Raja Salman Tolak Rencana Pemindahan Kedutaan Amerika ke Yerusalem

177
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud - Foto Istimewa

DHAHRAN – Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz menegaskan kembali bahwa nasib Palestina adalah perjuangan utama negara-negara di kawasan Teluk. Hal tersebut akan terus terjadi, sampai rakyat Palestina mendapatkan semua haknya, terutama pendirian negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Raja Salman menyampaikan hal tersebut dalam konferensi Arab Summit di Dhahran, Arab Saudi, Minggu (15/4/2018). Dalam pidato pembukaan konferensi, Raja Salman menolak keputusan Amerika Serikat untuk memindahkan kantor kedutaan mereka di Israel ke Yerusalem.

“Kami menegaskan kembali penolakan atas keputusan pemerintah Amerika Serikat terkait Yerusalem. Kami mematuhi konsensus internasional yang menolak keputusan itu. Kami menegaskan sikap bahwa Yerusalem Timur adalah bagian dari wilayah Palestina,” Tegasnya.

Di sisi lain Raja Salman juga mengencam Iran yang dinilai telah melakukan intervensi atas masalah regional. “Kami mengecam aksi terorisme dari Iran di kawasan Arab dan menolak intervensi negara itu terhadap urusan negara-negara Arab. Kami menyambut baik pernyataan dari Dewan Keamanan PBB yang mengecam keras penembakan rudal bikinan Iran oleh kelompok teroris Houthi dengan sasaran kota-kota di Arab Saudi,” tandasnya.

Salman berjanji akan mendukung penuh semua upaya untuk mencapai solusi politik atas krisis yang terjadi di Yaman sesuai dengan inisiatif negara-negara Teluk. Serta keputusan dialog nasional konprehensif dan Resolusi Dewan Keamanan 2016. “Kami menganggap bahwa kelompok milisi teroris Houthi, yang mendapat dukungan Iran, bertanggung jawab atas terus berlanjutnya krisis di Yaman dan juga penderitaan warga yang terdampak konflik di negara itu,” tambahnya.

Namun di sisi lain dia juga meminta komunitas internasional untuk berupaya memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusian di semua wilayah Yaman. Sang raja mengatakan, hal paling membahayakan yang dihadapi dunia saat ini adalah terorisme, yang sering bersinggungan dengan ekstrimisme dan sektarianisme untuk memunculkan konflik internal di antara negara-negara Arab. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.