Transportasi Jadi Kendala Pengembangan Selancar Krui

160
Ilustrasi - Dok CDN

LAMPUNG  – Kawasan Krui, Pesisir Barat, Lampung saat ini memang terus berkembang setelah menjadi salah satu destinasi wisata dan cocok untuk olahraga selancar, hanya saja transportasi masih menjadi kendala untuk pengembangan wilayah tersebut.

“Perjalanan dari airport ke Krui benar-benar jauh. Memakan waktu sekitar tujuh jam. Pinggul saya seperti hilang,” kata seorang peserta selancar Krui Pro 2018 asal Korea Selatan, Sujeong-im di Krui, Pesisir Barat, Minggu.

Peselancar berusia 23 tahun ini juga menyoroti sebagian jalan yang dinilai kurang bagus meski mayoritas bisa dikatakan mulus. Dia berharap masalah tersebut menjadi perhatian khusus dari pemerintah.

“Bahkan saya mendengar ada banyak kendaraan yang rusak karena jalanan dan akhirnya mereka tidak bisa ke sini. Sedih mendengar kabar itu,” kata peselancar kenyang pengalaman itu.

Meski transportasi belum sepenuhnya maksimal, Sujeong-im mengaku sudah terbayar dengan kondisi Pantai Tanjung Setia dan fasilitas pendukung lainnya. Pantai yang ada memiliki ombak yang besar dan sangat cocok untuk berselancar.

“Tapi, ketika saya melihat-lihat daerah di sini, kemudian berselancar, minum air kelapa dingin, kemudian oh saya merasa senang bisa berada di sini,” kata peselancar yang biasa bermain di Hawai maupun California itu.

Krui, Pesisir Barat saat ini sebenarnya sudah mempunyai bandara yang bernama Taufik Kiemas. Hanya saja keberadaannya belum dioptimalkan padahal kondisi cukup bagus. Bahkan, bandara tersebut juga digunakan untuk pendaratan helikopter yang digunakan oleh Menpora Imam Nahrawi saat kunjungan kerja.

Keberadaan bandara ini ternyata sudah didengar oleh Sujeong-im. Menurut peselancar asal Korea Selatan ini keberadaannya sangat tepat untuk menunjang keberadaan pantai-pantai yang selama ini dikembangkan untuk selancar maupun kunjungan wisata lainnya.

“Pastinya akan lebih bagus jika ada pesawat kecil yang bisa langsung membawa turis ke Krui. Contohnya di negara saya. Kota Busan menuju Gwangyeong sekitar enam jam. Tetapi menggunakan pesawat hanya 30 menit. Pesawat kecil cuma menampung 15 orang. Meski tidak ada, saya akan tetap ke sini,” kata peselancar murah senyum itu.

Sementara itu Kepala Dinas Olahraga Pesisir Barat yang juga ketua panpel kejuaraan internasional Krui Pro 2018, Azhari mengatakan, pembangunan fasilitas pendukung memang terus diupayakan. Selain memperbaiki akses jalan, pemerintah Kabupaten Pesisir Barat juga mendorong memperpanang landasan pacu Bandara Taufik Kiemas.

“Memang harus ada koordinasi dengan banyak pihak untuk pengembangan Krui. Pemerintah Pesisir Selatan saat ini terus berusaha mengembangkan olahraga dan pariwisata di sini,” katanya. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.