Angka Kematian Ibu dan Bayi di Sikka, Tinggi

Editor: Koko Triarko

361
MAUMERE – Sejak 2013 hingga 2017, angka kematian ibu dan bayi di kabupaten Sikka, masih tinggi. Belum mencapai target sesuai yang ditetapkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kabupaten.
“Untuk angka kematian ibu, dari target sebesar 80 per 100 ribu kelahiran hidup, realisasinya hanya 85,8 persen. Sementara angka kematian bayi dari target 7 per 1.000 kelahiran hidup, realisasinya pun hanya 44,84 persen,” sebut Plt. Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar, Jumat (25/5/2018).
Angka Kematian Ibu, terang Nong Susar, pada 2014 ditargetkan sebesar 115 per 100 ribu kelahiran hidup, hanya tercapai 114,5 per 100 ribu kelahiran hidup. Pada 2015, dari target sebesar 102 per 100 ribu kelahiran hidup, realisasinya hanya 150,16 per 100 ribu kelahiran hidup.
“Sementara di 2016, target sebesar 95 per 100 ribu  kelahiran hidup realisasinya sebesar 250,90 per 100 ribu kelahiran hidup. Sementara 2017 yang ditargetkan 85 per 100 ribu kelahiran hidup hanya terealisasi 93,22 per 100 ribu kelahiran hidup,” terangnya.
Nong Susar menjelaskan, kondisi pada 2014 dengan target sebesar 11 per 1.000 kelahiran hidup, realisasi 14,25 per 1.000 kelahiran hidup, 2015 target sebesar 10 per 1.000 kelahiran hidup realisasi 11,87 per 1.000 kelahiran hidup.
“Pada 2016, targetnya 9 per 1.000 kelahiran hidup, hanya bisa tercapai 15,44 per 1.000 kelahiran hidup, dan 2017 diberi target 8 per 1.000 kelahiran hidup, hanya bisa terealisasi 15,61 per 1.000 kelahiran hidup”, paparnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadisdan Sada Nenu, M.PH., mengatakan, untuk prevalensi gizi buruk, dari target akhir tahun sesuai RPJMD sebesar 0,4 persen hanya bisa tercapai 63 persen.
Pada 2014, jelas Maria, Pemkab Sikka menargetkan 0,9 persen, namun hanya terealisasi sebesar 0,73 persen, dan pada 2015 target sebesar 0,70 persen, pencapaiannya sebesar 0,14 persen.
“Dua tahun terkahir pun sama hasilnya. Pada 2016 target sebesar 0,6 persen realisasi sebesar 0,88 persen dan 2017 target sebesar 0,5 persen realisasinya 0,63 persen,” jelasnya.
Guna mengatasi hal tersebut, lanjut Maria, pihaknya telah menginstruksikan tenaga kesehatan yang bertugas di desa, agar tinggal dan menetap di desa, sehingga bila ada kejadian yang dialami ibu hamil bisa segera dilakukan pertolongan.
“Seorang ibu hamil sangat membutuhkan dukungan dan perhatian dari suami, keluarga dan masyarakat. Hal ini sudah dijabarkan dalam Peraturan Bupati Sikka tentang Pembentukan Tim Jejaring Kesehatan Ibu dan Anak tingkat kabupaten Sikka,” sebutnya.
Selain itu, terangnya, juga sudah ada perjanjian antara camat dan kepala puskesmas, bidan desa dengan kepala desa, dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, sehingga terwujud keluarga sehat dan sejahtera secara fisik, psikis, sosial dan ekonomi.
“Sebab itu, pemerintah desa dan kelurahan perlu membentuk sistem siaga hingga tingkat RT dan dusun, dalam mengidentifikasi ibu hamil, menyediakan transportasi, calon donor darah dan mengevaluasi pelaksanaan jejaring desa siaga serta menentukan strategi pemecahan masalah,” sebutnya.
Namun, diakuinya masih terdapat kendala, sehingga dinas Kesehatan menginstruksikan, agar Puskesmas, Pustu, Polindes, selalu mendata ibu hamil dan bayi secara berkala, dan melakukan pemeriksaan rutin, serta pengecekan.
Baca Juga
Lihat juga...