banner lebaran

The Perfect Husband, Dilema Pencarian Sosok Suami Sempurna

Editor: Satmoko

280
Adegan Film The Perfect Husband (Foto Istimewa Dok PH Screenplay Films)

APA persepsi kita mengenai sosok orang yang sempurna? Atau, paling tidak sosok ideal yang mendekati sempurna? Tampaknya sempurna itu relatif, tergantung sudut pandang orang masing-masing.

Sempurna bagi anak muda adalah sosok yang mewujud dari segala keinginan penuh atas kebebasan, bahkan pencarian jati diri yang berpadu dengan apa yang diidolakan. Tapi tentu lain dengan sempurna bagi orang tua yang bersifat mapan dari kristal-kristal memaknai hakekat hidup dan kehidupan.

Keduanya beda dan memang bertolak belakang, tapi pada fase tertentu pasti ada titik temunya. Demikian yang mengemuka dari film ‘The Perfect Husband’.

Kisahnya tentang Ayla (yang diperankan begitu menawan oleh aktris manis Amanda Rawles), yang diceritakan sebagai seorang gadis cantik kelas 3 SMA yang sedang menikmati masa remaja.

Ia menikmati kisah cinta dengan Ando (Maxime Bouttier), seorang vokalis band rock. Mereka sangat terkejut saat suatu ketika muncul seorang pilot muda bernama Arsen (Dimas Anggara) yang mengaku sebagai calon suami Ayla.

Ayla tentu saja sangat kesal, karena ia yakin alasan Tio (Slamet Rahardjo), ayahnya, yang menjodohkannya dengan Arsen, dikarenakan Ando yang dinilai urakan, tatoan, nggak punya masa depan yang cerah. Sedangkan, Arsen kebalikan dari Ando, seorang pilot muda bermasa depan cerah, yang diyakini akan menjadi calon suami yang sempurna bagi Ayla.

Sedangkan Tio sebagai orang tua tentu saja resah atas kedekatannya dengan Ando, yang dianggap mengurus dirinya tidak becus. Buktinya tatoan yang itu berarti melukai tubuhnya sendiri. Apalagi nanti kalau akan mengurus orang lain. Tio meyakini berbagai atribut buruk yang melekat pada diri Ando itu akan memberikan pengaruh buruk bagi putrinya.

Ayla berusaha keras menggagalkan perjodohan ini. Ayla sepertinya frustasi dengan perjodohan yang benar-benar sangat tidak dikehendakinya. Apalagi ayahnya tiba-tiba mengundang makan bersama kedua orang tua Arsen.

Momen pertemuan dua keluarga itu digunakan Ayla dengan sengaja merusak citra diri seburuk-buruknya di depan Bu Yusuf (Maya Wulan), ibunya Arsen. Ayla makan dengan tangan meraup seenak hati nasi beserta lauk pauk.  Sebelah kakinya pun naik di kursi sehingga terkesan tampak tidak sopan. Setelah makan, Ayla sengaja sendawa, yang makin membuat Bu Yusuf uring-uringan.

Saat Pak Yusuf (Dolly Martin), ayahnya Arsen, mengatakan kalau perjodohan tersebut memang sengaja dilakukan karena mengacu pada bobot dan bibit keturunan. Ayla pun langsung menyeletuk dengan menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan tubuh besar Bu Yusuf. Hal itu semakin membuat Bu Yusuf lebih uring-uringan lagi.

Ayla semakin menjadi-jadi frustasinya saat tahu mobil kesayangannya dijual ayahnya. Kemudian digantikan dengan Arsen yang ditugaskan untuk antar-jemput Ayla sekolah. Ayla pun terang-terangan menunjukkan kebencian pada Arsen di depan teman-teman sekolahnya. Ada pun teman-temannya justru tampak kagum pada Arsen yang pembawaannya begitu tenang, kalem, dan penuh senyum.

Di luar dugaan Ayla, Arsen ternyata memang tidak gampang digoyahkan. Arsen tetap sabar menghadapi, bahkan mulai punya nilai plus di mata Ayla. Hal itu tampak membuat Ayla pelan-pelan luluh sehingga Arsen mulai senang. Begitu juga ayahnya lebih senang lagi. Tapi ternyata itu sandiwara Ayla yang sengaja untuk menjebak Arsen agar benar-benar mau menjauhi dirinya. Ayla memang sungguh benci pada Arsen.

Puncaknya, Ando mengajak Ayla kabur dan berhenti dari sekolah. Hal itu tentu membuat ayahnya benar-benar syok berat hingga terkena serangan jantung sampai meninggal dunia.

Ayla sangat terkejut setelah ayahnya meninggal yang kemudian terbuka sebuah rahasia, mengapa sejak awal Tio bersikeras menjodohkan Ayla pada Arsen.

Film ini dramatis sekali menggambarkan dua perbedaan pandangan dua generasi antara yang muda dan yang tua dalam memandang sosok orang yang sempurna. Sutradara Rudi Aryanto berhasil mengemas dengan baik. Penyutradaraannya pun begitu mendetail dan ekspresif sekali.

Penulisan skenario yang dikerjakan bersama oleh Sukhdev Singh, Tisa TS dan Benni Setiawan patut kita cermati. Nama Sukhdev dan Tisa memang sudah biasa di PH Screenplay Films. Sedangkan Beni nama baru yang tampaknya dilibatkan untuk lebih mempertajam cerita dalam film ini. Ada warna baru di Screenplay Films. Baik Beni dalam penulisan skenario maupun Rudi sebagai sutradara.

Akting Amanda Rawles tampak semakin menunjukkan kematangan dalam film ini. Amanda mampu melebur pada sosok Ayla yang karakternya menggelegak khas anak muda yang sedang mencarian kesejatian. Totalitasnya patut diapresiasi dengan berbagai ekspresi  ugal-ugalan. Peran Ayla memang memberi ruang yang begitu luas bagi Amanda mengeksplorasi kemampuan akting.

Begitu juga akting Dimas Anggara dan Maxime Bouttier, yang keduanya memainkan sosok beda dan sangat bertolak belakang. Dimas terkesan kalem, sedangkan Maxime urakan. Peran Arsen dan Ando juga memberi ruang bagi kedua anak muda itu menunjukkan kemampuan akting yang tidak boleh main-main karena memang harus benar-benar serius.

Adapun keterlibatan aktor senior Slamet Rahardjo dalam film ini menjadi catatan tersendiri. Karena Slamet dikenal selektif dalam menerima peran dalam sebuah film. Nama besarnya tentu jadi pertaruhan dari film yang dibintanginya.

Hal ini juga membuat film ini mendapat poin plus karena tentu bukan sembarang film kalau aktor senior sekelas Slamet Rahardjo yang langganan Piala Citra FFI bergengsi mau terlibat di dalamnya.

Menonton film produksi Screenplay Films ini memang membuat kita jadi merenung. Masing-masing kita ada yang baru pada fase anak muda yang sedang mencari kesejatian, tapi ada juga yang sudah melampaui fase kawah candramuka itu.

Film ini terutama sekali tentu tujuannya menyasar anak muda. Zaman memang boleh berubah. Tapi fase muda dan tua itu tetap beda dalam zaman mana pun. Film adaptasi novel berjudul sama karya Indah Riyana ini memang tak hanya sekedar hiburan semata, tapi juga bisa untuk menyelipkan sebuah pesan. Film yang bisa dikatakan tak sekedar tontonan tapi juga tuntunan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.