Usaha Kecil Pembuatan Kerupuk Berdayakan Perempuan Lamsel

Editor: Irvan Syafari

202

LAMPUNG — Usaha kecil pembuatan kerupuk rasa ikan ikut memberdayakan kaum perempuan di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan sebagai pemilik maupun yang ikut bekerja dalam proses pengolahan hingga proses pengemasan.

Yani (30), salah seorang pemilik usaha pembuatan kerupuk rasa ikan, mengaku selama proses pengolahan kerupuk melibatkan sekitar delapan karyawan, dua di antaranye perempuan. Sementara dalam proses pengemasan melibatkan puluhan ibu rumah tangga di wilayah tersebut.

Usaha pembuatan kerupuk dalam sehari diakuinya menghabiskan sekitar dua kuintal per hari dengan bahan baku tepung tapioka, bawang putih, garam dan perasa ikan. Proses pembuatan kerupuk terbantu dengan kondisi cuaca terik panas matahari mempercepat pengeringan bahan baku kerupuk. Kerupuk rasa ikan diakuinya banyak diminta oleh sejumlah pemilik usaha kuliner.

“Saat kondisi cuaca mendung bahkan hujan membuat proses penjemuran lebih lama minimal satu hari bahkan bisa mencapai dua hari namun dalam kondisi panas hanya delapan jam,” ujar Yani saat ditemui Cendana News, Selasa (3/4/2018).

Dia memaparkan, proses penjemuran bahan kerupuk mempergunakan sebanyak 500 ebeng atau para-para dengan tiang bambu. Pekerja perempuan juga kerap dilibatkan dalam proses mengadon bumbu dan proses pencetakan dengan alat khusus hingga proses penggorengan. Para pekerja tersebut mendapat pembayaran dengan sistem harian yang dibayarkan per bulan.

Proses pengemasan kerupuk yang dilakukan seusai penggorengan disebutnya melibatkan sekitar 25 ibu rumah tangga yang ada di Dusun Banyumas. Sebagian pekerja perempuan disebutnya bekerja saat waktu luang dengan sistem upah berdasarkan hasil yang dibungkus dengan plastik.

Saat ini upah perkilogram kerupuk yang dibungkus dalam plastik sebesar Rp1000 dengan rata rata per hari kaum perempuan mendapatkan sekitar Rp70.000 per hari.

Para pekerja perempuan rata rata bekerja pada saat sore hari, setelah dikirim sekitar 200 kilogram kerupuk dalam kondisi sudah digoreng. Kerupuk yang sudah dibungkus selanjutnya dikemas dalam wadah wadah khusus berukuran besar untuk dikirim ke sejumlah warung. Proses pengiriman melibatkan sejumlah pekerja laki laki yang berperan mengantar ke sejumlah warung.

Suhardi, salah satu karyawan pengolahan kerupuk sekaligus petugas pengiriman mengaku pada saat musim panas penjemuran lebih cepat. Selain proses produksi yang cepat saat musim kemarau pengiriman ke sejumlah warung tidak mengalami kendala dibanding saat musim hujan.

Dalam sehari Suhardi mengirimkan sebanyak 200 bungkus kerupuk matang yang dijual ke sejumlah warung dengan harga Rp4.000 per bungkus. Pemilik warung biasanya menjual Rp6.000 per bungkus.

“Saya melakukan pengiriman ke tiga kecamatan ke sebanyak seratus warung kecil dan sejumlah usaha warung kuliner,” cetus Suhardi.

Ana, salah satu pekerja perempuan menyebut dirinya sudah menjadi pekerja pembuatan kerupuk sejak empat tahun silam. Meski hanya bekerja sebagai karyawan pembuatan kerupuk dirinya, bisa mengumpulkan uang untuk pulang kampung ke Tasikmalaya Jawa Barat. Bekerja bersama rekan rekan lain yang berasal dari Tasikmalaya, ia mengaku menabung hasil bekerja untuk Idul Fitri.

Ana, salah satu pekerja wanita di industri rumahan kerupuk rasa ikan-Foto: Henk Widi.

“Dalam masa bulan Ramadan kami tetap bekerja, namun dilakukan setelah kegiatan salat tarawih,” ungkap Ana.

Menurut Ana berbeda dengan jenis bahan makanan lain, permintaan kerupuk menurun saat bulan suci Ramadan. Sebab pada Ramadan sejumlah pemilik usaha kuliner mengurangi penjualan bahkan sebagian memilih berhenti operasi.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.