Astra Agro Targetkan Produksi TBS 25 Ton per Hektare

Editor: Koko Triarko

308
BALIKPAPAN –  Perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, Astra Agro Lestari Tbk, berupaya meningkatkan produksi tandan buah segar (TBS) di wilayah Kalimantan Timur, menjadi 25 ton per hektare per tahun.
Perusahaan itu tercatat memiliki lebih dari 160 ribu hektare kebun yang tersebar di empat wilayah.
Community Development Area Borneo 2, Aris Setiawan, mengatakan target peningkatan produksi tersebut dilakukan dengan cara memaksimalkan pengelolaan lahan yang dimiliki.
“Moratorium (penambahan lahan) masih diberlakukan, sehingga kami hanya bisa memaksimalkan lahan yang ada,” kata Aris Setiawan, Senin (28/5/2018).
Community Development Area Borneo 2, Aris Setiawan. –Foto: Ferry Cahyanti
Menurutnya, strategi yang dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah dengan cara memperbanyak kemitraan dan pengembangan kebun plasma, menggunakan bibit baru yang lebih baik, serta penggunaan pupuk yang lebih baik pula.
Sedangkan program lain yang sudah berjalan, seperti mekanisasi dan otomasi, penelitian untuk pengembangan benih unggul, peremajaan tanaman (replanting) serta melanjutkan operasi industri hilir terus dilanjutkan.
“Astra Agro juga terus berinovasi melalui berbagai strategi yang inovatif lainnya, seperti pengembangan kerja sama dengan kebun masyarakat sekitar dan meningkatkan volume penjualan melalui pembelian CPO eksternal,” ujarnya.
Dari 360.000 hektare lahan perkebunan kelapa sawit yang dikuasai Astra Agro Lestari, 160.000 hektare atau 50 persennya berada di wilayah Kalimantan. Sisanya berada di Sumatera dan Sulawesi.
Di Kalimantan, perkebunan Astra terbagi menjadi empat wilayah. Wilayah Borneo 1 (B1) di Kalimantan Tengah seluas 80 hektare, Borneo 2  yang mencakup Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser seluas 20 ribu hektare.
Kemudian wilayah Borneo 3 di Kaltim dan Kaltara sekitar 30.000 hektare dan wilayah Borneo 4 di Kalimantan Selatan ada 30.000 hektare.
“Kaltim sangat potensial untuk kelapa sawit. Karena itu, kami punya dua anak usaha di Tanah Grogot, dua anak usaha di Penajam Paser Utara, dan 10 perusahaan di Kutai Timur,” imbuh Aris Setiawan.
Dengan tersedianya lahan yang sangat luas, sambungnya, Kalimantan sebenarnya bisa menjadi lumbung sawit. Namun, moratorium yang disebabkan kampanye hitam negara-negara Eropa, menyebabkan produksi sawit Indonesia kurang maksimal.
Diakui Aris Setiawan, kampanye hitam terhadap sawit Indonesia di luar negeri selain merugikan, juga berdampak terhadap karir pekerja. “Karir karyawan terhambat, karena jenjangnya stagnan. Jika perusahaan bisa berkembang, secara langsung karir karyawan juga ikut naik,” katanya.
Di sisi lain, tingginya upah pekerja juga berpengaruh terhadap kondisi perusahaan. “Setiap tahun cost produksi, naik. Menyesuaikan dengan UMK yang mengalami kenaikan. Sementara harga CPO relatif stagnan,” jelasnya.
Untuk menyiasati larangan membuka lahan baru, perusahaan melakukan pengembangan dengan cara take over perusahaan lain. “Sudah ada perusahaan perkebunan sawit kita beli,” ungkapnya.
Tahun lalu, Astra Agro Lestari mampu meningkatkan produksi tandan buah segar  (TBS) maupun minyak sawit mentah (CPO). Produksi CPO yang dihasilkan naik dari 1,544 juta ton pada 2016 menjadi 1,634 juta ton pada 2017.
Peningkatan produksi CPO disebabkan oleh peningkatan produktivitas kebun inti maupun kebun plasma, termasuk salah satunya produksi dari petani mitra. Kondisi ini didukung pula oleh faktor cuaca yang kondusif.
Baca Juga
Lihat juga...