banner lebaran

Pengungsi Rohingya Tinggalkan Myanmar Menuju Malaysia Dengan Kapal

229
Ilustrasi imigran kapal - Dokumentasi CDN

KUALA LUMPUR – Sebuah kapal yang membawa 70 warga Muslim Rohingya berangkat ke Malaysia dari Myanmar pekan ini. Menurut sebuah kelompok hak asasi, para pengungsi tersebut memulai perjalanan laut yang berbahaya.

Kapal itu akan menjadi kapal kedua yang tiba di Malaysia bulan ini saat warga Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine, Myanmar. Diharapkan kapal tersebut bisa sampai sebelum musim hujan pada Mei yang diprediksi membawa badai di laut yang dapat membahayakan hidup mereka.

“Perahu akan tiba di perairan Malaysia pada minggu depan, dengan asumsi kapal tersebut tidak datang dalam keadaan bahaya atau membuat pendaratan di Thailand,” kata pendiri kelompo hak asasi Fortify Rights Matthew Smith, Sabtu (14/4/2018).

Smith menyebut, kelompoknya telah menerima laporan mengenai keberangkatan kapal tersebut pada 12 April lalu. Perjalanan kapal tersebut tidak hanya berbahaya karena situasi di tengah laut yang memberikan risiko kapalnya bisa terbalik, tetapi juga para penumpang terancam kekurangan makanan, air, dan ruang gerak.

Kapal itu meninggalkan Sittwe, ibu kota negara bagian Rakhine, pada Kamis (12/4/2018) jam-jam dini hari. Pihak berwenang setempat sempat menghentikan namun akhirnya kapal dilepas untuk melanjutkan perjalananya. Menurut dua sumber yang meminta untuk tidak disebutkan identitasnya mengingat topiknya sensitif, terdapat tujuh puluh orang berada di kapal tersebut.

Kondisi cuaca maupun penolakan oleh pihak berwenang diprediksikan dapat membawa perahu ke perairan Thailand atau Indonesia. Juru bicara pemerintah Myanmar tidak segera menanggapi panggilan telepon untuk memberikan keterangan. Bulan lalu, nelayan Indonesia menyelamatkan sedikitnya lima Muslim Rohingya dari Pulau Sumatera, dengan informasi yang mengatakan lima orang lagi tewas di laut.

Sejak Agustus, hampir 700 ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri dari tindak keras brutal militer di Myanmar ke negara tetangga Bangladesh, menurut PBB dan lembaga bantuan para pengungsi telah melaporkan pembunuhan, perkosaan dan pembakaran dalam skala besar. Amerika Serikat dan PBB telah menyebut situasi tersebut sebagai pembersihan etnis.

Myanmar membantah hampir semua tuduhan, dan mengatakan pihaknya melancarkan operasi kontra-pemberontakan yang sah. Pemerintah telah mengatakan bahwa tindak keras tentara diprovokasi oleh serangan militan Rohingya di lebih dari dua puluh pos polisi dan pangkalan militer Agustus lalu.

Badan pengungsi PBB mengatakan, kondisi di Myanmar belum siap bagi pengungsi Rohingya untuk pulang. Myanmar mengatakan siap menerima para pengungsi, dengan salah satu menteri pekan ini yang mengatakan kepada para pengungsi di Bangladesh untuk melupakan masa lalu dan bersiap untuk kembali ke tempat tinggal mereka sendiri.Beberapa pengungsi mengatakan mereka takut kembali karena penganiayaan yang mereka terima. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.