Praloknas di UNS Angkat Keanekaragaman Hayati Indonesia

Editor: Irvan Syafari

443

SOLO — Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) Badan Kerjasama wilayah timur menggelar Pra Lokakarya Nasional (Praloknas) di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Solo, Jawa Tengah.

Potensi sumber daya di bidang pertanian dalam mendukung Indonesia sebagai lumbung pangan dunia menjadi tema yang diangkat dalam pertemuan yang dilaksanakan selama dua hari ini, Rabu-Kamis (18-19) April 2018.

“FKPTPI sebagai organisasi yang melingkupi pendidikan tinggi pertanian se-Indonesia, perlu membahas peran serta dunia pendidikan dalam mendukung tema tersebut. Oleh sebab itu, perlu diadakan Praloknas FKPTPI BKS wilayah Timur ini untuk mempertemukan semua pemangku kepentingan dan diharapkan dapat berkontribusi menghasilkan rekomendasi sebagai arahan dan strategi dalam mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045,” papar Dekan Fakultas Pertanian UNS Prof Dr Bambang Pujiasmanto kepada awak media, Rabu (18/4/2018).

Praloknas juga diikuti dengan digelarnya seminar nasional yang menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten dengan dunia pertanian dan pangan. Seminar nasional juga membahas peran keanekaragaman hayati dalam mendukung Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

“Tema itu dipilih berdasarkan pemikiran mengenai potensi dan peran strategis sektor pertanian dalam rangka mendukung swasembada pangan dan peran Indonesia sebagai lumbung pangan dunia,” lanjut dia.

Menurut Prof Bambang sektor pertanian Indonesia memiliki peran sangat penting karena melibatkan 35 persen dari total tenaga kerja, dan berkontribusi sebesar 13.6 persen dari gross domestic product (GDP) Indonesia. Tak hanya itu, sektor pertanian bahkan berkontribusi hingga lebih dari separuh GDP, jika keseluruhan rantai pasok dari hulu ke hilir dilibatkan.

“Selain dalam di bidang ekonomi, pertanian Indonesia juga berperan penting dalam hal penyediaan pangan, sandang, energi dan produk turunannya. Sehingga pemerintah Indonesia menetapkan visi berupa Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045,” jelasnya.

Cita-cita menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045, imbuh Prof Bambang, bukan hal yang tidak mungkin terwujud. Sebab, Indonesia sangat potensial karena didukung beberapa faktor strategis lainnya.

Di antaranya kata Bambang, ekosistem tropis Indonesia yang memungkinkan kegiatan pertanian dilakukan sepanjang tahun. Adanya variasi genetik tumbuhan yang dimiliki Indonesia.

“Karena Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Seperti tanaman pangan, binatang ternak, bakteri dan indigenous knowledge dalam pengolahan pangan baik yang sudah ada maupun yang belum banyak digali,” imbuhnya.

Hal tersebut ditambah lagi dengan adanya improved varieties untuk komoditas pangan dan ternak.

“Potensi mewujudkan lumbung pangan juga semakin besar dengan aktivitas ekstensifikasi dan intensifikasi kegiatan pertanian dalam arti luas,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.