Riwayat Pohon Kayu

CERPEN ADAM YUDHISTIRA

630

PADA suatu senja di musim kemarau, gadis kecil itu duduk di bawah sebatang pohon yang rindang. Angin semilir yang sejuk adalah pencuri mata paling ulung.

Di saat angin ingin mencuri matanya diam-diam, gadis kecil itu mendapati sebuah kenyataan bahwa di dunia ini tidak cuma manusia yang bisa berkata-kata. Matanya membuka ketika ada suara yang menegur.

“Maukah kau menjadi temanku?”

Ia mendengar suara itu dengan jelas, tapi ia belum bisa memastikan dari mana asalnya. Tidak ada siapa-siapa di sana. Teman-temannya bermain cukup jauh.

Di tengah lapangan kecil itu, teman-temannya masih asyik bermain lompat tali. Ia memutar leher ke kiri dan ke kanan, namun yang ada hanya lengang.

“Siapa kamu?”

“Aku adalah pohon tempatmu bersandar.”

Gadis kecil itu terperangah. Bibirnya yang merah delima membulat sempurna. Ia berusaha untuk tidak ketakutan, berusaha untuk tidak berpikir bahwa suara itu adalah suara hantu yang datang di saat senja.

Ibunya pernah bercerita perihal hantu yang gemar menculik anak-anak. Ia menengadah. Meneliti dahan-dahan lengkung dan daun-daun rimbun yang menaungi. Namun tetap saja, tidak ada siapa-siapa di sana.

“Kau mau berteman denganku?” Suara itu kembali terdengar samar-samar.

“Tentu, asal kau tidak menjahatiku.” Gadis kecil itu mulai mampu menguasai rasa takutnya. Suara itu terdengar lembut dan bersahabat.

“Aku hanya ingin berteman denganmu, mana mungkin aku menjahatimu.”

“Baiklah. Aku mau menjadi temanmu.”

“Tapi berjanji dulu, ini akan menjadi rahasia kita. Jangan ceritakan pada teman-temanmu kalau aku adalah pohon yang bisa bicara.”

“Ya, aku berjanji.”

“Baiklah. Mulai sekarang kita berteman dan untuk merayakan pertemanan ini, maukah kau mendengar cerita-ceritaku?”

Bibir gadis kecil itu tersenyum. Ia mengangguk antusias. Rasa takut tadi telah menguap. Kemudian pohon rimbun itu mulai bercerita. Cerita tentang burung balam yang buruk rupa, beruang madu yang kejam, kancil yang suka menolong dan beragam cerita-cerita lain yang membuat hatinya senang.

Sejak senja itu, ia kerap datang ke bukit itu bersama teman-temannya atau seorang diri. Jika teman-temannya datang hanya untuk bermain, maka gadis kecil itu datang untuk mendengar cerita-cerita menakjubkan dari pohon rimbun.

Pohon rimbun itu memiliki cerita-cerita yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Tidak dari kakek-neneknya, tidak dari ayah-ibunya, tidak juga dari guru-gurunya. Pohon rimbun itu memiliki banyak cerita rahasia.
***
SENJA kesekian datang kembali. Kali ini di penghujung musim semi yang meriah. Gadis kecil itu kembali datang. Ia memilih duduk di bawah pohon rimbun itu, seperti biasanya. Baginya, mendengarkan pohon itu bercerita lebih mengasyikkan daripada bermain bersama teman-temannya.

“Hari ini kau punya cerita apa?”

“Hari ini aku akan bercerita tentang diriku, apakah kau mau mendengar?”

“Aku mau. Ceritakan tentang dirimu, keluargamu dan semua teman-temanmu.”

“Baiklah, baiklah. Tapi, ceritaku ini cerita yang sedih.”

“Sedih?”

“Iya, cerita yang sedih.”

“Baiklah, tapi aku mudah menangis. Tidak apa-apa jika nanti saat kau bercerita aku menangis?”

“Tidak apa-apa. Tapi setelah itu kau harus kembali tersenyum. Janji?”
Gadis kecil itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk.

“Baiklah. Sekarang aku akan mulai bercerita,” ucap pohon rimbun pelan.
Gadis kecil duduk memeluk lutut dan bersiap mendengarkan.

“Dulu, aku adalah seorang pemuda. Aku mencintai seorang gadis, namun cintaku kepadanya tidak mendapat restu. Kami telah berusaha memenangkan cinta yang kami rasa, namun orangtua gadis itu tidak merestui. Entah mengapa, aku seolah makhluk paling kotor dan menjijikkan di mata mereka.”

Pohon rimbun itu diam sesaat. Gadis kecil kian takzim menyimak.

“Kami berdua akhirnya memilih jalan pintas. Kami berencana melarikan diri ke sebuah negeri yang jauh di seberang lautan. Sebelumnya kami telah bersepakat untuk berjumpa di sini. Namun entah apa musababnya, kekasihku ternyata tak pernah datang menemuiku.”

Pohon rimbun itu diam lagi. Untuk sesaat, keheningan menjelma kesedihan yang muram.

“Setiap senja, aku selalu datang ke sini. Tak pernah satu hari pun aku melewatkan. Aku memanggilnya. Berharap dia datang. Sedikit pun tak lelah aku menunggu.”
Hening kembali menjeda. Mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca.

“Tunggu aku di tempat itu, jangan pernah tinggalkan aku, kata kekasihku dalam suratnya. Tentu aku akan menunggu, janjiku. Aku selalu menepati janji, tak lelah dan tak terlewat sehari pun dalam hidupku. Terus begitu dan tak ada seorang pun yang tahu. Namun ia tak pernah datang menemuiku.”

Gadis kecil itu mulai terisak. Pohon rimbun itu membisu sejenak.

“Di satu senja yang penuh kabut, aku datang lagi. Tetapi, ada kejanggalan di senja itu. Aku merasa dia ada di sini menungguku. Bukan bayangannya, melainkan tubuh dan jiwanya. Aku yakin, sebab tak biasanya kabut datang menyelimuti. Kabut yang menjelma ribuan kunang-kunang dan menuntun tubuhku yang kelelahan.”

Pohon rimbun itu berkata dengan irama yang tersendat. Gadis kecil itu mengusap pipinya yang basah oleh air mata.

“Beribu purnama telah berlalu, aku masih terus menunggunya. Orang-orang mengira aku gila. Mereka berkasak-kusuk, menunjuk tengkukku dan mencibir. Rambut riap-riapan, kusut masai, mata cekung, bola mata redup, kuku memanjang dan tak pernah bicara pada siapa pun.”

“Lalu, mengapa kau menjadi sebatang pohon?” tanya gadis kecil di sela isak tangisnya.

“Waktu adalah raksasa yang jahat. Napasku tak lagi memburu, langkahku tak semantap dulu, usia tua melemahkan sekujur tubuhku. Di sisa-sisa penghujung napas, aku meminta kepada Sang Pemilik Kehidupan: ubahlah aku menjadi sebatang pohon agar aku memiliki waktu lebih lama untuk menunggu.”

“Kau tentu kesepian….”

“Aku memang kesepian, tapi aku tidak sedih.”

“Kenapa kau tidak sedih? Bukankah kesepian adalah temannya kesedihan?”

“Tidak. Kesedihan tidak akan menyembuhkan. Jika ada yang membuatku sedih, itu hanyalah…”

“Hanyalah apa?” Gadis kecil itu menjeda kata-kata pohon rimbun.

“Hanyalah kekasihku. Ia mengingkari kesetiaanku. Mengingatnya selalu membangkitkan kesedihan di hatiku.”

Gadis kecil itu tertegun. Sedih berkelindan di dadanya. Ia bisa merasakan kesedihan pohon rimbun. Betapa merana hidup sebatang kara dalam kesunyian dan penantian tak berujung seperti nasib pohon rimbun tempat ia bersandar kini.

“Adakah sesuatu yang bisa kulakukan untuk menghilangkan kesedihanmu?”

“Ada. Jadilah temanku. Itu akan mengurangi kesedihanku.”

“Aku berjanji. Aku akan menjadi temanmu,” jawab gadis kecil itu seraya tersenyum lebar.

“Terima kasih. Kau memang gadis yang baik.” Pohon itu menangkupkan ranting-rantingnya, seolah memberi pelukan untuk gadis kecil yang duduk meringkuk di akar-akarnya.
***

GADIS kecil itu memegang teguh janjinya. Ia selalu datang dan menemani pohon rimbun. Namun setelah bertahun-tahun berlalu, senja itu, pada musim gugur yang beku, ia datang dengan sebuah niat yang berbeda. Gadis kecil itu membawa cobaan paling berat untuk pertemanan mereka.

“Maafkan aku …”

“Ada apa rupanya? Adakah sesuatu yang membuatmu merasa bersalah?”

Gadis kecil itu mengambil selembar daun pohon rimbun yang gugur dan mengusap permukaannya. “Besok aku akan pergi ke kota yang jauh,” ucapnya terbata.

“Pergi ke mana? Kenapa kau harus pergi?”

“Orang tuaku ditugaskan ke kota yang jauh.”

“Lantas aku akan kesepian lagi? Sampai kapan?”

Sedih meremas-remas hati gadis kecil. Danau di matanya meluap. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan itu.

“Kau pasti kembali, bukan?”

“Iya aku pasti kembali.”

“Kau berjanji?”

“Iya, aku berjanji.”

Ada hening cukup lama hingga akhirnya pohon rimbun itu berkata, “Pergilah. Berapa pun waktu yang kau mau, aku akan menunggumu.”

Kesedihan mengental dan berwarna kelabu pekat. Ia serupa tanah rawan yang tersiram hujan. Kabar yang dibawa gadis kecil itu bagai gegar guntur yang memicu longsor lalu menimbun mereka dalam kebisuan.

Jika pun ada penanda, maka kesedihan itu adalah desir dedaunan yang terdengar seperti rintihan dan isak tangis tertahan. Gadis kecil itu memeluk pohon rimbun itu untuk terakhir kalinya, seolah hari itu adalah hari terakhir pertemuan mereka.
***
DI suatu senja, di musim hujan kelima puluh, gadis kecil itu kembali. Tetapi dari kejauhan ia melihat semuanya berbeda. Tanah lapang di mana dulu pohon rimbun itu tumbuh, kini telah menjelma pemukiman yang ramai.

Di sana-sini berdiri rumah-rumah cantik berdinding beton, jendela-jendela tinggi, pintu-pintu besar dan orang-orang yang berwajah angkuh. Berpuluh musim yang terlewati, telah menyulap gadis kecil itu menjadi wanita tua.

Di tepi jalan, ia duduk bersimpuh dan mulai menangis. Ia mereka-reka percakapan paling manis antara dirinya dan pohon rimbun.

“Bila kau terlahir kembali, kau ingin menjadi apa?”

“Aku ingin menjadi peri.”

“Kau memang pantas menjadi peri, kau cantik dan baik hati.”

“Aku hanya menepati janji. Bukankah seorang teman harus menepati janji?”

“Kau benar. Aku bahagia memiliki teman sepertimu.”

“Aku juga bahagia memiliki teman sepertimu. Apakah kau tidak sedih selama aku pergi?”

“Tidak. Aku tidak sedih. Sebab aku percaya, kau pasti kembali.”

Denyar petir membuyar percakapan maya di benak wanita tua. Tetes-tetes hujan berjatuhan dari langit. Menusuk mata rentanya dan ia terpejam. Namun sebelum mata itu betul-betul terpejam, ia masih bisa melihat sesosok lelaki dengan senyum seteduh pohon rimbun.

Lelaki itu meraih tangannya dan membantunya berdiri. Suara lelaki itu terdengar lembut dan bersahabat. Suara yang membangkitkan kenangan di kepalanya tentang sebatang pohon yang memiliki banyak cerita rahasia. ***

Adam Yudhistira lahir pada 1985, penulis asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah dimuat di berbagai media massa cetak dan online di tanah air. Pada tahun 2014 dan 2015, ia menjadi pemenang Lomba Menulis Kompas Klasika Dongeng Anak Nusantara Bertutur. Pada tahun 2016, ia menjadi Pemenang Lomba Menulis Cerpen Green Pen Perhutani Award 2016. Pada Januari 2018, ia menjadi juara pertama Sayembara Menulis Cerpen Komunitas Sastra Kaliwungu, Kendal. Buku kumpulan cerpen terbarunya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (Penerbit Basabasi, 2017).

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak, dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...