Tabur Puja Maksimalkan Keuntungan Perajin Songket

Editor: Koko Triarko

SOLOK — Lasmiati, perempuan kelahiran Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tetap menjalankan kerajinan tenun khas daerahnya, meski kini telah menetap di Kabupaten Solok.

Keahlian Lasmiati menenun Pandai Sikek telah dimulai sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada 1998.

Terlahir dari keluarga yang memiliki keahlian dalam menenun, membuat Lasmiati tertarik untuk melestarikan kerajian tenun, yakni tenun emas.

Perempuan yang memiliki dua orang anak ini, tinggal di Kabupaten Solok sejak 2002. Mengadu nasib jauh dari keluarga di Pandai Sikek, membuatnya harus memulai dari awal untuk melakukan kerajinan tenun di Kabupaten Solok.

Perlahan-, ia pun mencoba menjalankan usaha tenunnya. Namun seiring waktu berjalan, Lasmiati mulai merasa kesulitan untuk membeli bahan-bahan yang digunakan untuk menenun. Apalagi, untuk membeli benang emas, harganya terbilang cukup mahal.

Satu pak benang emas, harganya mencapai Rp400 ribu. Belum lagi untuk membeli benang sutra yang harganya Rp160 ribu per pak.

Untuk itu, pada awalnya ia berutang kepada salah seorang toke yang menjual songket. Utang ini dibayarkan bila nanti tenunnya telah selesai. Ketika hendak dijual, di saat itulah dihitung berapa utang, dan berapa uang yang harus diperoleh oleh Lasmiati.

Dari waktu ke waktu, Lasmiati mendengar dan mendapat informasi bahwa ada sebuah kelompok yang bisa memberikan pinjaman lunak di daerahnya, yakni di Jorong Markio, Nagari Gantuang Ciri, Kecamatan Kubung.

Dengan hadirnya Tabur Puja pada 2014 di daerah tersebut, membuat Lasmiati menitipkan harapan bisa menyelesaikan persoalan modal usaha yang telah lama dijalaninya.

“Saya pun mengajukan pinjaman modal usaha ke Tabur Puja Jihad. Alhamdulillah dipenuhi, saya pun menggunakannya untuk keperluan kerajinan tenun,” katanya, Jumat (13/4/2018).

Pinjaman awal yang diperoleh Lasmiati dari Tabur Puja itu sebesar Rp2 juta, yang digunakan untuk membeli benang.

Dengan telah memiliki modal usaha untuk mendapatkan benang, ia tidak perlu lagi mengutang ke toke, sehingga hasil usahanya menenun songket dapat dirasakan sepenuhnya, tanpa harus dipotong pinjaman untuk membeli benang.

“Bagi saya, yang penting bisa menenun dulu. Soal utang atau bagaimana persoalan lain, karena hasil jual songket mampu menutupi utang tersebut,” ucapnya.

Ia menjelaskan, songket yang dibuatnya sudah ada toko yang menunggunya. Sepasang songket terdiri dari pakaian berserta selendang harganya Rp3 juta. Tapi, kalau untuk songketnya saja hanya Rp2,1 juta.

Untuk membuat songket, Lasmiati menghabiskan waktu paling cepat 15 hari, dan untuk sepasang songket membutuhkan waktu 25 hari. Ia bekerja sejak pagi hingga sore. Terkadang kalau lagi ada waktu luang, ia bekerja hingga tengah malam.

“Saya bersyukur bisa menjalankan usaha ini, karena turut dibantu oleh Tabur Puja. Karena saya juga bisa membantu suami dari sisi ekonomi keluarga, yang bekerja sebagai seorang petani,” ucapnya.

Lihat juga...