Titiek Soeharto: Seni Komik Indonesia Memiliki Peran Penting

Editor: Mahadeva WS

434

JAKARTA — Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) kembali menyelenggarakan Indonesia Art Award (IAA). Tahun ini kegiatannya mengangkat tema Dunia Komik dan  dihelat di Galeri Nasional Indonesia.

Ketua Umum YSRI Titiek Soeharto menyebut, pemilihan tema Dunia Komik dilandasi pertimbangan bahwa komik merupakan bahasa komunikasi visual yang universal. Saat ini dunia internasional sudah mulai memberi ruang apresiasi terhadap seni komik.

“Seni komik Indonesia memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan seni rupa Indonesia. Berbagai peristiwa penting yang mewarnai perjalanan bangsa ini dituangkan seniman komik melalui karya-karya komik yang inovatif, kreatif, namun juga kritis,” kata Titiek saat memberikan sambutan dan membuka pameran Dunia Komik di Galari Nasional, Jakarta, Senin (2/4/2018) malam.

Di sisi lain komik Indonesia juga memiliki karakter tersendiri dibandingkan negara-negara lain. Dan kehadiran YSRI disebutnya, untuk mengangkat nilai-nilai seni yang selama ini belum mendapat panggung secara optimal di Tanah Air.

Titiek yang juga anggota DPR RI ini mengatakan, sejak berdiri di 1994, YSRI senantiasa memegang komitmen dalam upaya mengembangkan dunia seni budaya di Indonesia, hususnya bidang Seni Rupa. Dan, sejak 2013 menyelenggarakan program IAA, sebagai event dua tahunan.

Di tengah era globalisasi, persoalan cultural identity menjadi sangat penting. Dan YSRI mencoba mengambil peran itu melalui kegiatan kompetisi dan pemberian penghargaan kepada seniman komik. Titiek berharap ini dapat memperkaya dunia seni rupa Indonesia.

“Kami berharap pameran Dunia Komik ini dapat memberi peran signifikan terhadap lini masa perjalanan seni rupa Indonesia, sekaligus sebagai kebangkitan Seni Rupa Pop Art di Tanah Air,” harapnya.

Senada dengan Titiek Soeharto, Kepala Galeri Nasional Pustanto berharap, pameran Dunia Komik dapat menumbuhkan peran aktif para perupa Indonesia dalam percaturan seni rupa berskala global. Selain itu dapat menuntun para perupa untuk terus mengapresiasi simbol, tanda, dan makna komik yang seringkali membawa budaya lokal.

Diharapkannya, pameran ini dapat membuat masyarakat lebih mengenal komik bukan sebagai cerita bergambar melainkan cerita gambar yang sebetulnya tidak dapat terpisahkan dari tanda-tanda dalam perspektif kesenian maupun budaya. Selain itu, masyarakat dapat selalu menghargai dan mencintai karya-karya seni rupa Indonesia.

Adapun pameran Dunia Komik berlangsung dari 2 hingga 18 April 2018 di Gedung A Garnas. Pameran dikuratori Jim Supangkat, Iwan Gunawan, dan Hitman Darmawan itu menampilkan sekira 129 karya komik dari para peserta Gudang Garam Indonesia Art Award (GGIAA) 2018 yang lolos seleksi dari keseluruhan peserta lomba 350 orang. Dari 129 komik tersebut, 90 adalah karya peserta dari kategori umum, dan 39 dari komikus profesional.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.