Posdaya di Sentolo Buka Lapangan Kerja Baru bagi Warga

Editor: Koko Triarko

198

YOGYAKARTA — Lewat kelompok asuh keluarga binangun, Posdaya Binangun Teratai di Dusun Bantar Wetan, Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo, mampu berkontribusi membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan ekonomi warga. 

Berkerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta melalui kegiatan KKN, Posdaya Binangun Teratai melatih ibu-ibu rumah tangga untuk membuat berbagai macam kerajinan. Salah satunya, kerajinan tas rajut dari bahan benang nilon.

Salah seorang warga, Fitri, ikut membuat kerajinan tas dan dompet rajut bahan nilon. -Foto: Jatmika H Kusmargana

Lewat usaha ini, puluhan warga, khususnya ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya menganggur, kini memiliki pekerjaan sambilan dan tambahan penghasilan. Mereka pun tak lagi bergantung pada hasil pertanian yang selama ini menjadi profesi utama mereka.

“Di Dusun Bantar Wetan ini banyak penduduk yang berkerja sebagai petani. Termasuk ibu-ibu rumah tangga. Padahal, petani itu banyak waktu luangnya. Sehingga saat tak ada garapan, mereka hanya menganggur di rumah. Berawal dari kondisi itu kita latih mereka usaha kerajinan,” ujar pengurus Posdaya Binangun Teratai, sekaligus Kepala Dusun Bantar Wetan, Surono.

Sementara itu, ketua kelompok usaha kerajinan Dusun Bantar Wetan, Martini, menyebut, saat ini setidaknya terdapat 75 lebih warga yang bergabung dalam kelompok usaha kerajinan tas rajut. Mereka biasa mengerjakan tas dengan mengambil bahan dari kelompok untuk dikerjakan di rumah. Begitu selesai, tas akan disetor ke kelompok untuk dipasarkan.

“Kita memproduksi berbagai macam tas dompet hingga sepatu. Semua dari bahan benang nilon. Seluruh perajin adalah warga sekitar desa, yang mayoritas adalah ibu-ibu rumah tangga,” ujarnya.

Martini mengatakan, pelatihan usaha kerajinan yang diberikan Posdaya membuat mereka mampu melakukan seluruh tahapan proses usaha pembuatan kerajinan dari awal hingga finishing dan pemasaran. Dalam sebulan, mereka mampu memenuhi pesanan 1.000 lebih produk tas dan dompet rajut, dengan omset mencapai Rp40 juta.

“Untuk harga, tas berkisar Rp80-220 ribu sedang dompet berkisar Rp15-80 ribu. Selain memenuhi pesanan, kita juga jual ke resseler di sejumlah daerah seperti Jakarta, Bekasi, Semarang, Kendal, Jambi, hingga Kalimantan,” katanya.

Satu-satunya kendala yang dihadapi kelompok usaha rajut di Dusun Bantar Wetan ini, kata Martini, hanyalah soal waktu pengerjaan yang tidak dapat dipastikan. Pasalnya, mayoritas perajin hanya melakukan usaha rajut secara sambilan.

“Saat musim tanam atau musim panen itu biasanya warga sibuk di sawah. Sehingga pekerjaan merajut terbengkalai. Sehingga biasanya kita minta kelonggaran waktu pengerjaan,” katanya.

Salah seorang warga, Fitri, mengaku bersyukur dengan adanya kelompok usaha kerajinan tas rajut ini di desanya. Pasalnya, ia mengaku bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

“Ya, lumayan untuk tambah-tambah penghasilan. Dari pada hanya menganggur di rumah. Bisa untuk jajan anak-anak,” ujar ibu dua anak itu.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.