banner lebaran

Perbaikan Kualitas Pendidikan Tingkatkan IPM NTB

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

241

MATARAM — Capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam tujuh tahun terakhir cukup menggembirakan dan terus mengalami kemajuan.

IPM Provinsi NTB meningkat dari 61,16 di 2010 menjadi 66,58 pada 2017. Selama periode 2010-2017, IPM Provinsi NTB tumbuh 8,85 persen dengan status capaian IPM sedang. Laju pertumbuhan dibandingkan 2016 juga cukup tinggi yaitu 1,17 persen.

“Jika kecepatan pertumbuhan IPM dapat dipertahankan maka bukan tidak mustahil suatu hari nanti akan dapat mencapai level tinggi,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Endang Tri Wahyuningsih di Mataram, Senin (16/4/2018).

Dikatakan, meningkatnya IPM dari 65,81 pada 2016 menjadi 66,58 di 2017 telah membawa NTB menaiki tangga peringkat ke 29 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.

Salah satu faktor yang menyebabkan IPM NTB meningkat adalah, adanya upaya perbaikan kualitas pendidikan, berupa dimensi pengetahuan yang dibentuk oleh dua komponen yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS).

“Penduduk di Provinsi NTB memiliki harapan untuk bersekolah hingga semester 3 perguruan tinggi dengan HLS mencapai 13,46 tahun. Selama periode 2010 hingga 2017 telah terjadi peningkatan HLS yang membanggakan,” jelas Endang.

2010, penduduk NTB hanya memiliki harapan untuk mengenyam pendidikan hingga kelas 3 SMA dengan HLS bernilai 11,66 tahun. Rata-rata peningkatan per tahun mencapai 0,26 tahun atau sekitar satu triwulan dalam dunia pendidikan. HLS sepanjang periode 2010 hingga 2017 tumbuh sebesar 2,07 persen per tahun.

Dijelaskan, sinyal positif membaiknya kualitas pendidikan manusia NTB semakin diperkuat dengan peningkatan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Pada tahun 2010 RLS penduduk usia 25 tahun ke atas di Provinsi hanya selama 5,73 tahun atau dapat dikatakan belum sampai tamat SD.

Tapi setelah itu, terjadi peningkatan RLS mencapai 1,17 tahun selama periode 2010 hingga 2017, dimana pada tahun 2017 RLS penduduk usia 25 tahun ke atas di NTB telah mencapai 6,90 tahun atau setingkat dengan kelas VII SLTP. Rata-rata laju pertumbuhan RLS mencapai 2,70 persen per tahun dalam rentang waktu 2010 hingga 2017

“Faktor lain yang menyebabkan IPM NTB naik adalah Umur Harapan Hidup (UHH). 2017 UHH NTB mencapai 65,55 tahun, kalau dibandingkan UHH 2010 sebesar 0,38 persen, faktor lain adalah standar layak hidup yang diindikasikan oleh komponen Pengeluaran per Kapita” katanya

Dimana pengeluaran per kapita masyarakat NTB telah mencapai Rp9,877 juta per tahun. Sehingga per bulannya penduduk NTB mengeluarkan sekitar Rp823 ribu per orang.

Level IPM NTB sendiri berada di bawah level Nasional. Selisih IPM Provinsi NTB dengan Nasional pada tahun 2010 cukup lebar yaitu sebesar 5,37 poin. Seiring dengan berjalannya waktu, selisih ini semakin menipis menjadi 4,23 poin pada 2017. Artinya NTB semakin berbenah dan berusaha mengejar ketertinggalan dengan Nasional.

Sebelumnya Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Ridwansyah mengakui, salah satu faktor utama yang menyebabkan IPM NTB lamban mengalami kenaikkan adalah, karena faktor SDM.

Karena itulah, sebagai upaya meningkatkan IPM NTB, setiap tahun Pemprov NTB terus berupaya menaikkan anggaran pendidikan, termasuk terus meningkatkan partisipasi sekolah, memberantas buta aksara dan angka drop out.

“Kalau untuk pemberantasan buta aksara telah dilaksanakan melakui program keaksaraan fungsional dan telah mampu menurunkannya, sekarang ini yang terus didorong adalah bagaimana meningkatkan partisipasi sekolah,” kata Ridwansyah.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.