Warga Plembon Sleman Masih Lestarikan Mendong untuk Pembuatan Tikar

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

417

YOGYAKARTA — Dusun Plembon, Sendangsari, Minggir, Sleman mungkin menjadi satu-satunya daerah penghasil tanaman Mendong atau Purun Tikus yang masih tersisa di DIY saat ini.

Tanaman Mendong yang merupakan bahan baku utama pembuat tikar, masih dapat dengan mudah dijumpai di sejumlah lahan pertanian milik petani.

Bentangan lahan pertanian yang subur dengan pengairan maksimal, tidak ditanam tanaman padi melainkan Mendong yang sepintas mirip rumput ilalang tinggi ini.

Ada alasan kenapa sejumlah petani di dusun Plembon, masih mempertahankan dan melestarikannya. Salah satunya masih banyak terdapat pengrajin tikar tradisional yang membutuhkan Mendong sebagai bahan baku utama.

Salah seorang petani asal dusun Plembon, Kliyem (65) mengaku memilih menanam Mendong dibandingkan padi karena sudah kebiasaan turun-temurun. Ia menanam tanaman tersebut di lahan seluas kurang lebih 500 meter persegi.

“Mendong perawatannya mudah. Meski begitu waktu panennya lebih lama. Yakni 6 bulan,” katanya.

Saat panen, Kliyem mengaku biasa menyetor ke sejumlah pengrajin tikar yang ada di desanya. Satu ikat besar dihargai Rp200ribu.

“Setelah panen Mendong dijemur dulu sampai kering. Setelah dua-tiga hari baru diambil batangnya untuk disetor ke pengrajin,” ujarnya.

Mendong
Mendong yang telah kering dibawa ke pengrajin tikar. Foto: Jatmika H Kusmargana

Kliyem menuturkan, beberapa dekade silam, hampir semua petani di dusunnya menanam Mendong. Namun sejak banyaknya pengrajin yang gulung tikar akibat kalah bersaing dengan tikar impor berbahan plastik, banyak petani beralih menanam padi.

“Dulu semua sawah disini ditanam Mendong. Sekarang sudah berkurang jauh. Karena pengrajin tikar disini juga hanya tinggal beberapa. Itupun kebanyakan orang sepuh,” katanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.