Bangun Infrastruktur Kelistrikan Daerah Terpencil Butuh Dukungan Stakeholders

Editor: Koko Triarko

246

BALIKPAPAN — Pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T), diperlukan dukungan sejumlah stakeholders, guna memudahkan investasi kelistrikan dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur. 

General Manager PLN Wilayah Kaltimra, Riza Novianto Gustam, menuturkan, dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga listrik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, PLN membutuhkan dukungan dari seluruh stakeholders.

Untuk proyek 35.000 MW, Kaltim dan Kaltara bertanggung jawab atas proyek sebesar 790 MW”, tegas Riza, saat temu stakeholders bertema “Peran PLN dalam Mendukung Kemudahan Berinvestasi dan Melistriki Daerah 3T, Senin (14/5/2018).

Menurut Riza, proyek pengembangan infrastruktur tenaga listrik yang saat ini tengah berjalan sesuai RUPTL 2018-2022, tidak akan berjalan dengan lancar tanpa dukungan dari pemerintah, aparatur negara dan stakeholders lainnya.

“Saat ini kami sedang menyelesaikan proyek interkoneksi antara Sistem Mahakam di Kaltim dengan Sistem Barito di Kalsel, yang rencananya bulan Mei ini sudah mulai menyambung. Kami targetkan pada 2020, Kaltim, Kaltara, dan Kalsel sudah sepenuhnya dalam sistem interkoneksi. Jika ini berjalan, dipastikan listrik andal dan lebih siap mendukung pertumbuhan ekonomi dari Kaltim hingga Kaltara,” kata Riza.

Peserta Multi Stakeholders Forum bertema Peran PLN dalam Mendukung Kemudahan Berinvestasi dan Melistriki Daerah 3T. -Foto: Ist.

Riza menjelaskan, cadangan daya sebesar 200 MW pada Sistem Mahakam, menunjukkan kesiapan PLN dalam mendukung industri dan kemudahan berinvestasi. Selain pemasaran agresif, PLN juga siap untuk melistriki kawasan industri, baik di Kaltim maupun Kaltara.

“Kami ingin menghidupkan kawasan industri. Kenyataan di lapangan saat ini ada satu kawasan industri yang listriknya belum siap. Karena alasan regulasi, PLN belum dapat masuk ke sana. Inilah yang menjadi perhatian dan kami mohon dukungan dari pemerintah daerah untuk menjembatani kemudahan masuk ke dalam kawasan industri ini,” sambungnya.

Menyoal rasio elektrifikasi (RE), Riza mengatakan, bahwa RE di Kaltim dan Kaltara saat ini sebesar 92,17 persen. Pada 2018 ini target RE mencapai 93,92 persen, dan pada 2020 RE ditargetkan mencapai 100 persen.

Sementara terkait upaya melistriki daerah 3T, PLN menyatakan, bahwa saat ini 100 persen desa di Kaltim dan Kaltara sudah berlistrik.

“Desa berlistrik terdiri dari PLN dan nonPLN. Tentunya ini masih merupakan tanggung jawab kami untuk memperluas jaringan pada desa-desa yang belum tersentuh PLN. Utamanya pada desa yang saat ini listriknya masih belum beroperasi 24 jam, akan menjadi perhatian khusus dari kami,” lanjut Riza.

Dalam upaya menerangi lokasi 3T, kata Riza, tentu perjuangan PLN tidak mudah. Medan jalan yang berat dan kendala akses transportasi seperti jalanan ambles, becek, hingga menyeberangi sungai yang berjeram adalah tantangan yang sehari-hari dihadapi tim PLN di lapangan.

Guna mengatasi kesulitan tersebut, Riza mengatakan, bahwa saat ini pihaknya tengah merancang untuk memanfaatkan kearifan lokal yang dapat membantu mempercepat kehadiran listrik di daerah 3T. Salah satunya dengan membangun sistem kelistrikan lokal di sana dengan menggunakan solarcell, PLTS, atau komponen-komponen lainnya yang mendukung energi baru terbarukan.

“Akan kita upayakan langkah-langkah itu untuk memenuhi kebutuhan listrik di lokasi yang sulit terjangkau. Upaya ini tentunya untuk mewujudkan pemerataan dan listrik yang berkeadilan, bahwa seluruh warga harus mendapatkan listrik secara layak. Untuk itu, kami butuh dukungan dari Pemda dan TNI serta Polri, sebab kami tahu bahwa stakeholders memiliki kekuatan dan kemampuan untuk sama-sama bersinergi mengatasi tantangan-tantangan ini,” kata Riza.

Pada kesempatan itu, Asisten II Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Ichwansyah, yang hadir membuka acara, mengatakan infrastruktur kelistrikan memiliki peran yang sangat penting terhadap kelancaran kegiatan penunjang mobilitas masyarakat dan distribusi komoditi ekonomi. Untuk itu, pihaknya menyambut baik tekad PLN untuk melistriki daerah 3T, seperti yang diusung dalam tema MSF 2018 ini.

“Sudah pasti tekad PLN untuk melistriki daerah 3T akan mendukung kemudahan berinvestasi di Kaltim. Beberapa waktu yang lalu saya sempat ke Maratua. Di sana sudah mulai tumbuh bisnis perhotelan, villa dan restoran. Di daerah perbatasan seperti Mahakam Ulu sudah ada rumah sakit dan puskesmas yang membutuhkan ketersediaan listrik. Saya pikir sangat tepat, jika PLN dapat memperkuat ketersediaan listrik di pulau-pulau terluar dan potensial untuk pengembangan industri di sana,” terang Ichwansyah.

Pakar Ekonomi Nasional yang hadir pada acara ini, Achmad Akbar Susamto, mengatakan pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan akan tenaga listrik merupakan hal yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Pada kondisi yang ideal, pertumbuhan listrik dan pertumbuhan ekonomi seharusnya berada pada level yang seimbang. Pada Triwulan I 2018, ekonomi di Kalimantan Timur tumbuh 1,77 persen. Angka ini masih berpotensi untuk meningkat hingga 0,7 persen, dengan bertambahnya suplai listrik yang ada saat ini.

Baca Juga
Lihat juga...