banner lebaran

Warga Swiss Gelar Pameran Songket Minang

334

ZEYNITA GIBBONS – Pasangan suami istri asal Swiss, Bernhard dan Erika Bart serta seorang wanita minang asal Koto Gadang, Sumatera Barat Trini Tambu menggelar pameran puluhan kain songket Minangkabau di Lyssach, Swiss.

Pameran kain songket yang digelar pertama kalinya di Swiss, itu bertajuk Gold and Silk: the Revitalization of the Songket weaving in West Sumatra. Dubes Indonesia untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein, Muliaman Dharmansyah Hadad menyebut, pameran tersebut tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, tapi menjadi jembatan budaya bagi Indonesia dan Swiss.

Bernhard Bart (71), merupakan arsitek Swiss yang telah mendedikasikan lebih dari dua puluh tahun hidupnya merestorasi kembali motif Songket lama Sumatera Barat. Kecintaannya terhadap Songket dimulai di 1996, ketika pertama kali mengunjungi Sumatera Barat dalam rangka belajar Bahasa Indonesia.

Bernhard yang acapkali melanglang buana dan penyuka kerajinan tangan, menambatkan hatinya pada tenun Songket Sumatera Barat. Khususnya Songket asal Koto Gadang. Di mata Bernhard, Songket tidak hanya sekedar seulas kain, namun Songket merupakan bagian dari sejarah dan ritual adat masyarakat Minangkabau.

Dahulu kala, masyarakat Minangkabau tidak menulis filosofi hidup dan budayanya di atas secarik kertas, namun diturunkan dari generasi ke generasi melalui karya ukir dan tenun Songket. “Meneliti Songket merupakan hal menyenangkan, karena Songket dengan motif paling sederhana pun memiliki makna filosofis dan budaya, yang sangat menarik untuk dipelajari,” ujar Erika Bart, Senin (16/4/2018).

Bernhard dan Erika Bart dengan antusias menjelaskan berbagai motif Songket asal Sumatera Barat di depan kurang lebih seratus pengunjung yang menghadiri pembukaan pameran. Pengunjung yang mayoritas adalah warga Swiss dan juga internasional dengan berbagai latar belakang antara lain pecinta seni, pengamat fashion dan komunitas diplomatik mengagumi Songket hasil karya Bernhard Bart, yang tidak hanya indah dilihat, namun juga memiliki nilai seni yang tinggi dan memiliki makna sejarah.

Kecintaan terhadap Songket membuat Bernhard dan Erika Bart mendirikan studio Songket di Sumatera Barat pada 2005. Bernhard sadar Songket dengan motif dan teknik tradisional akan punah apabila tidak dilestarikan.

Dengan tekun ia mempelajari berbagai motif Songket dan teknik menenun Songket dengan alat tenun tradisional. Baginya, membuat Songket membutuhkan perhitungan yang cermat, layaknya arsitek membuat desain membangun rumah.

Songket karya Bernhard Bart berhasil mendapatkan penghargaan UNESCO Award of Excellence for Handicrafts se-Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pada 2016, Bernhard mengadakan pameran Songket bertajuk Queen of Textile: One Root, One Heritage yang diadakan di luar Indonesia yaitu di Kuala Lumpur, Malaysia. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.