untuk memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas tanaman.

Sebelumnya, petani menggunakan pupuk P yang diasamkan (TSP dan SP-36) agar mudah larut, tetapi ternyata sebagian besar P akan segera difiksasi Al dan Fe menjadi tidak tersedia bagi tanaman. “Proses yang mahal tersebut jadi mubazir,” kata Wahida.

Padahal, harga pupuk tersebut sangat mahal sehingga penggunaan di tingkat petani sangat terbatas.

Penggunaan fosfat alam secara langsung tanpa pengasaman merupakan alternatif yang tepat, karena pupuk ini lebih murah, tapi efektivitasnya sebanding dengan TSP atau SP-36.

Pihaknya pun merekomendasikan penggunaan fosfat alam secara langsung 1 ton per hektare untuk lima musim tanam. Hal itu terbukti efektif diterapkan untuk petani di lahan rawa sulfat masam, misalnya di Kalimantan Selatan.

Petani dari Poktan Tani Mukti, Desa Kolam Kiri Dalam, Kecamatan Berambai, Kabupaten Barito Kuala, Hardiyanto, telah membuktikan penggunaan batuan fosfat alam dan pupuk kompos yang mampu mendongkrak produksi jagung yang semula hanya tiga-empat ton per hektare, dapat didongkrak hingga lima kali lipat menjadi 15-20 ton per hektare.

“Kami atasi dengan adopsi teknik tanam jagung di lahan kering masam,” katanya.

Lahan masam sendiri, menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Fathurahman, memiliki problem yang khas, yaitu pupuk fosfor yang diberikan tidak semuanya dapat diserap tanaman, tetapi malah dijerap tanah. “Pemupukan TSP dan SP36 tidak efektif, karena mereka tidak larut,” kata Fathurahman.

Fosfat alam merupakan bahan tambang mineral yang digunakan sebagai bahan baku utama pupuk P dan memiliki reaktivitas tinggi, serta efek residu yang bersifat slow release. Fosfat alam dari Maroko memiliki kandungan P2O5 28-32 persen dan menjadi sumber utama bahan pupuk TSP dan SP-36 untuk industri pupuk di Indonesia.

Fakta terbaru tersebut, menurut Fathurahman, semakin menegaskan tekad Kalsel untuk melipatgandakan produksi dengan teknologi hasil Balitbangtan.

“Kini, Kalsel dapat memperluas sentra produksi jagung yang semula hanya di lahan kering menjadi di rawa sulfat masam,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...