Prancis Siapkan 50 Juta Euro untuk Suriah

Ilustrasi bendera Prancis - Foto: Dokumentasi CDN

PARIS – Prancis akan memberikan sumbangan 50 juta euro yang setara dengan Rp850 miliar untuk bantuan kemanusiaan darurat kepada Suriah. Janji itu diumumkan Presiden Prancis Emmanuel Macron setelah pertemuan sekelompok lembaga swadaya masyarakat di Paris.

“Pada petang ini, saya mengumpulkan lembaga swadaya masyarakat, yang menjalankan tugas di lapangan di Suriah. Dalam menghadapi masalah kemanusiaan, Prancis membentuk program darurat senilai 50 juta euro,” kata Macron melalui Twitter resminya, Selasa (17/4/2018).

Kantor kepresidenan Prancis menyebut, dana itu akan disebarkan ke berbagai lembaga swadaya masyarakat dan badan PBB di Suriah, termasuk kantor PBB urusan kemanusiaan. Lebih dari 20 LSM hadir dalam pertemuan dengan Macron di istana kepresidenan Elysee, termasuk Action Aid, Handicap International, Palang Merah dan Care.

Menurut perkiraan PBB, sekitar 13 juta orang termasuk enam juga anak, membutuhkan bantuan kemanusiaan di Suriah. Negara itu telah tercabik perang selama tujuh tahun hingga membuat jutaan warga kehilangan tempat tinggal.

PBB pada Kamis (12/4/2018) berharap dapat mengumpulkan bantuan, sedikit-dikitnya bagi 100.000 warga Suriah, yang sangat membutuhkan bantuan. Utamanya setelah peperangan mengakhiri pengepungan selama bertahun-tahun di kantong yang diduduki pemberontak di Ghouta timur.

Sementara itu mengenai penggunaan senjata kimia, Prancis meminta pemeriksa internasional diberi peluang penuh untuk segera datang ke tempat serangan tersebut. Pemeriksa dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) berangkat ke Suriah pada pekan lalu untuk menyelidiki tempat itu, yang kini dikendalikan pemerintah setelah pemberontak mundur.

“Hingga hari ini, Rusia dan Suriah masih menolak memberikan jalan kepada pemeriksa ke tempat serangan itu. Kemungkinan besar, bukti dan zat terpenting menghilang dari tempat tersebut,” kata kementerian luar negeri Prancis dalam pernyataan resminya.

Pasukan Amerika Serikat, Inggris dan Prancis menggempur Suriah dengan serangan udara pada Sabtu dinihari sebagai balasan atas dugaan serangan senjata kimia pada 7 April di Douma, yang menurut mereka dilakukan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Badan pemberi bantuan mengatakan puluhan pria, perempuan dan anak-anak tewas dalam serangan itu.

Duta Besar Amerika Serikat Kenneth Ward mengatakan dalam pertemuan OPCW di Den Haag bahwa Rusia kemungkinan telah mengutak-atik bukti. “Menurut pemahaman kami, Rusia kemungkinan sudah mendatangi lokasi serangan. Yang dikhawatirkan adalah bahwa mereka mengutak-atik dengan niat untuk menggagalkan Tugas Pencari Fakta OPCW dalam menjalankan penyelidikan,” katanya ketika menyampaikan komentar dalam pertemuan tertutup. (Ant)

Lihat juga...