Ratusan Siswa Gelar Pawai Budaya Hari Kartini

Editor: Satmoko

531

LAMPUNG – Sebagian ibu rumah tangga yang memiliki anak usia pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak kanak dan sekolah dasar sudah bangun sejak Subuh.

Heni, salah satu ibu rumah tangga yang mengantar anaknya mengaku bangun sejak Subuh membawa anaknya ke salah satu salon. Heni sengaja merias anaknya dengan mengenakan baju daerah adat Lampung dengan baju tapis lengkap mahkota Siger. Meski harus menyewa pakaian tersebut ia mengaku, memenuhi keinginan anaknya untuk mengenakan baju daerah Lampung.

Pawai Hari Kartini disebut Heni membuat sejumlah pemilik salon kewalahan mendandani anak-anak untuk mengenakan baju adat. Meski harus mengeluarkan biaya ekstra ia mengakui dengan mendandani anaknya memakai baju adat akan menjadi kenangan tersendiri bagi anak. Sebab saat ini anaknya masih duduk di bangku TK dan tahun ajaran baru mendatang sudah memasuki usia SD.

Kepala desa Klaten, Joniamsyah (ujung kanan) dan camat Penengahan, Yusuf (berpeci) melepas peserta pawai Hari Kartini [Foto: Henk Widi]
“Peringatan hari Kartini selalu ditunggu anak sekolah karena kesempatan tersebut bisa digunakan untuk berkumpul bersama teman dari lain sekolah menggunakan baju adat dari daerah lain,” terang Heni, salah satu orangtua yang mendampingi anaknya dalam pawai hari Kartini di lapangan Klaten, Penengahan, Sabtu (21/4/2018).

Heni bahkan mengaku sengaja membeli baju adat Lampung dengan stelan baju hingga Siger dengan harga satu stel Rp100.000. Pada saat hari Kartini dan beberapa acara dengan menggunakan baju adat Lampung, ia tak harus menyewa dan hanya mengeluarkan biaya sewa untuk rias. Mengenakan baju daerah diakui Heni bahkan cukup istimewa dan kerap diabadikan melalui foto sebagai kenangan.

Camat kecamatan Penengahan, Yusuf, menyebut kegiatan pawai hari Kartini hanya salah satu cara untuk memperingati kelahiran pahlawan emansipasi wanita tersebut. Kegiatan tersebut merupakan hal yang positif karena anak-anak usia TK hingga SD bisa mengenal pahlawan Kartini.

Putri dan kawan-kawannya dari SDN 1 Klaten mengikuti pawai hari Kartini [Foto: Henk Widi]
Selain melalui lagu, pawai hari Kartini menjadi momen untuk mengenal perjuangan Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia.

“Guru memberi pemahaman tentang pahlawan Kartini yang memperjuangkan kesejajaran derajat kaum wanita dan pria dan menjadi semangat untuk belajar,” tegas Yusuf.

Selain mengenalkan sejarah, melalui peringatan hari Kartini yang diisi dengan pawai, anak anak disebutnya bisa mengenal berbagai baju adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Pengenalan baju daerah tersebut sekeligus memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia agar anak memiliki jiwa nasionalisme. Beberapa kostum profesi di Indonesia diantaranya polisi, tentara, dokter, petani dan berbagai kostum profesi bahkan ditampilkan dalam pawai tersebut.

Keceriaan anak-anak melakukan pawai hari Kartini [Foto: Henk Widi]
Pawai budaya hari Kartini disebut kepala desa Klaten, Joniamsyah, rutin dilakukan oleh sejumlah sekolah di wilayah tersebut. Tercatat beberapa sekolah dilibatkan di antaranya PAUD Sejahtera, TK Aisiyah, SDN 1 Klaten, SDN 2 Klaten serta sejumlah sekolah lain dengan jumlah ratusan siswa. Peran serta orangtua dalam pawai budaya hari Kartini diakuinya cukup terlihat dengan mengenakan baju adat.

“Para orangtua, dewan guru bahkan ikut mengenakan baju daerah saat mendampingi pawai hari Kartini,” papar Joniamsyah.

Ia berharap, kegiatan tersebut bisa dilakukan secara rutin karena sangat positif bagi anak usia sekolah. Rute yang ditempuh di jalan desa dengan jarak sekitar tiga kilometer diawali dari lapangan desa dan kembali ke lapangan tersebut.

Seusai melakukan pawai budaya, sebagai penyemangat camat, kepala desa dan guru memberikan pertanyaan seputar hari Kartini. Hadiah berupa alat tulis bagi peserta karnaval yang bisa menjawab pertanyaan sekaligus menjadi penyemangat bagi siswa.

Baca Juga
Lihat juga...