Puluhan Anak di Lamsel Menderita Stunting

Editor: Koko Triarko

198

LAMPUNG — Kepala Desa Kemukus, Ketapang, Lampung Selatan, Imam Junaidi, mengatakan, pihaknya segera melakukan langkah penanganan anak di bawah lima tahun (balita) bernama Alfina Aprilia (4) yang menderita stunting atau gizi buruk.

Menurut Imam Junaidi, sebelumnya tidak pernah ada pemberitahuan dari pihak dinas kesehatan yang bertugas di Posyandu setempat. Ia menyebut justru diberitahu dari beberapa masyarakat yang melaporkan kepadanya terkait adanya balita penderita stunting tersebut.

Kepala desa Kemukus, Imam Junaidi [Foto: Henk Widi]
Berdasarkan data buku Kartu Menuju Sehat (KMS), perkembangan Alfina Aprilia hingga bulan April, tinggi badan mencapai 48 cm, berat badan 11,2 cm. Imam Junaidi bahkan mengaku terkejut saat ada pendataan terkait stunting yang melanda balita di desanya. Ia langsung mendatangi balita tersebut di rumahnya didampingi sang ibu bernama Suryani.

“Selama ini, petugas kesehatan di Posyandu tidak ada laporan terkait adanya stunting, meski kegiatan di desa ini tetap rutin dilakukan, selain itu akses jalan yang buruk menjadi penyebab sulitnya warga mencapai fasilitas kesehatan,” paparnya, usai mengunjungi balita stunting Alfina Aprilia, Selasa (17/4/2018).

Ia menyebut, dari data yang dikumpulkan, ternyata di desa tersebut anak yang menderita stunting saat ini berjumlah sekitar 39 anak. Belum adanya koordinasi disebutnya membuat ia tidak mengetahui pendataan terkait gizi buruk yang melanda anak di wilayahnya tersebut.

Meski demikian, ia mengaku langkah tersebut justru akan menjadi pemicu untuk warganya mengkonsumsi makanan bergizi.

Setelah mengunjungi balita tersebut, Imam Junaidi juga menyebut kondisi rumah pemilik anak stunting masih tinggal di rumah dengan geribik. Rumah berukuran sekitar 6 x 6 meterpersegi tersebut bahkan masih terdiri dari bangunan geribik bambu dan hanya bagian ruang tamu yang diberi lantai semen. Ia juga menyebut, keluarga tersebut tetap memperoleh jatah beras sejahtera dari pemerintah melalui desa.

Suryani, sang ibu, mengaku selama ini rutin melakukan pemeriksaan anaknya ke Posyandu setiap bulan. Meski demikian, ia baru mendapat pemberitahuan terkait stunting pada April ini.

Ia bahkan menyebut melihat data dari buku KMS pertumbuhannya terlihat menurun setelah umur 26 bulan. Ia juga menyebut, selama ini asupan makanan yang diberikan cukup terjaga, d iantaranya nasi, sayur dan lauk.

“Selama ini makanan yang kami makan juga dimakan oleh anak, kalau tahu anak butuh asupan gizi yang baik, maka saya belikan makanan yang bergizi,” papar Suryani.

Suryani juga menyebut, sementara waktu dirinya memperoleh bantuan makanan tambahan berupa biskuit untuk balita. Selain makanan tambahan, ia juga akan memilihkan lauk khusus untuk anaknya, agar tidak terkena stunting atau gizi buruk.

Keluarga yang berprofesi sebagai buruh harian lepas di antaranya buruh tanam dan petik jagung tersebut mengaku masih terkendala faktor ekonomi.

Usai temuan anak terkena stunting, pada Senin (17/4) bahkan desa Kemukus dan Ketapang dipilih sebagai salah satu lokasi peserta Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN), khususnya di bidang kesehatan.

Peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat II dari Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta ini akan melakukan kegiatan lapangan di Desa Kemukus dan Desa Bangun Rejo salah satunya untuk melihat kondisi stunting anak Balita.

Terkait adanya temuan stunting di desa Kemukus dan indikasi di sejumlah desa di Lamsel, Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan, Jimmy B. Hutape, belum bisa dikonfirmasi.

Cendana News berusaha mengkonfirmasi melalui telepon seluler meski belum ada respon. Terkait hal tersebut, pihak kecamatan Ketapang dari satu sumber yang enggan disebut namanya juga tengah melakukan pendataan terkait balita terkena stunting di wilayah tersebut pascaadanya temuan gizi buruk di wilayah tersebut.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.