Tahun Ini Sumatera Barat tak Bangun Shelter

Editor: Koko Triarko

183
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat, Rumainur, -Foto: Ist/M Noli Hendra

PADANG — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat, Rumainur mengatakan, tahun  ini pihaknya tidak lagi membangun shelter. Namun, pihaknya mendukung pemanfaatan gedung yang bisa dijadikan shelter sebagai evakuasi.

Ia menyebutkan, seiring memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2018 di Sumatera Barat, beberapa hari mendatang, hal yang menjadi fokusnya adalah melakukan pelatihan evakuasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Setidaknya, ada 300 ribu yang telah memastikan mengikuti HKBN, yakni BPBD Kota Padang, 104 ribu orang, Pariaman 10 ribu, Padang Pariaman 9.000, Agam 6.000, Limapuluh Kota 10.000. Jumlah peserta pasti bertambah, masih banyak kabupaten/kota yang belum melaporkan.

“Jadi, pemerintah memilih memanfaatkan gedung yang bisa dijadikan tempat evakuasi. Seperti di Kota Padang, bangunan yang bisa dijadikan shelter tidak lebih dari 10 unit. Begitu juga untuk daerah lainnya. Maka, kita perlu matangkan untuk pelatihan evakuasi,” katanya, ketika dihubungi, Selasa (17/4/2018).

Rumainur menjelaskan, bangunan yang bisa dijadikan shelter di Kota Padang, seperti gedung Escape Building Kantor Gubernur Sumbar, kantor Mapolda Sumbar, Masjid Raya Sumatera Barat, SMA 1 Padang, perhotelan, dan bangunan lain yang memiliki ketinggian memadai menjadi tempat evakuasi.

Selain di Kota Padang, khusus untuk kabupaten dan kota yang berada di pesisir pantai, lebih banyak menyiapkan shelter alam. Seperti membuka jalur evakuasi pada perbukitan terdekat dengan pemukiman warga, sehingga warga bisa memanfaatkan bukit untuk shelter.

“Seperti di Kota Pariaman, semua jalur sudah dibangun dengan APBD untuk menuju bukit terdekat. Jaraknya ada yang satu kilometer sampai dua kilometer dari pusat pemukiman,” ujarnya.

Ia mengaku, hingga saat ini memang belum ada alat atau ilmu apa pun yang dapat mengukur terjadinya gempa dan menentukan kapan terjadinya gempa dan tsunami.

Untuk itu, seiring HKBN, BPBD Sumbar menargetkan 1,5 juta masyarakat tahu HKBN. Dengan itu, BPBD melibatkan semua instansi dan lembaga untuk menyosialisasikan bahaya bencana. HKB tepatnya pada tanggal 26 April.

Langkah-langkah untuk mencapai target tersebut, BPBD sudah menerima sejumlah laporan terkait pelaksanaan HKBN. Kemudian, masing-masing instansi melaksanakan sendiri. Khusus daerah pesisir, khusus untuk bahaya gempa dan tsunami.

“Jadi, nanti cukup 30 menit, bunyikan sirine, berkumpul, silahkan bubar. Ini sudah mengingatkan kita apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa,” jelasnya.

Selain itu juga sekolah-sekolah. Dengan mengajak tour to shelter, sehingga anak-anak paham, apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa. Begitu instansi lainnya, baik daerah maupun vertikal.

Sementara, daerah-daerah yang jauh dari bibir pantai dan minim terjadi gempa dapat memilih mitigasi bencana lainnya. Seperti banjir dan longsor. Lalu, untuk Sijunjung, Dharmasraya dan daerah yang jauh dari pantai bisa mengikuti mitigasi bencana lainnya.

Sementara itu, Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, mengatakan daerahnya yang merupakan derah yang berpotensi terjadi gempa yang berkekuatan besar dan yang berkemungkinan terjadi tsunami, malah tidak bangunan yang bisa dijadikan shelter.

“Di Mentawai tidak ada satu pun bangunan yang didirikan untuk shelter. Sudah sering saya minta, tapi tidak ada yang memenuhinya,” ucapnya.

Ia menyebutkan, saat ini untuk tempat evakuasi di daerah Mentawai hanya memanfaatkan tempat evakuasi dari alam, yakni perbukitan. Setidakhnya ada beberapa perbukitan yang bisa dijadikan tempat evakuasi.

Kini, khusus untuk lokasi evakuasi itu, telah dibuatkan jalan serta mendirikan petunjuk arah dalam melakukan evakuasi. Selain itu, saat ini masyarakat di Mentawai cukup paham dalam melakukan evakuasi dini, bila kemungkin terjadi tsunami di daerah tersebut.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.