1000 Mahasiswa di Malang Ikuti Bimtek K3 Konstruksi

Editor: Mahadeva WS

381

MALANG – Keterbatasan tenaga ahli Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) konstruksi serta rendahnya pemahaman terhadap bahaya dan risiko konstruksi seringkali menjadi penyebab banyaknya terjadi kecelakaan kerja. 

Dilandasi permasalahan tersebut PT Brantas Abipraya, Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Bina Konstruksi dan Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Surabaya bekerjasama, Politeknik Negeri Malang (Polinema) dan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) K3 Konstruksi dan Distance Learning. Kegiatan diikuti 1.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang.

Direktur operasional II Brantas Abipraya,Widyo Praseno – Foto Agus Nurchaliq

Direktur operasional II PT Brantas Abipraya Widyo Praseno menjelaskan, kegiatan bimtek K3 konstruksi dilaksanakan dalam rangka implementasi Undang-undang No.2/2017 mengenai Jasa Konstruksi. Produk hukum tersebut menyatakan, setiap tenaga kerja konstruksi di bidang Jasa Konstruksi wajib memiliki Sertifikat Kompetensi Kerja.

“Kegiatan ini menjadi ajang sosialisasi pentingnya tenaga kerja bersertifikat  guna melindungi tenaga kerja nasional agar memiliki nilai tambah yaitu lebih berkompeten dan produktif,” jelasnya, Selasa (15/5/2018).

Menurutnya, saat ini tenaga kerja konstruksi masih sangat sedikit yang sudah mengantongi sertifikat K3 Konstruksi. Proses untuk mendapatkan sertifikat cukup sulit, sementara proyek infrastruktur di Indonesia sampai lima tahun ke depan akan semakin banyak.  “Berdasarkan data, pekerja disektor konstruksi di Indonesia total ada sekitar 7 juta orang tapi yang miliki sertifikat baru 6-7 persen,” terangnya.

Seno menyebut, melalui Bimtek K3 dan Distance Learning mampu mencetak ahli-ahli muda K3 baru dari mahasiswa untuk menutup kesenjangan yang sudah besar di sektor kontruksi. Mahasiswa nantinya akan mengikuti program pelatihan K3 selama dua hari serta mengikuti 50 jam distance learning melalui program SIBIMA.

Kementerian PUPR menyebut, 50 jam distance learning setara dengan satu tahun pengalaman kerja. “Jadi kalau peserta sudah lulus mengikuti 50 jam distance learning, bisa mengikuti ujia program sertifikasi K3 ahli muda,” ungkapnya.

Direktur Jenderal Bina Konstruksi-Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin mengapresiasi langkah yang dilakukan PT Brantas Abipraya untuk mendukung program sertifikasi pekerja konstruksi. “Apa yang telah dilakukan Brantas Abipraya tersebut akan mampu mencetak tenaga ahli K3 konstruksi yang bisa menjadi ujung tombak pelaksanaan industri konstruksi baik di tingkat nasional maupun internasional,” sebutnya.

Lebih lanjut Syarif juga mengapresiasi perguruan tinggi di Malang yang telah menjadi suplier tenaga ahli khususnya tenaga ahli K3 kontruksi untuk menjawab tantangan masa yang akan datang. 26 persen masyarakat Indonesia yang berumur 16-30 tahun tersebutlah yang akan menentukan negara Indonesia di masa yang akan datang. “Artinya para mahasiswa ini merupakan pemegang peranan yang sangat penting untuk kelanjutan Indonesia ke depan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...