Rusia Blokir Aplikasi Perpesanan Seluler Telegram

293
Ilustrasi bendera Rusia - Dokumentasi CDN

MOSKOW – Regulator telekomunikasi Rusia pada Senin (16/4/2018) mulai memblokir akses aplikasi perpesanan Telegram. Hal itu dilakukan setelah perusahaan tersebut menolak mematuhi perintah untuk memberi pihak keamanan negara Rusia akses pada pesan rahasia penggunanya.

Badan Pengawas Telekomunikasi Rusia Roskomnadzor dalam pernyataan resmi di laman web-nya mengatakan, mereka telah mengirim pemberitahuan kepada operator telekomunikasi tentang pemblokiran akses Telegram di Rusia. Layanan yang didirikan oleh pengusaha Rusia tersebut telah memiliki lebih dari 200 juta pengguna secara global.

Saat ini telegram menjadi aplikasi perpesanan seluler paling populer kesembilan di dunia. Seorang pejabat Roskomnadzor mengatakan, pihaknya akan membutuhkan beberapa jam untuk menyelesaikan operasi pemblokiran akses tersebut. Kantor berita Interfax di Moskow menyebut aplikasi Telegram masih berfungsi normal pada pertengahan Senin (16/4/2018) sore waktu setempat.

Namun laman web perusahaan tersebut telah diblokir oleh dua penyedia layanan terbesar di Rusia MTS dan Megafon. Baik MTS maupun Megafon menolak berkomentar. “Roskomnadzor menerapkan keputusan yang dijatuhkan pada Jumat (13/4/2018) oleh pengadilan Rusia, yang memutuskan Telegram harus diblokir, karena melanggar peraturan Rusia.,” bunyi penyataan resmi Roskomnadzor.

Telegram telah berulang kali menolak memenuhi permintaan untuk memberikan akses Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada pesan terenkripsi para penggunanya. FSB mengatakan pihaknya memerlukan akses untuk menjaga negara terhadap ancaman keamanan seperti serangan teroris. Namun, Telegram mengatakan kepatuhannya akan melanggar privasi pengguna.

Pendiri dan pemimpin eksekutif Telegram Pavel Durov mengatakan, pemblokiran itu akan merusak kualitas kehidupan 15 juta orang Rusia dan tidak memberi dampak apa pun untuk meningkatkan keamanan Rusia. “Ancaman teroris di Rusia akan tetap pada tingkat yang sama, karena ekstremis akan terus menggunakan saluran komunikasi terenkripsi di aplikasi perpesanan lain, atau lewat VPN,” katanya.

Durov menyebut, keputusan pemblokiran tersebut merupakan aki anti-konstitusional. Oleh karenanya, Dia menyebut akan terus membela hak korespondensi rahasia untuk Rusia. Durov adalah pelopor media sosial di Rusia, tetapi memilih meninggalkan negara itu pada 2014. Sejak itu, ia menjadi kritikus yang lantang terhadap kebijakan Kremlin tentang kebebasan Internet.

Telegram banyak digunakan di negara-negara bekas Uni Soviet dan Timur Tengah. Selain menjadi populer oleh wartawan dan anggota oposisi politik Rusia, Telegram juga digunakan oleh Kremlin untuk berkomunikasi dengan wartawan dan mengatur panggilan konferensi reguler dengan juru bicara Presiden Vladimir Putin.

Pada Senin, kantor juru bicara menanyakan kepada wartawan yang sebelumnya berlangganan obrolan di Telegram untuk beralih ke obrolan yang telah diatur dalam layanan perpesanan yang berbeda ICQ yang merupakan bagian dari kelompok teknologi Mail.ru Rusia. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.