Agung Menggantungkan Hidup di Bambu

Editor: Mahadeva WS

229

YOGYAKARTA – Siang itu Agung (38) nampak tengah sibuk menganyam bilah-bilah bambu. Satu per satu potongan bambu yang telah tertata, dirajut dengan tali panjang menjadi sebuah untaian. 

Setidaknya butuh waktu sehari penuh untuk bisa menyelesaikan sebuah untaian kere bambu berukuran 2×2 meter persegi. Untuk ukuran kere bambu berukuran satu meter persegi, dibutuhkan empat hingga lima batang bambu. “Paling lama memang proses membuat bambu untuk siap dianyam. Harus potong, dibelah, dijemur lalu dibelah dan disisik lagi. Baru bisa dianyam,” ujarnya, Selasa (29/5/2018).

Agung merupakan salah seorang pembuat atau perajin kere berbahan bambu di Desa Sampakan, Pleret, Bantul. Dibantu seorang anaknya setiap hari Agung menekuni pekerjaan tersebut. “Sudah dua tahun saya buat kere dari bambu. Dulunya saya ikut saudara buat kerajinan kere Rumbia. Lalu saya putuskan dirikan usaha sendiri. Tapi dari bahan bambu, bukan Rumbia,” jelasnya.

Agung tengah memproses bambu hitam atau pring wulung untuk dibuat menjadi kere bambu – Foto : Jatmika H Kusmargana

Lelaki kelahiran Pekalongan, yang besar di Palembang ini mengaku memilih membuat kerajinan kere dari bahan bambu hitam atau pring Wulung karena dianggap lebih kuat dan tahan lama dibanding Rumbia. Selain itu bahan baku bambu juga lebih mudah didapat di Jawa.

Agung mengaku biasa membuat berbagai macam ukuran kere berbahan bambu. Mulai dari ukuran satu meter, dua meter hingga tiga meter. Ukuran kere standar adalah 2×2 meter mampu dibuat dalam sehari dengan memanfaatkan delapan hingga sembilan potong bambu sepanjang sembilan meter.

“Pertama bambu dipotong-potong sesuai ukuran. Setelah itu dibelah kecil-kecil dan dihaluskan dengan cara disisik. Lantas dijemur seminggu hingga kering. Begitu kering harus dibelah dan disisik lagi. Baru setelah itu siap dianyam,” jelasnya.

Dengan harga rata-rata Rp60ribu per meter, Agung mengaku mampu menjual puluhan kere bambu setiap bulannya. Selain diambil oleh pedagang, ia juga biasa menjualnya secara keliling.  “Kalau seminggu tidak habis ya saya jualan keliling ke rumah-rumah pakai motor. Karena kalau tidak gitu ya tidak makan,” ujarnya.

Tidak pasti lakunya kerajinan kere bambu buatannya menjadi tantangan tersendiri bagi Agung untuk menekuni usahanya. Meski begitu ia mengaku tetap rutin memproduksi kerajinan tradisional itu setiap hari. “Kendalanya ya tidak pasti laku setiap hari. Karena memang bukan kebutuhan pokok. Seminggu tidak ada satupun barang yang laku itu biasa,” kata lelaki yang juga tinggal di sebuah rumah bambu sederhana buatannya.

Baca Juga
Lihat juga...