Pengusaha di Sikka Masih Gunakan Penjualan Konvensional

Editor: Irvan Syafari

365
Yuliana Daton, seorang perempuan pengusaha salon kecantikan,kuliner dan butik di Kabupaten Sikka-Foto : Ebed de Rosary.

MAUMERE –– Ketua DPC Iwapi Kabupaten Sikka Sherly Irawati mengatakan, para pengusaha khususnya Usaha Kecil dan Manengah (UKM) di Kabupaten Sikka masih menjual produk secara konvensional dan belum memasuki pasar penjualan secara daring (online) atau menggunakan internet sebagai medianya.

“Masih banyak pelaku usaha di Kabupaten Sikka yang hanya menggunakan cara penjualan konvensional. Cara ini cukup bagus untuk menjual barang secara langsung cash and carry, namun pengusaha perlu mengikuti perkembangan jaman,” sebut Sherly, Rabu (18/4/2018).

Dengan penjualan konvensional terang Sherly, penjual dan pembeli dapat bertemu langsung untuk melihat barang secara kasat mata, meraba dan mengetahui posisi dan keberadaan satu sama lainnya di dunia nyata. Di era modern dan serba digital ini, kita tidak cukup bila hanya mengandalkan penjual konvensional saja.

“Kita harus bisa menguasai pasar yang lebih luas dengan sistem digital marketing, dimana kita terhubung secara lebih luas dengan calon pembeli di seluruh dunia. Kita bisa gunakan media sosial seperti Fecebook, Fanpage, Instagaram serta kewat website dengan membuka situs lapak,” tuturnya.

Menurut Sherly lapak daring sarana memperluas jaringan usaha/ Ke depannya Iwapi berencana untuk bisa bekerja sama dengan pihak akademisi untuk menyelenggarakan “Digital Marketing Training” untuk pelaku UKM.

“Ini merupakan langkah kesiapan kita menuju pasar global dan menghadapi berlakunya MEA, Pasar Ekonomi ASEAN. Sehingga kehadiran MEA itu sendiri tidaklah menjadi momok yang perlu ditakuti tetapi justru sebaliknya menjadi peluang pengembangan usaha yang menjanjikan,” tegasnya.

Pemiliki Jaya Baru Handicraft ini berpoesan kepada pengusaha agar buang jauh jauh pemikiran negatif dan pesimis dari diri kita. Pandang hidup kita secara optimis, penuh percaya diri dan siap menghadapi segala tantangan yang akan dihadapi.

“Apabila di tengah jalan menemui kendala atau kegagalan, maka kegagalan tidak akan menjadikan diri kita putus asa, tapi sebaliknya akan menjadi sebuah pembelajaran untuk menjadi lebih baik dan kuat,” pesannya.

Sementara itu, Yuliana Daton salah seorang perempuan pengusaha salon kecantikan,kuliner dan butik mengatakan, dirinya mulai menjual produknya lewat media sosial sebab lebih mudah memasarakannya dan yang terpenting pemasarannya gratis.

“Daripada kita menggunakan media sosial untuk hal-hal yang negatif, lebih baik dipergunakan untuk hal-hal positif. Menjual di media sosial tidak membutuhkan biaya promosi yang besar. Banyak pembeli dari luar Sikka yang memesan produk saya setelah melihatnya di media sosial,” tuturnya.

Yuliana pun berpesan agar para pengusaha UKM bisa memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk mereka di media sosial. Tetapi produk yang mau dipasarkan di media sosial hendaknya dikemas secara baik lewat bahasa pemasaran dan gambar yang menarik pembeli.

“Tidak sulit memasarkan produk kita lewat media sosial apalagi kalau pembeli sudah mengenal produk kita maka mereka akan rutin memesan produk kita.Yang terpenting kita menjaga komunikasi dan hubungan bisnis yang baik dengan pembeli,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...