Warijan, 20 Tahun Setia Geluti Arang

Editor: Koko Triarko

118

YOGYAKARTA — Semakin mahalnya harga kayu mentah, tak menghambat Warijan (60), untuk melakoni usaha membuat arang. Meski keuntungannya yang didapat tak seberapa, namun ia tetap menjalani profesi yang telah dijalaninya selama lebih dari 20 tahun itu.

Warijan merupakan satu dari sekian banyak pembuat arang yang masih bertahan di Dusun Gembuk, Getas, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta. Dusun Getas yang terletak di perbatasan Gunungkidul dan Bantul ini sejak lama dikenal sebagai sentra pembuatan arang.

Banyaknya pengusaha mebel dan kayu yang ada di desa Getas ini membuat ketersediaan limbah kayu melimpah. Maka, Warijan dan sejumlah pembuat arang lainnya pun memanfaatkan limbah kayu tersebut untuk dibuat menjadi arang dan dijual ke berbagai daerah.

“Sudah 20 tahun lebih saya buat arang. Dari dulu harga arang sepikul hanya Rp250, sampai sekarang Rp130.000,” katanya.

Warijan biasa membuat arang di sela kegiatannya menggarap ladang. Pasalnya, selain berprofesi sebagai pembuat arang, ia juga merupakan seorang petani sebagaimana kebanyakan warga Gunungkidul pada umumnya.

Dikatakan, untuk membuat arang, Warijan biasa membeli kayu mentah dari para perajin mebel. Satu colt kayu ia beli seharga Rp250 ribu. Satu colt kayu akan diolah menjadi arang dalam dua kali proses pembakaran. Satu kali proses pembakaran selama dua hari dua malam akan menghasilkan lima karung arang yang dijual Rp65 ribu per karungnya.

“Untuk membuat arang, kayu seperti akasia, jati atau mahoni ditumpuk jadi satu. Setelah itu, tumpukan ditutup tanah seluruhnya. Tinggal dibakar saja. Setelah habis nanti api akan mati sendiri,” katanya.

Menurut Warijan arang buatannya biasa disetor ke sejumlah pedagang di wilayah Gunungkidul seperti Gading, Wonosari, Semanu, dan sebagainya. Saat musim penghujan, pesanan arang biasanya akan meningkat seiring banyaknya pengguna arang.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.