Posdaya Binangun Teratai Ajak Warga Hidup Mandiri dan Jaga Lingkungan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

267

YOGYAKARTA — Tak sekedar berupaya meningkatkan ekonomi masyarakat, Posdaya Binangun Teratai yang yang terletak di dusun Bantar Wetan, Banguncipto, Sentolo, Kulonprogo selalu aktif melatih masyarakat agar mampu hidup mandiri.

Melalui salah satu program kegiatan yang dijalankan, posdaya Binangun Teratai juga turut mengajak dan memberdayakan warga agar ikut terlibat langsung dalam menjaga kondisi lingkungan di sekitarnya, terutama di halaman rumah.

Menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) dusun setempat, melalui program kelompok asuh keluarga, secara konsisten menjalankan program penghijauan. Posdaya mengajak warga memanfaatkan pekarangan untuk menaman berbagai jenis bibit sayuran dan toga.

Bahkan anggota posdaya juga memiliki kebun bibit kelompok yang dikelola secara bersama-sama.

“Karena berada di wilayah pedesaan, mayoritas warga disini masih memiliki pekarangan yang cukup luas. Namun tidak semua pekarangan ini dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu kita dorong warga, khususnya ibu-ibu rumah tangga agar menanam tanaman yang bermanfaat,” ujar pengurus Posdaya Binangun Teratai, Surono.

Dwi, salah seorang ibu-ibu rumah tangga sekaligus pegiat KWT dusun Bantar Wetan, menyebutkan, kelompoknya rutin menanam berbagai jenis bibit sayur mayur seperti cabai, terong, sawi, tomat kacang panjang, hingga tanaman toga seperti daun kelor, jahe merah hingga sirih merah.

“Kita sudah mulai menanam sayur dan toga sejak beberapa tahun silam. Biasanya kita menaman saat awal musim penghujan. Karena cuacanya mendukung dan tanaman tidak mudah mati,” katanya.

Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, setiap anggota KWT tak jarang juga menjual ke sejumlah konsumen di sekitar desa. Tak hanya dapat mengurangi pengeluaran kebutuhan dapur, melalui kegiatan ini warga juga mampu mendapatkan penghasilan tambahan.

“Selain itu, dengan ditaman berbagai jenis sayur dan toga, kondisi lingkungan dusun juga menjadi lebih asri dan tertata. Karena setiap warga menanam dan merawat pekarangan rumah masing-masing,” katanya.

Meski belum menjadi pekerjaan utama, sejumlah ibu-ibu rumah tangga di dusun Bantar Wetan tak jarang juga menggolah hasil kebun sayur dan toga mereka menjadi bahan olahan makanan.

Hasil olahan tersebut biasanya akan dijual saat ada pameran ataupun kegiatan di tingkat desa dan kecamatan.

“Kendalanya saat musim kemarau banyak tanaman yang mati. Selain kesulitan air juga karena cuaca tidak mendukung untuk tanaman sayur-sayuran. Jadi biasanya kita lebih aktif melakukan kegiatan saat awal musim penghujan,” pungkasnya.