Petani Lamsel Simpan Padi untuk Persiapan Ramadhan

Editor: Koko Triarko

178

LAMPUNG — Masa panen padi Maret hingga April mulai berlangsung di Desa Ruang Tengah, Pasuruan, Klaten dan beberapa desa lain di Lampung Selatan.

Sajimin (40), mengatakan, pada masa tanam Oktober-Maret petani terbantu oleh kondisi musim hujan yang lancar dan serangan hama yang minim, sehingga hasil panen maksimal dibanding musim tanam sebelumnya akibat serangan hama dan kekurangan air.

Produktivitas padi yang melimpah wilayah Desa Klaten, katai Sajimin, didukung oleh fasilitas irigasi yang mendukung dari Gunung Rajabasa. Pada musim panen sebelumnya, dengan adanya serangan hama keong mas, wereng dan burung membuat produktivitas padi menurun. Hasil panen padi varietas Ciherang pada masa tanam di lahan satu hektare hanya mencapai 5 ton.

“Pada masa panen sebelumnya, hasil panen tidak maksimal akibat serangan hama sehingga saya terpaksa menjual dalam bentuk padi, karena harga jual cukup lumayan perkuintalnya,” terang Sajimin, petani padi di Desa Ruang Tengah, Senin (2/4/2018).

Sajimin menyebut, pada masa panen sebelumnya harga padi kering panen mencapai Rp5.000 per kilogram atau Rp500 ribu per kuintal. Kebutuhan untuk biaya sekolah membuatnya menjual sebanyak dua ton dari total hasil panen sebanyak lima ton.

Pada masa panen tahun ini, ia menyebut hasil panen padi miliknya cukup maksimal, mencapai enam ton. Padi hasil panen tersebut selanjutnya disimpan di pabrik penggilingan padi yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan.

Dayam, warga desa Klaten sudah menyiapkan lalahan untuk media semai sebelum panen selesai [Foto: Henk Widi]
Setelah disimpan di gudang penyimpanan, ia akan mengambil dan menjual dalam bentuk beras untuk kebutuhan Ramadan dan hari raya Idul Fitri. “Saya lebih baik menyimpan dalam bentuk gabah selanjutnya jika membutuhkan uang bisa dijual dalam bentuk beras,” beber Sajimin.

Penyimpanan padi hasil panen juga dilakukan oleh Dayam (50), warga desa Klaten yang memiliki padi varietas Ciherang. Pada lahan seluas setengah hektare miliknya, produksi padi yang dipanen mencapai tiga ton sebagian dipergunakan untuk stok kebutuhan sehari-hari, tanpa menjual gabah. Dayam mengungkapkan pada masa panen tahun ini harga jual padi berkisar Rp4.500 per kilogram atau sekitar Rp450 ribu per kuintal.

Dayam memilih menyimpan padi miliknya dan menjual dalam bentuk beras yang saat ini seharga Rp7.800 per kilogram hingga Rp8.000 per kilogram. Selain itu, penyimpanan hasil panen dalam bentuk gabah dilakukan untuk persiapan bulan Ramadan pada Mei mendatang dan hari raya Idul Fitri pada bulan Juni.

“Prediksi masa puasa Ramadan hingga hari raya Idul Fitri kami belum masa panen, bahkan masih memasuki masa padi berusia satu bulan setelah tanam,” terang Dayam.

Dayam juga menyebut, pada awal April dirinya sekaligus langsung melakukan penerapan sistem culik semai. Sistem culik semai merupakan program yang diterapkan oleh Koramil 03/Penengahan melalui bintara pembina desa (Babinsa) dalam program Luas Tambah Tanam (LTT).

Program culik semai dilakukan dengan membuat persemaian setelah masa panen berakhir tanpa menunggu waktu pembersihan lahan. Penyiapan persemaian melalui program culik semai dilakukan untuk mempercepat masa tanam.

Selain didukung oleh ketersediaan bibit, fasilitas irigasi yang memadai membuat proses penyiapan lahan semai lebih mudah. Program culik semai dengan menyiapkan lahan semai lebih awal tersebut juga diakui oleh Sersan Dua Sudarwanto, anggota Koramil 03/Penengahan.

Ia menyebut, upaya swasembada pangan sekaligus meningkatkan produksi padi dilakukan lebih awal atau curi start, bahkan sebelum panen. Meski program tersebut masih belum umum dilakukan, sosialisasi kepada petani sekaligus Babinsa sudah terjun ke kecamatan Ketapang, Penengahan dan Bakauheni.

Sesuai data, menurut Serda Sudarwanto, program culik semai mulai diterapkan pada masa tanam tahun ini. Berdasarkan data luas tambah tanam di wilayah Koramil 03/Penengahan mencapai  lebih dari dua hektare, di antaranya Ketapang 1.023 hektare, Penengahan seluas 1.700 hektare, Bakauheni seluas 180 hektare.

Selain penerapan program culik semai, Babinsa juga mendorong agar petani tidak menjual gabahnya keluar daerah Lampung, bahkan didorong untuk menyimpan di lumbung sejumlah penggilingan untuk stok.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.