Sikka Perlu Lakukan Revolusi Pertanian

Editor: Irvan Syafari

418
Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Carolus Winfridus Keupung-Foto: Ebed de Rosary.

MAUMERE –– Pemerintah Kabupaten Sikka sudah saatnya melakukan sebuah terobosan besar di sektor pertanian dengan melakukan revolusi pertanian, yang selama ini menjadi salah satu sektor unggulan termasuk tiga komoditi unggulan yang jadi andalan seperti kakao, kelapa dan mente.

“Hampir sebagian besar masyarakat Sikka berprorfesi sebagai petani yakni 87 persen namun sektor ini masih belum menjadi salah satu sektor andalan yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” ungkap Carolus Winfridus Keupung,Direktur Wahana Tani Mandiri, Senin (16/4/2018).

Dikatakan Win sapaannya, pemerintah perlu membuat sebuah gebrakan atau terobosan yang besar dan masif sengan melibatkan semua pemangku kepentingan baik itu kelompok tani, lembaga sosial masyarakat maupun lembaga agama dan adat serta pengusaha pertanian.

“Komoditi unggulan seperti kakao, kelapa dan mente meski produksinya bagus namun masih banyak tanaman kakao yang terserang hama,kelapa yang sudah berumur tua dan tidak produktif,” ungkapnya.

Pembenahan yang dilakukan terang Win, harus dilakukan dari sektor hulu sampai hilir dan dilakukan secara konsisten serta terukur. Jangan sampai kejadian petani menjual gabah tapi beberapa bulan kemudian membeli beras untuk dikonsiumsi.

Rafael Raga, pendiri LSM yayasan Pengembangan Wilayah Tana Ai (Bang Wita) yang puluhan tahun mendampingi petani di wilayah timur kabupaten Sikka juga berpendapat senada terkait revolusi pertanian.

“Pemda Sikka sejak 10 tahun lalu melakukan revitalisasi pertanian dimana tanaman pangan dikembalikan ke pertanian organik melihat dari aspek pembagian zona pertanian hingga pertanian pun menjadi sektor unggulan,” ungkapnya.

Namun kata Rafael,perkembangan usaha tani berjalan lamban sejalan dengan harga komoditi pertanian yang fluktuatif atau naik turun dan masyarakat berpikir harga ini ditentukan pemerintah. Padahal harga komoditi sangat tergantung kepada mekanisme pasar yang ditentukan oleh kualitas komoditi.

“Revolusi pertanian atau percepatan pembangunan di sektor pertanian terutama di tanaman pangan harus mengacu kepada swasembada pangan,terutama pangan lokal. Untuk mencukupi pangan lokal dan harus ada target kapan akan bisa swasembada,” ungkapnya.

Masyarakat di Kabupaten Sikka kata Rafael saat ini rebut tentang bantuan beras Raskin atau Rastra padahal dulunya jagung menjadi salah satu andalan pangan lokal. Banyak lahan tidur yang belum digarap sehingga perlu diberdayakan agar bisa mendatangkan manfaat.

“Perlu dibangun banyak embung dan bendungan serta sumur bor. Pengadaan mesin dan alat pertanian secara besar-besaran untuk membantu petani dalam menggarap lahan mereka,” tuturnya.

Terdapat 3 komponen penting sebut Rafael yang harus mendukung gerakan percepatan pembangunan di sektor pertanian ini yakni manusia,modal dan peralatan. Dana APBD minimal dialokasikan 10 persen pertahun untuk menggerakan sektor pertanian.

Areal persawahan di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka- Foto : Ebed de Rosary.

“Selain modal atau dana, tentu manusianya dipersiapkan dengan baik bukan saja petaninya tetapi penyuluh pertaniannya. Semua pemangku kepentingan dilibatkan termasuk lembaga swadaya masyarakat, lembaga agama dan adat serta mekanisasi pertanian dengan menyediakan alat dan mesin pertanian yang mencukupi,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...