Peternak di Lamsel Waspadai Virus Jembrana

Editor: Koko Triarko

309

LAMPUNG — Virus jembrana yang menyebabkan belasan ternak sapi mati mendadak di wilayah kabupaten Mesuji, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, membuat peternak di Lampung Selatan, waspada.

Peternak sapi di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Alpen (40), mengaku pernah mengalami satu ekor sapi miliknya mati, meski tidak terindikasi virus jembrana, yang berdasarkan informasi dari penyuluh peternakan ditularkan melalui serangga jenis nyamuk dan lalat penghisap darah.

Meski belum menemui adanya virus jembrana di wilayahnya, Alpen melakukan pencegahan dengan menjaga kebersihan kandang. Ia juga membuat sistem pagar tembok, sehingga sapi tidak diliarkan dan berinteraksi dengan sapi milik peternak lain. Selain kebersihan kandang, Alpen juga menggunakan sistem ‘bedian” atau membuat perapian tak jauh dari kandang setiap sore menghindari lalat mendekat ke kandang.

Irwansah, peternak kambing memberikan pakan hijauan dan campuran kulit kakao [Foto: Henk Widi]
“Penyebaran virus jembrana informasinya dari nyamuk dan lalat, sehingga saya meminimalisir timbulnya nyamuk dan lalat dengan membuat sistem saluran air agar tidak menggenang,” terang Alpen, Senin (16/4/2018).

Saluran air yang berasal dari air seni enam ekor sapi miliknya bercampur dengan air minum, disalurkan ke penampungan khusus. Penampungan air tersebut terhubung dengan biodigester untuk pembuatan biogas, sehingga limbah kotoran, air seni sapi tidak mengotori lingkungan. Selain itu, genangan air dari kotoran tidak mengakibatkan bau menyengat sekaligus menjadi tempat berkembangnya lalat dan nyamuk.

Selain menjaga kebersihan kandang dengan pengelolaan limbah ternak, Alpen juga kerap mendatangkan petugas kesehatan hewan. Petugas kesehatan hewan dan inseminasi buatan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan hewan tersebut, sekaligus memberinya saran untuk pemeliharaan kesehatan hewan. Petugas penyuluh kerap mendatangi sejumlah peternak yang mengalami masalah kesehatan, termasuk menginginkan kawin suntik untuk ternak.

“Kami diimbau untuk memberi asupan pakan yang memadai dari hijauan dan pakan tambahan sekaligus agar tidak timbul penyakit pada ternak,” papar Alpen.

Selain kekuatiran akan virus jembrana yang menyerang ternak sapi, Alpen dan sejumlah peternak juga mewaspadai pencurian ternak sapi, menyusul kejadian di wilayah Lamsel yang menimpa warga Desa Sidoharjo, Sidomulyo, bernama Jumingin. Tiga ekor sapi miliknya bahkan digondol maling, meski posisi kandang tepat berada di samping rumahnya.

Hal yang sama juga dialami Irwansah, yang pernah kehilangan tiga ekor sapi miliknya. Tiga ekor sapi digondol pencuri dan berhasil ditemukan setelah dibeli oleh seorang penadah.

Irwansah mengaku, selain virus penyakit, saat ini peternak dihantui oleh pencurian ternak. Selain dicuri untuk dijual dalam kondisi hidup, sebagian sapi milik peternak bahkan ditemukan dalam kondisi sudah dijagal untuk diambil dagingnya.

“Untuk kebersihan kandang, kami lakukan setiap hari termasuk pemberian pakan yang baik, tapi kami juga harus waspada akan adanya pencurian ternak,” papar Irwansah.

Pascaadanya aksi pencurian ternak sapi, Irwansah kini memelihara sebanyak sembilan ekor kambing rambon. Selain adanya kekuatiran akan virus jembrana, Irwansah mengaku jenis ternak kambing miliknya juga rentan mencret, kembung dan gudik atau gatal-gatal. Penyakit tersebut muncul pada pergantian musim dan saat hujan dengan kondisi kebersihan kandang tidak terjaga. Selain itu, pakan hijauan yang tidak terjamin kerap membuat kambing mencret.

Sebagai sumber pakan tambahan, Irwansah mempergunakan pakan dari kulit kakao. Sistem ternak kandang dengan menjaga kebersihannya, dapat meminimalisir ternak terkena penyakit. Selain tidak mengganggu lahan pertanian jagung dan lainnya, sistem kandang memudahkan mengontrol pakan serta menjaga kesehatan ternak.

Baca Juga
Lihat juga...